Diet Rendah Purin

Purin (PYUR-eenz) yang ditemukan dalam banyak makanan, terutama daging anggota badan, ikan teri, mackerel, dan sarden. Purin membuat 15 persen dari asam urat yang ditemukan dalam tubuh.

Terlalu banyak asam urat dapat menyebabkan masalah, termasuk batu ginjal dan asam urat. Untuk alasan ini, diet rendah purin dianjurkan bagi orang yang memiliki batu ginjal, asam urat, dan kadang-kadang untuk orang-orang yang telah memiliki transplantasi organ.

Diet tersebut sering digunakan dengan obat-obatan untuk menurunkan kadar asam urat.Beberapa orang dapat menurunkan kadar asam urat mereka melalui diet saja.

Tidak semua orang perlu mengikuti diet ketat untuk mengobati asam urat, tapi menghindari makanan yang tinggi purin dapat membantu. Periksa dengan dokter atau ahli gizi untuk mengetahui apakah Anda harus mengikuti diet ini.

Poin Penting yang perlu diingat

  • Hindari makanan tinggi purin.Lihat daftar terlampir.
  • Jauhi alkohol. Alkohol meningkatkan produksi purin, yang mengarah ke tingkat asam urat tinggi dalam darah dan air seni. Alkohol diharamkan dalam Islam.
  • Batasi daging untuk 3 ons per makanan.
  • Batasi makanan tinggi lemak seperti saus salad, es krim, makanan yang digoreng, gulai/semur, dan saus.Lemak diikat dalam asam urat dalam
  • Makan cukup karbohidrat.Mereka membantu tubuh Anda menyingkirkan asam urat ekstra.
  • Jika Anda kelebihan berat badan, menurunkan berat badan secara bertahap.penurunan berat badan yang cepat dapat meningkatkan kadar asam urat.
  • Minum 8 sampai 12 gelas cairan setiap hari untuk membantu mengurangi pembentukan batu ginjal.
  • Jangan mengambil ragi roti atau ragi bir sebagai suplemen.

Diet rendah purin

Roti, sereal, nasi, dan Pasta

 

Makanan yang boleh dipilih

 

Makanan yang perlu dihindari

 

·          6-11 porsi setiap hari

·          Ukuran penyajian = 1 iris roti, 1 gelas sereal siap -makan, 1/2 cangkir sereal masak, nasi atau pasta

·          Semua roti yang diperkaya, sereal, nasi, mie, pasta, dan kentang

·          Batasi 2 porsi per minggu: roti gandum dan sereal, gandum, dedak dan oatmeal

·          Batasi roti tinggi lemak seperti pancake, roti panggang Perancis, biskuit, muffin, dan kentang goreng

 

 

Buah

 

Makanan yang boleh dipilih

 

Makanan yang perlu dihindari

 

·          2-4 porsi setiap hari

·          Ukuran penyajian = sepotong buah segar ukuran sedang, 1/2 cangkir buah kaleng, jus buah 3/4 cangkir jus buah

·          Semua buah dan jus ·          Batasi alpukat (lemaknya tinggi)

 

Susu dan Produk Susu Makanan yang boleh dipilih

 

Makanan yang perlu dihindari

 

·          2 porsi setiap hari

·          Ukuran penyajian = cangkir susu atau yogurt

·          Skim atau susu rendah lemak

·          yogurt rendah lemak

·          Seluruh susu, krim, dan krim asam

 

Sayuran Makanan yang boleh dipilih

 

Makanan yang perlu dihindari

 

·          3 porsi setiap hari

·          Ukuran penyajian = 1 cangkir mentah, 1/2 cangkir dimasak atau dipotong-potong

·          Semua

·          Batasi 2 porsi per minggu: jamur, kacang polong kering dan kacang-kacangan, bayam, asparagus, kembang kol

·          Batasi memasak dengan lemak tinggi, termasuk au gratin, makanan yang digoreng, dan saus krim

 

Daging, unggas, ikan, kacang kering, kacang polong, telur, dan keju Makanan yang boleh dipilih

 

Makanan yang perlu dihindari

 

·          Sebanyak 6 ons setiap hari

·          Ukuran penyajian = 2-3 ons dimasak (hitung 1 telur, 1/2 cangkir kacang masak, 2 sendok makan selai kacang, atau 1 ons keju sebagai 1 ons daging).

·          Daging sapi, domba, sapi,  unggas, ikan, telur, selai kacang, kacang-kacangan, dan rendah lemak keju

·          Batasi untuk 2 porsi per minggu: kacang polong kering dan kacang-kacangan

·          Roti manis, teri, sarden, hati, ginjal, otak, ekstrak daging, ikan herring, mackerel, kerang, gulai/semur, angsa, hati, daging cincang, dan kerang
Lemak, bumbu, dan Minuman Makanan yang boleh dipilih

 

Makanan yang perlu dihindari

 

  ·          Garam, bumbu, rempah-rempah, dan bumbu

·          minuman berkarbonasi, kopi, kakao, dan teh

·          Makanan yang dibuat dengan susu rendah lemak dan kaldu berbasis sayuran

·          Batasi untuk 3 sendok teh setiap hari: mentega, margarin, minyak dan mayones

·          Gulai/semur daging, ragi roti dan ragi bir, alkohol, dan sup daging berkaldu

 

 

 

Makanan ringan, permen, dan Desserts Makanan yang boleh dipilih

 

Makanan yang perlu dihindari

 

  ·          Gelatin yang halal, es susu, wafer vanili, cake telur

·          yoghurt beku Rendah lemak

·          desserts lemak tinggi seperti es krim, kukis, kue, pie, donat, dan cokelat

·          pie daging cincang

contoh menu

Sarapan ·          jus jeruk 1/2 cangkir

·          1/2 cangkir cereal

·          Buah berry

·          roti tawar putih dengan jeli dan 1 sendok teh margarin

·          1 cangkir susu 2 persen

·          Kopi

 

Makan siang ·          Burger (3 ons) pada roti

·          Kentang panggang dengan 1 sendok teh margarin

·          salad buah 1 cangkir

·          susu 2 persen

 

Makan malam ·          salad campur dengan saus bebas lemak

·          1/2 cangkir dada ayam (3 ons) tanpa kulit

·          beras 1/2 cangkir

·          1/2 cangkir brokoli

·          Roti dengan 1 sendok teh margarin

·          1/2 cangkir serbat

·          Es teh

 

 

Kiat-kiat agar dikaruniai anak shalih

  1. Siapkan ilmu dan amal sebelum menikah. QS. 66:6. Untuk menjaga dari neraka, perlu ilmu dan amal.
  2. Pilih pasangan yang shalih/shalihah. Pernikahan laksana bercocok tanam. QS: 7:58, 24:26.
  3. Berdoa kepada Allah agar dikaruniai anak shalih. QS 16:72, 2:187, 37:100, 3:38, 21:89, 71:10-12.
  4. Berdoa sebelum senggama agar anak lahir terhindar dari setan. QS. 7:89.

    ( بسم الله اللهم جنبنا الشيطان وجنب الشيطان ما رزقتنا )

    “Bismillah (dengan nama Alah), Ya Allah jauhkanlah kami dari syetan dan jauhkan syetan dari apa yang engkau rizqikan kepada kami (anak).”

  5. Berdoa dan membentengi anak dari setan saat anak lahir. QS. 3:36.
  6. Rutin membaca Al-Baqarah dirumah agar setan tidak masuk.
  7. Beri nama yang baik
  8. Mentahnik, mengunyah kurma, kemudian dimasukkan ke mulut bayi dan menggosok-gosokkannya ke langit-langit mulutnya.
  9. Ibu menyusui bayinya. Jangan disusukan wanita yang kafir, durhaka, dan tidak mengerti. QS. 2: 233.
  10. Aqiqah bila mampu.
  11. Khitan.
  12. Ajarkan aqidah yang benar. QS. 31:13.
  13. Ajarkan Sunnah Nabi Salallahu alaihi wasallam, hindarkan dari bid’ah. QS. 59:7.
  14. Tumbuhkan kecintaan kepada Allah, Yang menciptakan, memberi rezeki, makan, minum, pakaian, mengampuni, Yang menjadikan seseorang cinta kepada keimanan, Yang menjadikannya sebagai anak muslim yang shalih, dan nikmat lainnya. QS: 165.
  15. Ajarkan mengenal dan mencintai Nabi Salallahu alaihi wasallam, kepribadian dan sifat-sifat beliau yang mulia. QS. 33:21, 68:4, 3:31.
  16. Ajarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan apa yang dipahami dan diamalkan sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan ulama setelahnya yang mengikuti mereka dengan baik. QS: 4:115.
  17. Biasakan memakai pakaian syar’i yang menutup aurat sejak dini, jangan pakaian tipis dam tidak menutupi aurat. QS. 33:59.
  18. Perintahkan shalat di awal waktu. Ajak anak laki-laki selalu berjama’ah di masjid. QS: 20:132, 19:55. 31:17.
  19. Pisahkan tempat tidur anak laki-laki dan perempuan.
  20. Buat suasana agar anak-anak cinta dan senang dengan Al-Qur’an.
  21. Ajarkan cara beribadah yang benar seperti wudhu, shalat, puasa, dzikir san lain-lain.
  22. Didik, latih, arahkan, dan biasakan anak senantiasa berdzikir, selalu merasa diawasi Allah, selalu tumbuh rasa takut kepada Allah, sehingga menenangkan jiwa dan menghalau godaan iblis. QS: 57:4, 50:16-18.
  23. Ajarkan kewajiban menuntut ilmu. QS: 39:9, 58:11, 17:26, 16:43.
  24. Biasakan anak-anak membaca doa sehari-hari, adab dan sunnahnya, ajarkan berakhlaq mulia sejak dini.
  25. Ajarkan meminta izin bila ingin masuk ke kamar tidur orang tua pada waktu sebelum shubuh, di tengah hari dan setelah isya. QS: 24:58-59.
  26. Ajarkan agar tidak masuk ke rumah orang lain sebelum minta izin dan meberi salam. QS: 24:27-29.
  27. Sekolahkan di sekolah/lembaga pendidikan Islam yang sesuai sunnah dengan guru yang shalih.
  28. Berkomunikasi dengan sekolah dan bekerjasama dengan guru agar mereka menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan anak yang shalih dan menanyakan kepada anak-anak sejauh mana meeka memahami dan mengamalkannya.
  29. Usahakan pembantu rumah tangga yang shalihah dan sopir yang baik agama dan akhlaknya. QS. 16:71.
  30. Jangan menyerahkan pendidikan anak kepada pembantu atau pengasuh atau orang lain yang tidak islami dan jauh dari ajaran Islam.
  31. Banyak menangis dalam doa untuk anak, terutama pada 1/3 malam terakhir, agar dikaruniai keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah, dan anak-anak shalih. QS. 46:15, 14:40, 52:21, 13:23.
  32. Minta kepada orang-orang shalih yang masih hidup (bukan yang sudah mati), yang benar aqidah, ibadah dan manhajnya untuk mendoakan anak-anak. Undang mereka ke rumah dan mendekatkan keluarga kepadanya. QS. 9:119.
  33. Nasihati dengan kelembutan dan sekali-kali dengan ketegasan dalam rangka mendidik. QS. 3:159.
  34. Berbicara dengan bahasa perasaan yang menyentuh, dengan halus dan lembut, seperti: “Ayah sangat menyayangimu, mengkhawatirkanmu terkena adzab Neraka, kamu tidak akan menemukan orang yang menasihatimu seperti ayah, kamu adalah belahan jiwa ayah, kamu adalah darah daging ayah, ayah tidak akan membiarkanmu disiksa di Neraka, ayah menginginkanmu di Surga bersama ayah, insya Allah, dan ayah tidak akan membiarkanmu selamanya menjadi bahan bakar Neraka Jahannam”. Nasihati sebagaimana QS. 31:33
  35. Biarkan anak melihat air mata orang tua saat mengigatkan panasnya Neraka dan pedihnya siksa Allah dan mengajak selalu berbuat baik dan menetapi jalan menuju Surga. QS. 52:26-28.
  36. Nasihati dengan rahasia (berdua), tidak di depan orang lain serta pilih waktu yang tepat.
  37. Jika anak itu kafir, kuatkan kesabaran dalam memohon hidayah kepada Allah untuk anak. Tetapi tidak boleh memintakan ampunan dan rahmat untuk anak yang masih kafir. Qs. 9:113, 2:153, 28:56.
  38. Sering ajak ke majlis taklim yang sesuai sunnah.
  39. Sering berkomunikasi dan berdiskusi dengan anak tentang permasalahan mereka.
  40. Pantau perkembangan keimanan, pendidikan, kesehatan  anak, dan lain-lain.
  41. Sering-seringlah anak melihat amal shalih anak shalih yang lain, atau baca buku kisah anak atau orang yang berbakti kepada orang tua. QS. 19:14, 71:28, 11:120.
  42. Carikan teman yang shalih, jauhkan dari pergaulan yang buruk, sibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat. QS. 4:69, 18:28, 25:28-29, 43:67.
  43. Sering ingatkan kenikmatan Surga dan kengerian Neraka. QS. 32:17, 43:71.
  44. Ingatkan dahsyatnya kematian dan tumbuhkan rasa takut terhadap su’ul khatimah (kesudahan yang buruk), serta tumbuhkan harapan akan khusnul khatimah (kesudahan yang baik), dan tanamkan keyakinan adanya kehidupan setelah mati.
  45. Biasakan ziarah kubur atau menghadiri shalat jenazah dan penguburannya.
  46. Biasakan mendatangi tempat yang bisa membuat hati peka, mudah tersentuh, seperti mengunjungi orang sakit, yang tertimpa musibah, miskin, dan lain-lain.
  47. Biasakan mengunjungi toko buku yang sesuai syaria’at atau pameran buku Islam.
  48. Biasakan berekreasi ke tempat yang menambah iman, ilmu dan pengalaman, atau melatih ketrampilan, keberanian dan kecerdasan.
  49. Biasakan bersilaturahim ke sanak famili dan kerabat terdekat.
  50. Ingatkan hakikat dunia yang fana serta kekal abadinya akhirat. QS 40:39, 28:77.
  51. Tidak segera memberi hukuman tapi ditanya terlebih dahulu apa penyebabnya dan berikan solusinya. QS. 64:14.
  52. Beri hukuman mendidik jika anak membuat pelanggaran atau kesalahan.
  53. Jangan mengancam dengan hukuman yang sifatnya hanya menakut-nakuti tanpa dilaksanakan dan tidak mungkin dilaksanakan.
  54. Jangan menghukum secara kolektif kepada seluruh anak karena kesalahan 1 orang anak
  55. Jangan menghukum anak jika terjadi pertengkaran diantara kedua orang tua
  56. Ajarkan selalu meminta maaf jika ada perkataan atau perbuatan salah dan beri kesempatan memperbaikinya.
  57. Berikan tugas-tugas rumah dan lain-lain agar terlatih dan mandiri, bertanggung-jawab dan selalu mencari solusi yang tepat bagi masalah yang dihadapi.
  58. Jangan manjakan dan mengasihi secara berlebihan dan menuruti semua kemauannya.
  59. Sekali-kali beri hadiah jika anak ta’at atau iming-imingi dengan hadiah jika mau melaksanakan kebaikan syari’at.
  60. Raih “cinta dari anak”
  61. Sediakan perpustakaan untuk menambah iman dan ilmu di rumah.
  62. Jangan membedakan 1 anak dengan anak lainnya dalam pemberian hadiah, hibah, perhatian, dan lain-lain dan bersikaplah adil. QS. 42:49-50.
  63. Ajarkan saling menolong dalam kebaikan dan kebenaran dengan jiwa pengorbanan agar timbul kebersamaan dan senasib sepenanggungan. QS. 5:2.
  64. Beri keteladanan berkata dan beramal kebaikan dan menjauhi larangan. QS. 61:2.
  65. Selalu memberi nafkah seperti makanan, minuman dan kebutuhan lainnya dari yang halal dan baik. QS. 4:9)
  66. Tidak membicarakan aib atau kesalahan anak kepada orang lain.
  67. Tidak menyepelekan, meremehkan maksiat dan kesalahan kecil tanpa memberi nasihat dan pengarahan.
  68. Banyak baca buku pendidikan anak yang sesuai sunnah.
  69. Jangan membebani dengan target atau sesuatu yang tidak mampu mereka lakukan. QS. 2: 286.
  70. Ketahui dan fahami karakter, watak dan sifat setiap anak. Jangan menuntut agar anak bersikap seperti layaknya orang dewasa.
  71. Pindah ke rumah lain jika terdapat lingkungan atau pergaulan yang buruk.
  72. Tidak menyediakan sarana atau fasilitas yang bisa menjatuhkan dalam kemaksiatan. Jauhkan dari melihat dan mendatangi sesuatu yang dapat dendatangkan dosa dan keburukan.
  73. Jika mampu ajak berhaji atau umrah.
  74. Sering-sering mengingatkan, menceritakan pahala yang akan diraih jika ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya. QS. 33:70-71, 4:14, 32:20.
  75. Ajarkan dan memotivasi agar berbakti kepada orang tua selama masih hidup. QS. 31:14, 17:24.
  76. Ajarkan apa saja yang harus dijauhi agar tidak durhaka kepada orang tua selama masih hidup. QS. 17:23.
  77. Ajarkan apa saja yang bisa dilakukan agar berbakti sesudah orang tua meninggal.
  78. Sering mengingatkan dan menceritakan pahala yang akan diraih jika berbakti kepada orang tua.
  79. Sering mengingatkan dan menceritakan ancaman atau akibat yang akan diterima jika durhaka kepada orang tua.
  80. Sekali-kali berikan pujian jika anak memiliki keutamaan yang baik, akhlaknya, kesungguhannya, dan lain-lain.
  81. Bermusyawarah dengan ulama, da’i, atau pendidik yang berpengalaman dalam pendidikan, kondisi, permasalahan dan pola pikir anak.
  82. Melarang anak perempuan menyerupai anak laki-laki dan anak laki-laki menyerupai anak perempuan.
  83. Melarang menyerupai orang kafir, munafik dan durhaka. Tidak memasukkan orang yang tidak diridhai, buruk akhlak, ke dalam rumah.
  84. Usahakan anak laki-laki tidak bercampur-baur di tengah komunitas anak perempuan dan anak perempuan di tengah komunitas anak laki-laki, apalagi yang bukan mahram, terlebih ketika mulai usia baligh.
  85. Orang tua searah dan sejalan dalam mendidik dan membimbing.
  86. Tidak memperlihatkan adanya pertengkaran diantara orang tua dihadapan anak.
  87. Tidak bersumpah atau berkata dengan mendoakan keburukan.
  88. Ajarkan bahasa arab. QS. 12:2, 13:37
  89. Ajarkan halal haram dan syubhat.
  90. Ajarkan bersikap benar dan tegar mendapat musibah.
  91. Jelaskan untuk menarik perhatian anak, nikmat-nikmat Allah. QS. 16:53, 14:24. 49:17. 16:83, 55:51.
  92. Minta anak tertua berperan dan mendorong adik-adiknya berbuat baik.
  93. Menasihati dan mengajari saat berjalan bersama.
  94. Hidupkan majelis ilmu dalam keluarga.
  95. Memberikan informasi dan pemahaman yang shahih tentang perubahan jasmani dan kejiwaan saat beranjak baligh dengan penerangan yang islami dan mendidik.
  96. Nikahkan setelah dewasa.
  97. Sekali-kali kunjungi rumah anak setelah menikah untuk melihat keimanan, kesehatan dan kebutuhan lainnya. QS. 66:6.
  98. Jadilah orang tua yang shalih, selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya. QS. 18:82, 52:21, 13:23.
  99. Suami istri berbakti kepada orang tuanya.
  100. Membuat perencanaan dan evaluasi apa yang telah dilakukan kepada anak pada waktu yang lalu. QS. 59:18.
  101. Ikhlas dalam mendidik, istiqamah menerapkan peraturan dan terus mengamalkan kiat-kiat diatas. QS. 3:185, 39:15-16, 29:69.

Membaca Al-Qur’an, bersama malaikat

Pelajari Al-Qur’an sampai mahir agar kedudukan kita di akhirat bersama para malaikat yang mulia lagi baik.

Saat mempelajarinya, akan diberikan dua pahala. Membaca Al-Qur’an berpahala, mempelajarinya juga berpahala.

Dari ‘Aisyah radhiallahu anha dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:


الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

“Orang yang mahir membaca Al-Qur`an, maka kedudukannya di akhirat bersama para malaikat yang mulia lagi baik. Sementara orang yang membaca Al-Qur`an dengan tertatah-tatah dan dia sulit dalam membacanya, maka dia mendapatkan dua pahala.” (HR. Muslim no. 798)

Kesalahan dalam membaca Al-Qur’an karena tidak mau mempelajarinya, menyebabkan dosa. Kesalahan membaca bahkan dapat mengubah arti.

Dan karena sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Bacalah Al-Qur’an karena sesungguhnya dia datang memberi syafa’at bagi pembacanya di hari Kiamat” [1]

Seharusnya seorang muslim itu menjauhi dari meninggalkannya dan dari memutuskan hubungan dengannya, walau dengan cara apapun bentuk meninggalkan itu yang telah disebutkan oleh para ulama dalam menafsirkan makna hajrul Qur’an. Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata di dalam Tafsinya (Tafsir Ibnu Katsir 6/117) : Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman memberi khabar tentang Rasul dan NabiNya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau berkata.

“Artinya : Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang tidak diacuhkan” [Al-Furqan : 30]

Itu karena orang-orang musyrik tidak mau diam memperhatikan dan mendengarkan Al-Qur’an sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Dan orang-orang yang kafir berkata,’Janganlah kamu mendengarkan Al-Qur’an dengan sungguh-sungguh dan buatlah hiruk pikuk terhadapnya” [Fushishilat : 26]

_________
Foote Note
[1]. Dikeluarkan oleh Muslim no. 804, dalam Shalat Al-Musafirin wa Qashruhu, bab II dari hadits Abu Umamah Al-Bahili Radhiyallahu ‘anhu

 

Bidadara Surga

Adapun para wanita dunia…apakah mereka jika masuk surga akan mendapatkan bidadara sebagaimana para lelaki surga mendapatkan para bidadari??

Berikut beberapa perkara yang berkaitan dengan pertanyaan di atas:

Pertama : Jika para wanita dunia beriman dan beramal sholeh maka mereka juga akan mendapatkan kenikmatan para bidadara sebagaimana ditunjukan oleh keumuman ayat-ayat yang menegaskan bahwasanya bagi para penduduk surga segala apa yang mereka inginkan dan hasratkan.

Seperti firman Allah :

جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ لَهُمْ فِيهَا مَا يَشَاءُونَ كَذَلِكَ يَجْزِي اللَّهُ الْمُتَّقِينَ (٣١)

“(yaitu) syurga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi Balasan kepada orang-orang yang bertakwa” (QS An-Nahl : 31)

لَهُمْ فِيهَا مَا يَشَاءُونَ خَالِدِينَ كَانَ عَلَى رَبِّكَ وَعْدًا مَسْئُولا (١٦)

“Bagi mereka di dalam surga itu apa yang mereka kehendaki, sedang mereka kekal (di dalamnya). (hal itu) adalah janji dari Tuhanmu yang patut dimohonkan (kepada-Nya)” (QS Al-Furqoon : 16)

لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ عِنْدَ رَبِّهِمْ ذَلِكَ جَزَاءُ الْمُحْسِنِينَ (٣٤)

“Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Tuhan mereka. Demikianlah Balasan orang-orang yang berbuat baik” (QS Az-Zumar : 34)

لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ (٣٥)

“Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya” (QS Qoof : 35)

نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ (٣١)

“Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta” (QS Fushshilat : 31)

Dan diantara perkara yang sangat dihasratkan oleh manusia adalah kenikmatan berjimak. Dan kenikmatan surga bukanlah diciptakan dan disediakan oleh Allah hanya untuk para lelaki saja akan tetapi kepada seluruh orang-orang yang bertakwa baik dari kalangan lelaki maupun wanita. Allah berfirman

وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ

Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga.(QS An-Nisaa :124)

وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ يُرْزَقُونَ فِيهَا بِغَيْرِ حِسَابٍ

Dan Barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam Keadaan beriman, Maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab. (QS Ghoofir : 40)

Yang dimaksud dengan bidadara adalah dari kalangan lelaki dunia yang masuk surga (lihat Majmu’ Fatawa Syaikh al-‘Utsaimin 2/53). Dan tentunya seorang lelaki yang masuk surga akan dimodifikasi tubuh dan parasnya oleh Allah menjadi tampan dan elok sebagai bidadara (sebagaimana akan datang penjelasannya)

Kedua : Para ulama menjelaskan bahwa ada beberapa sebab kenapa sama sekali tidak disebutkan tentang bidadara bagi para wanita, diantaranya:

–           Karena para wanita asalnya merekalah yang dicari dan dikejar-kejar, bukan sebaliknya. (lihat Majmu’ Fatawaa Syaikh al-‘Utsaimin 2/53) Jadi merupakan perkara yang kurang etis jika dikesankan bahwasanya para wanita mengejar-ngejar para bidadara.

–           Dalam dalil-dalil disebutkan tentang keindahan tubuh para bidadari dengan agak detail, tentunya hal ini sangatlah kurang pas jika disebutkan tentang body atau keindahan tubuh para bidadara dihadapan para wanita, karena asalnya para wanita memiliki sifat malu yang sangat tinggi… malu untuk membaca atau mendengar, apalagi membicarakan keindahan tubuh para bidadara

Ketiga : Yang perlu diingat bahwasanya kenikmatan di surga sangatlah banyak dan tidak terbayangkan. Kenikmatan di surga bukanlah hanya kenikmatan jimak saja, akan tetapi masih terlalu banyak kenikmatan yang lain yang banyak dan bervariasi

Keempat : Para ulama juga menyebutkan bahwsanya para wanita dunia jika beriman dan beramal sholeh hingga masuk surga maka mereka akan lebih mulia dan lebih cantik dari para bidadari surga.

Hal ini dikarenakan karena para wanita dunia telah menjalankan kewajiban-kewajiban yang Allah wajibkan kepada mereka, mereka menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya dengan penuh kesabaran tatkala di dunia. Hal ini berbeda dengan para bidadari surga yang langsung diciptakan dewasa dan tanpa pembebanan tugas dari Allah, mereka diciptakan untuk disediakan bagi para lelaki penghuni surga. Ada beberapa hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan akan hal ini akan tetapi hadits-hadits tersebut lemah.

Diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah radhiallahu ‘anhaa bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

بَلْ نِسَاءُ الدُّنْيَا أَفْضَلُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ

“Bahkan wanita dunia lebih afdol dari pada para bidadari” (HR At-Thobrooni dalam Al-Mu’jam Al-Kabiir no 780. Hadits ini dilemahkan oleh Al-Haitsami dalam Majma’ Az-Zawaaid 7/255 dan juga Syaikh Al-Albani dalam Dho’if 2230)

Kelima : Para wanita dunia janganlah menyangka jika mereka masuk ke dalam surga lantas wajah mereka tidak berubah. Allah akan mempercantik wajah-wajah mereka dengan secantik-cantiknya sebagaimana telah dijelaskan dalam hadits-hadits yang shahih bahwasanya tubuh para penghuni surga dimodifikasi oleh Allah sehingga menjadi lebih besar dan lebih tampan dan cantik. (Lihat penjelasan tentang jasad tatkala kebangkitan merupakan modifikasi dari jasad yang ada di dunia di Majmuu Fataawa Ibni Taimiyyah 17/252 dan Syarh al-‘Aqidah at-Thohawiyah li Ibni Abi al-‘Iz al-Hanafi hal 277). Tubuh dan rupa para penghuni surga menjadi muda dan besar serta tingginya 60 hasta, selain itu juga tubuh mereka bersih tidak ada kotorannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

فَكُلُّ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَلَى صُوْرَةِ آدَمَ

“Semua yang masuk surga seperti bentuknya Nabi Adam” (HR Al-Bukhari no 3326)

Dalam hadits yang lain

إِنَّ أَوَّلَ زُمْرَةٍ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ عَلَى صُوْرَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ عَلَى أَشَدِّ كَوْكَبٍ دُرِّيٍّ فِي السَّمَاءِ إِضَاءَةً لاَ يَبُوْلُوْنَ وَلاَ يَتَغَوَّطُوْنَ وَلاَ يَتْفُلُوْنَ وَلاَ يَمْتَخِطُوْنَ … وَأَزْوَاجُهُمْ الْحُوْرُ الْعِيْنُ عَلَى خُلُقِ رَجُلٍ وَاحِدٍ عَلَى صُوْرَةِ أَبِيْهِمْ آدَمَ سِتُّوْنَ ذِرَاعًا فِي السَّمَاءِ

“Sesungguhnya rombangan pertama yang masuk surga seperti rembulan yang bersinar di malam purnama, kemudian rombongan berikutnya seperti bintang yang paling terang di langit, mereka tidak buang air kecil, tidak buang air besar, tidak membuang ludah, tidak beringus….istri-istri mereka adalah para bidadari, mereka semua dalam satu perangai, rupa mereka semua seperti rupa ayah mereka Nabi Adam, yang tingginya 60 hasta menjulang ke langit” (HR Al-Bukhari 3327)

Keenam : Meskipun dalam surga seorang lelaki bisa saja memiliki banyak bidadari, bahkan bisa jadi memiliki banyak istri yang dahulunya adalah istri-istrinya di dunia maka sama sekali tidak akan ada dalam hati-hati mereka rasa dengki dan rasa cemburu. Allah telah berfirman ;

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الأنْهَارُ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (٤٣)

Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki Kami kepada (surga) ini. dan Kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi Kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang Rasul-rasul Tuhan Kami, membawa kebenaran.” dan diserukan kepada mereka: “ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS Al-A’roof : 43)

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ (٤٧)

Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. (QS al-Hijr : 47)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ زَوْجَتَانِ يُرَى مُخُ سَاقِهِمَا مِنْ وَرَاءِ اللَّحْمِ مِنَ الْحَسَنِ لاَ اخْتِلاَفَ بَيْنَهُمْ وَلاَ تَبَاغُضَ قُلُوْبُهُمْ قَلْبٌ وَاحِدٌ يُسَبِّحُوْنَ اللهَ بُكْرَةً وَعَشِيًّا

“Bagi setiap penghuni surga dua orang istri, terlihat sum-sum betisnya dari balik dagingnya karena indahnya, tidak ada perselisihan diantara mereka serta tidak ada permusuhan. Hati-hati mereka hati yang satu, mereka bertasbih kepada Allah pagi  dan petang” (HR Muslim no 2834)

Oleh karenanya jelas bahwa yang berlaku di dunia tidak sama dengan yang berlaku di akhirat. Jika di dunia poligami menimbulkan kesedihan dan kecemburuan sertap permusuhan maka tidaklah demikian tatkala di akhirat. seseorang yang masuk surga tidak akan sedih dan khawatir.

Ketujuh : Seorang wanita tidak keluar dari salah satu dari kondisi-kondisi berikut ini:

Pertama : Ia meninggal sebelum menikah. Maka wanita ini bisa jadi dinikahkan dengan lelaki dunia yang masuk surga yang akan menyenangkan hatinya (lihat Majmu Fatawa Syaikh al-‘Utsaimin 2/53). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَمَا فِي الْجَنَّةِ أَعْزَبُ

“Tidak ada seorang yang membujang pun di surga” (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 1736 dan 2006)

Kedua : Ia meninggal setelah bercerai dan belum sempat menikah lagi, maka kondisi wanita ini sama dengan kondisi wanita pertama

Ketiga : Ia meninggal dalam keadaan bersuami, akan tetapi suaminya tidak masuk surga bersamanya. Kondisi wanita ini juga sama dengan kondisi wanita yang pertama dan yang kedua.

Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Seorang wanita jika masuk surga dan belum menikah atau suaminya tidak masuk surga, maka jika wanita ini masuk surga maka akan ada para lelaki dunia yang masuk surga yang belum menikah, maka bagi para lelaki tersebut para istri dari bidadari dan juga dari para wanita dunia –tentunya jika para lelaki tersebut berminat-” (Majmu’ Fatawa Syaikh al-‘Utsaimin 2/52)

Yang penting bahwasanya para wanita yang masuk surga pasti bersuami.

Keempat : Ia meninggal setelah menikah dengan suaminya. Maka di surga ia akan menjadi istri suaminya tersebut

Kelima : Suaminya lebih dahulu meninggal dan setelah itu ia tidak menikah lagi hingga meninggal dunia. Maka wanita ini juga kondisinya sama dengan wanita yang keempat, ia akan menjadi istri suaminya tersebut.

Keenam : Setelah suaminya meninggal iapun menikah lagi dengan lelaki lain, meskipun menikah berkali-kali, maka ia akan menjadi istri dari suaminya yang terakhir.

Tatkala Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu melamar Ummu Dardaa’ maka Ummu Dardaa’pun menolak lamarannya dan berkata, “Aku mendengar Abu Darda’ (suaminya yang telah meninggal-pen) berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الْمَرْأَةُ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا

“Seorang wanita bagi suaminya yang terakhir”.

Dan aku tidak ingin pengganti bagi Abu Dardaa'” (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 1281)

Hudzaifah radhiallahu ‘anhu juga pernah berkata kepada istrinya:

إِنْ شِئْتِ أَنْ تَكُوْنِي زَوْجَتِي فِي الْجَنَّةِ فَلاَ تَزَوَّجِي بَعْدِي فَإِنَّ الْمَرْأَةَ فِي الْجَنَّةِ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا فِي الدُّنْيَا فَلِذَلِكَ حَرَّمَ اللهُ عَلَى أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَنْكِحْنَ بَعْدَهُ لِأَنَّهُنَّ أَزْوَاجَهُ فِي الْجَنَّةِ

“Jika kau ingin menjadi istriku di surga maka janganlah engkau menikah lagi setelah aku meninggal, karena seorang wanita di surga akan menjadi istri bagi suaminya yang terakhir di dunia. Karenanya Allah mengharamkan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menikah lagi setelah meninggalnya Nabi, karena mereka adalah istri-istri Nabi di surga” (Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 1281)

Kedelapan : Jika perkaranya adalah sebaliknya, yaitu seorang wanita dunia bermaksiat dan membangkang kepada suaminya maka ia tentu akan kalah bersaing dengan para bidadari surga dan akan menyebabkannya terjerumus dalam neraka jahannam. Bahkan tatkala seorang wanita dunia menyakiti hati suaminya maka bidadari surga akan protes dengan perlakuannya sebagaimana dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

لاَ تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِي الدُّنْيَا ؛ إِلاَّ قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ : لاَ تُؤْذِيْهِ قَاتَلَكِ اللهُ ؛ فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكِ دَخِيْلٌ يُوْشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ إِلَيْنَا

“Tidaklah seorang wanita menyakiti suaminya di dunia kecuali istrinya di akhirat dari bidadari akan berkata, “Janganlah engka mengganggunya, semoga Allah membinasakanmu. Sesungguhnya ia hanyalah tamu di sisimu, hampir-hampir lagi ia akan meninggalkanmu menuju kami” (HR At-Thirmidzi dan Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 173)

 

Kota Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, 20-10-1433 H / 07 September 2012 M

Abu Abdilmuhsin Firanda Andirja

http://www.firanda.com

Bidadari Surga

Di antara kenikmatan surga adalah beroleh pasangan/istri berupa bidadari surga yang jelita. Al-Qur’anul Karim menggambarkan sifat dan kemolekan mereka dalam banyak ayat, di antaranya:

1. Surat an-Naba ayat 31—33
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa akan beroleh kesenangan, (yaitu) kebun-kebun, buah anggur, dan kawa’ib atraba (gadis-gadis perawan yang sebaya).” (an-Naba’: 31—33)
Ibnu Abbas, Mujahid, dan selainnya menafsirkan bahwa kawa’ib adalah nawahid, yakni buah dada bidadari-bidadari tersebut tegak, tidak terkulai jatuh, karena mereka adalah gadis-gadis perawan yang atrab, yaitu sama umurnya/sebaya. (Tafsir Ibni Katsir, 7/241)

2. Surat al-Waqi’ah ayat 35—37
“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (wanita surga) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (al-Waqi’ah: 35—37)
Wanita penduduk surga diciptakan Allah dengan penciptaan yang tidak sama dengan keadaannya ketika di dunia. Mereka diciptakan dengan bentuk dan sifat yang paling sempurna yang tidak dapat binasa. Mereka semuanya, baik bidadari surga maupun wanita penduduk dunia yang menghuni surga, dijadikan Allah sebagai gadis-gadis yang perawan selamanya dalam seluruh keadaan. Mereka senantiasa mengundang kecintaan suami mereka dengan tutur kata yang baik, bentuk dan penampilan yang indah, kecantikan paras, serta rasa cintanya kepada suami.
Apabila wanita surga ini berbicara, orang yang mendengarnya ingin andai ucapannya tidak pernah berhenti, khususnya ketika wanita surga berdendang dengan suara mereka yang lembut dan merdu menawan hati. Apabila suaminya melihat adab, sifat, dan kemanjaannya, penuhlah hati si suami dengan kegembiraan dan kebahagiaan. Apabila si wanita surga berpindah dari satu tempat ke tempat lain, penuhlah tempat tersebut dengan wangi yang semerbak dan cahaya. Saat “berhubungan” dengan suaminya, ia melakukan yang terbaik.
Usia mereka, para wanita surga ini, sebaya, 33 tahun, sebagai usia puncak/matang dan akhir usia anak muda.
Allah menciptakan mereka sebagai perempuan yang selalu gadis lagi sebaya, selalu sepakat satu dengan yang lain, tidak pernah berselisih, saling dekat, ridha dan diridhai, tidak pernah bersedih, tidak pula membuat sedih yang lain. Bahkan, mereka adalah jiwa-jiwa yang bahagia, menyejukkan mata, dan mencemerlangkan pandangan. (Lihat keterangan al-Allamah as-Sa’di rahimahullah dalam Taisir al-Karimir Rahman, hlm. 834)

3. Surat ar-Rahman ayat 55—58
“Maka nikmat Rabb kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan? Di ranjang-ranjang itu ada bidadari-bidadari yang menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin1. Maka nikmat Rabb kalian yang manakah yang kalian berdua dustakan? Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan.” (ar-Rahman: 55—58)
Mereka menundukkan pandangan dari melihat selain suami-suami mereka sehingga mereka tidak pernah melihat sesuatu yang lebih bagus daripada suami-suami mereka. Demikian yang dinyatakan oleh Ibnu Abbas radhiallahu anhu dan lainnya.
Diriwayatkan bahwa salah seorang dari mereka berkata kepada suaminya, “Demi Allah! Aku tidak pernah melihat di dalam surga ini sesuatu yang lebih bagus daripada dirimu. Tidak ada di dalam surga ini sesuatu yang lebih kucintai daripada dirimu. Segala puji bagi Allah yang Dia menjadikanmu untukku dan menjadikanku untukmu.” (Tafsir Ibni Katsir, 7/385)
Bidadari yang menjadi pasangan hamba yang beriman tersebut adalah gadis perawan yang tidak pernah digauli oleh seorang pun sebelum suami-suami mereka dari kalangan manusia dan jin. Mereka diibaratkan permata yakut yang bersih bening dan marjan yang putih karena bidadari surga memang berkulit putih yang bagus lagi bersih. (Taisir al-Karimir Rahman, hlm. 385)

4. Surat ar-Rahman ayat 70
“Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik (akhlaknya) lagi cantik-cantik parasnya.” (ar-Rahman: 70)
Terkumpullah kecantikan lahir dan batin pada bidadari atau wanita surga itu. (Taisir al-Karimir Rahman hlm. 832)

5. Surat ar-Rahman ayat 72
“(Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih, dan dipingit di dalam rumah.” (ar-Rahman: 72)
Rumah mereka dari mutiara. Mereka menyiapkan diri untuk suami mereka. Namun, bisa jadi mereka pun keluar berjalan-jalan di kebun-kebun dan taman-taman surga, sebagaimana hal ini biasa dilakukan oleh para putri raja dan yang semisalnya. (Taisir al-Karimir Rahman, hlm. 832)

6. Surat ad-Dukhan ayat 51—54
“Sesungguhnya orang-orang bertakwa berada dalam tempat yang aman, (yaitu) di dalam taman-taman dan mata air-mata air. Mereka memakai sutra yang halus dan sutra yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan, demikianlah. Dan Kami nikahkan mereka dengan bidadari-bidadari.” (ad-Dukhan: 51—54)
Wanita yang berparas jelita dengan kecantikan yang luar biasa sempurna, dengan mata-mata mereka yang jeli, lebar, dan berbinar. (Taisir al-Karimir Rahman, hlm. 775)

7. Surat ash-Shaffat ayat 48—49
“Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya (qashiratuth tharf) dan jeli matanya, seakan-akan mereka adalah telur burung unta yang tersimpan dengan baik.” (ash-Shaffat: 48—49)
Qashiratuth tharf adalah afifat, yakni wanita-wanita yang menjaga kehormatan diri. Mereka tidak memandang lelaki selain suami mereka. Demikian kata Ibnu Abbas, Mujahid, Zaid bin Aslam, Qatadah, as-Suddi, dan selainnya.
Mata mereka bagus, indah, lebar, dan berbinar-binar. Tubuh mereka bersih dan indah dengan kulit yang bagus. Ibnu Abbas radhiallahu anhu berkata, “Mereka ibarat mutiara yang tersimpan.”
Al-Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Mereka terjaga, tidak pernah disentuh oleh tangan.” (Tafsir Ibni Katsir, 7/11)
Ini menunjukkan ketampanan lelaki dan kecantikan wanita di surga. Sebagiannya mencintai yang lain dengan cinta yang membuatnya tidak memiliki hasrat kepada yang lain. Hal ini juga menunjukkan bahwa mereka seluruhnya menjaga kehormatan diri, tidak ada hasad di dalam surga, tidak ada saling benci dan permusuhan, karena tidak adanya sebab yang bisa memicu ke sana. (Taisir al-Karimir ar-Rahman, hlm. 703)
Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk beramal dengan amalan yang dapat menyampaikan kepada ridha-Nya dan memasukkan kita ke negeri kemuliaan-Nya. Amin.

Maryam: 15 & 33 – Tafsir Ibnu Katsir

15. Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.

Yaitu, ia (Nabi Yahya Alaihissalam) akan memperoleh rasa aman di 3 kondisi tersebut (lahir, mati & hari berbangkit). Sufyan bin ‘Uyainah berkata: “Alangkah mencekamnya (keadaan) seseorang yang berada di 3 kondisi tersebut pada saat ia dilahirkan, ia melihat dirinya keluar dari tempat yang selama ini dialaminya, pada saat ia mati, ia akan melihat suatu keadaan yang belum pernah dialaminya, & disaat ia dibangkitkan, ia melihat dirinya berada di padang Mahsyar yang besar (luas)”. Dia (Sufyan) pun berkata: “Allah Ta’ala telah menghormati Yahya bin Zakariya pada saat itu, lalu mengistimewakannya dengan salam sejahtera untuknya. Maka Dia berfirman: Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali. (HR Ibnu Jarir)

33. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”

Hal ini merupakan ikrar darinya (Isa bin Maryam) tentang kehambaannya kepada Allah Ta’ala dan dirinya adalah 1 ciptaan Allah yang dihidupkan, ditatikan dan dibangkitkan seperti makhluk lainnya. Akan tetapi ia memperoleh kesejahteraan disaat kondisi mencekam menyelimuti hamba-hamba lainnya. Shalawatullah wa salamu ‘alaih.

HAK-HAK PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM

Oleh
Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al-Mahdi

Hak-hak yang harus dipenuhi supaya seorang anak muslim berada pada keadaan yang cocok untuk pendidikan Islam yang benar banyak sekali, kami akan meyebutkan di antaranya.

1. Memilih calon ibu yang baik, hal ini mengamalkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Lihatlah agama calon istri supaya engkau tidak celaka” [Muttafaqun alaihi]

2. Hendaknya kedua orang tua berdo’a dan merendahkan diri kepada Allah agar berkenan memberi rezki anak yang shalih kepada keduanya.

“Artinya : Dan orang-orang yang berkata : “Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang bertakwa” [Al-Furqon : 74]

“Artinya : Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do’a” [Ali-Imran : 38]

Maka usaha apapun tanpa pertolongan Allah dan taufiq-Nya pasti akan berakhir dengan kegagalan.

Berapa banyak seorang ayah sengat menginginkan agar anaknya menjadi baik, ia sediakan hal-hal yang menunjang untuk kebahagiaan dan pendidikan anaknya, akan tetapi usahanya berakhir dengan kegagalan.

Dan berapa banyak seorang ayah memiliki anak-anak yang shalih, sedangkan ia sendiri bukan orang yang shalih.

3. Memberi Nama Baik
Salah satu hak anak yang wajib ditunaikan seorang ayah adalah memberi nama yang baik serta sesuai dengan syariat agama. Dan syariat agama Islam menganjurkan seorang muslim untuk memberi nama anak-anaknya dengan nama-nama tertentu, dan nama yang paling dicintai oleh Allah adalah : Abdullah, Abdurrahman. Dan nama yang paling benar adalah : Hammam dan Harits.

4. Salah satu hak anak yang wajib ditunaikan orang tua adalah hendaknya anak melihat dari orang tuanya dan dari masyarakatnya akhlak yang bersih, jauh dari hal yang merubah fitrah dan menghiasi kebatilan, baik akhlak yang dibenci itu berupa kekafiran atau bid’ah atau perbuatan dosa besar. Karena sesungguhnya perbuatan yang menyelisihi fitrah itu memberi pengaruh terhadap kejiwaan seorang anak dan merubah fitrah yang telah dianugrahkan kepadanya.

Karena fitrah seorang anak adalah iman kepada Allah Sang Penciptanya dan beriman terhadap seluruh keutamaan, membenci kekafiran, kedustaan dan penipuan. Dalam hatinya terdapat cahaya fitrah yang senantiasa menyuruh kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran, hanya saja wahyu Allah menambahi fitrahnya dengan cahaya diatas cahaya. Dasar landasan hal ini adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Artinya : Setiap anak dilahirkan diatas fitrahnya, ibu bapaknyalah yang menjadikan ia yahudi, nashrani atau majusi” [Muttafaqun Alaih]

5. Diantara hak-hak seorang anak yang wajib ditunaikan orang tuanya hendaknya seorang anak tumbuh bersih, suci, ikhlas dan menepati janji. Dan hendaknya dia dijauhkan dari orang-orang yang melakukan perbuatan syirik dan kesesatan, dan perbuatan bid’ah serta maksiat-maksiat, serta perbuatan-perbuatan yang memperturutkan hawa nafsu. Karena orang yang demikian itu terhadap seorang anak yang bersih dan suci hatinya serta baik jiwanya adalah ibarat teman duduk yang membawa racun yang mematikan dan penyakit kronis, dan itu semua merupakan penghancur keimanan dan perangainya yang baik.

Berapa banyak manusia rusak disebabkan bergaul dengan orang-orang yang pandir. Dan berapa banyak manusia dalam kebingungan disebabkan jauh dari orang-orang yang bijaksana dan ulama. Di dalam Al-Qur’an dan hadits telah disebutkan larangan bergaul dengan orang-orang jahat. Dan juga dari perkataan-perkataan Salafush Shalih banyak kita jumpai tentang hal itu. Kalaulah sekiranya dalam masalah ini tidak ada hadits yang menjelaskannya kecuali hadits An-Nu’man.

“Artinya : Permisalan teman duduk yang baik dan yang buruk adalah seperti pembawa minyak kasturi dan peniup api…” [Muttafaqun Alaih]

Tentulah hadits ini sudah mencukupi.

Ringkasanya adalah bahwa bahaya perangai jelek ini sangat besar, tidaklah orang-orang menjadi rusak melainkan disebabkan berteman dengan orang-orang yang jahat. Dan tidaklah orang-orang menjadi baik melainkan disebabkan oleh nasehat orang-orang yang baik. Dan dalam suatu perumpamaan dikatakan seorang teman itu akan menarik temannya (menarik kepada kebaikan atau kejahatan).

Engkau akan melihat seorang sahabat akan mengajak sahabatnya untuk nonton film, pergi ketempat-tempat minuman keras, melakukan perbuatan hina dan mengajaknya untuk menyukai gambar-gambar wanita yang terbuka auratnya serta mengajaknya untuk menyukai melihat majalah-majalah porno yang merusakkan kemuliaan akhlak dan menyebabkan penyimpangan dan kemunafikan, lalu seorang sahabat mengajak sahabatnya untuk mengikuti golongan-golongan dan pemahaman-pemahaman yang menentang dan menyimpang dari agama.

Akan tetapi seorang teman duduk yang baik memberi petunjuk kepada teman duduknya untuk menghadiri majelis-majelis ulama dan mengunjungi orang-orang yang shalih, bijaksana dan beradab. Dan dia akan mengajak temannya ke masjid serta mencintai orang-orang yang melakukan ruku’ dan sujud kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga hatinya itu menjadi cinta dan selalu terpaut dengan masjid hingga dia menjadi orang yang shalih.

Masjid adalah tempat hatinya, mushaf Al-Qur’an adalah teman yang selalu menyertainya dalam kesendiriannya, dan kitab yang berfaedah adalah teman duduknya, matanya mengucurkan air mata tatkala membaca Al-Qur’an dan dia merindukan untuk melihat Allah yang Maha Mulia dan yang Maha Memberi karunia, ia merindukan melihat Allah yang maha pemurah lagi maha penyayang, ia hidup bersama manusia dengan tubuhnya sedangkan hatinya hidup bersama bidadari di kamar-kamar surga, tidaklah dia memetik buah ini dan tidaklah ia hidup dengan hatinya ini di surga yang paling tinggi melainkan disebabkan duduk dengan orang-orang yang baik.

Dan ringkasnya adalah jika kita menjauhkan anak-anak dari teman duduk yang buruk (jahat), berarti kita telah memberikan kepada anak-anak itu salah satu dari hak-haknya yang paling besar.

6. Diantara hak-hak yang wajib ditunaikan oleh orang tua hendaknya mereka memerintahkannya untuk shalat di saat berumur 7 tahun, dan memukulnya lantarannya tidak mengerjakan shalat di saat berumur 10 tahun, serta memisahkan tempat tidur anak-anak mereka.

7. Diantara hak-hak yang wajib ditunaikan oleh orang tua adalah hendaknya mereka mengajari anak-anaknya untuk berenang, memanah dan menunggang kuda.

8. Diantara hak-hak yang wajib ditunaikan oleh orang tua hendaknya mereka membiasakannya berlaku jujur, menepati janji dan berakhlak mulia.

9. Diantara hak-hak yang wajib ditunaikan oleh orang tua hendaknya mereka mengajarinya petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam makan dengan tangan kanan disertai dengan membaca basmalah dan makan makanan yang paling dekat.

“Artinya : Wahai anak muda, ucapkanlah bismillah dan makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang terdekat darimu” [Muttafaqun Alaih]

10. Diantara hak-hak yang wajib ditunaikan oleh orang tua hendaknya mereka mecegahnya dari menonton televisi khususnya acara-acara yang haram misalnya tarian dan campur baur antara laki-laki dan perempuan. Dan melarangnya untuk melihat drama-drama berseri, yang berisikan pembunuhan dan kejahatan yang mengajarkan pembunuhan, pencurian dan pengkhianatan.

11. Diantara hak-hak yang wajib ditunaikan oleh orang tua hendaknya mereka bersikap adil dalam mendidik anak untuk melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar, janganlah orang tua melampaui batas dan jangan pula terlalu lemah, janganlah berlebih-lebihan dalam memukul anak dan jangan pula membiarkannya tanpa teguran.

12. Diantara hak-hak yang wajib ditunaikan oleh orang tua hendaknya mereka mengajarkan kepada anak untuk membenci orang-orang yang melakukan perbuatan bodoh, seperti seorang yang sudah mashur di masyarakat bahwa ia adalah orang yang suka berkhianat dan melakukan perbuatan nifak dan pemain-pemain sandiwara yang dinamakan oleh orang-orang dengan bintang seni disertai dengan usaha mengisi hati anak untuk cinta kepada para sahabat nabi, tabi’in, ulama dan mujahidin.

13. Diantara hak-hak yang wajib ditunaikan oleh orang tua hendaknya mereka mendidik anak untuk memakan makanan yang halal dan makan dari hasil jerih payah sendiri secara bertahap.

14. Diantara hak-hak yang wajib ditunaikan oleh orang tua hendaknya mereka menolong anak untuk taat kepada Allah dan RasulNya, contohnya kalau seorang anak memilih perkara-perkara yang tidak menyelisihi syariat agama maka janganlah kedua orang tua melarannya.

15. Diantara hak-hak yang wajib ditunaikan oleh orang tua hendaknya mereka memilihkan dengan baik calon isteri yang shalihah yang membantunya untuk taat kepada Allah dan RasulNya.

16. Diantara hak-hak yang wajib ditunaikan oleh orang tua hendaknya mereka mengarahkan anak sebelum ia menikah untuk memperoleh ilmu agama dari para ulama yang mengamalkan imunya, dan menanamkan rasa cinta untuk menghafal Al-Qur’an dan juga seluruh ilmu-ilmu syariat agama ini seperti fikih, hadits, ilmu bahasa, contohnya nahwu, shorf dan balaghah. Serta ilmu ushul fikiih, dan menanamkan rasa cinta kepada aqidah Salafush Shalih.

17. Diantara hak-hak yang wajib ditunaikan oleh orang tua hendaknya mereka memberi semangat anak untuk belajar secara khusus ilmu dunia yang ia minati untuk melayani masyarakat sesudah memperoleh ilmu agama yang wajib ia pelajari.

Dan terakhir : Sesungguhnya hak-hak pendidikan terhadap anak dalam agama Islam tidak ada perbedaan diantara satu negeri dengan negeri yang lainnya atau masa yang satu dengan masa yang lainnya. Perbedaan yang ada hanyalah perbedaan masalah nama dan washilahnya (prasarananya) saja. Dan pokok-pokok yang disebutkan tadi cocok untuk manusia pada setiap zaman, tempat dan sesuai untuk seluruh manusia dipenjuru negeri

Dan segala puji bagi Allah,Rabb smesta alam, shalawat serta salam atas Nabi, keluarga dan para sahabat beliau.

[Majalah Al-Ashalah Edisi 10 hal. 44]

[Disalin dari majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 10/Th. II/1425H/2004M, Penerbit Ma’had Ali Al-Irsyad Surabaya, Alamat Perpustakaan Bahasa Arab Ma’had Ali-Al-Irsyad, Jl Sultan Iskandar Muda Surabaya]