Kiat-kiat agar dikaruniai anak shalih

  1. Siapkan ilmu dan amal sebelum menikah. QS. 66:6. Untuk menjaga dari neraka, perlu ilmu dan amal.
  2. Pilih pasangan yang shalih/shalihah. Pernikahan laksana bercocok tanam. QS: 7:58, 24:26.
  3. Berdoa kepada Allah agar dikaruniai anak shalih. QS 16:72, 2:187, 37:100, 3:38, 21:89, 71:10-12.
  4. Berdoa sebelum senggama agar anak lahir terhindar dari setan. QS. 7:89.

    ( بسم الله اللهم جنبنا الشيطان وجنب الشيطان ما رزقتنا )

    “Bismillah (dengan nama Alah), Ya Allah jauhkanlah kami dari syetan dan jauhkan syetan dari apa yang engkau rizqikan kepada kami (anak).”

  5. Berdoa dan membentengi anak dari setan saat anak lahir. QS. 3:36.
  6. Rutin membaca Al-Baqarah dirumah agar setan tidak masuk.
  7. Beri nama yang baik
  8. Mentahnik, mengunyah kurma, kemudian dimasukkan ke mulut bayi dan menggosok-gosokkannya ke langit-langit mulutnya.
  9. Ibu menyusui bayinya. Jangan disusukan wanita yang kafir, durhaka, dan tidak mengerti. QS. 2: 233.
  10. Aqiqah bila mampu.
  11. Khitan.
  12. Ajarkan aqidah yang benar. QS. 31:13.
  13. Ajarkan Sunnah Nabi Salallahu alaihi wasallam, hindarkan dari bid’ah. QS. 59:7.
  14. Tumbuhkan kecintaan kepada Allah, Yang menciptakan, memberi rezeki, makan, minum, pakaian, mengampuni, Yang menjadikan seseorang cinta kepada keimanan, Yang menjadikannya sebagai anak muslim yang shalih, dan nikmat lainnya. QS: 165.
  15. Ajarkan mengenal dan mencintai Nabi Salallahu alaihi wasallam, kepribadian dan sifat-sifat beliau yang mulia. QS. 33:21, 68:4, 3:31.
  16. Ajarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan apa yang dipahami dan diamalkan sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in dan ulama setelahnya yang mengikuti mereka dengan baik. QS: 4:115.
  17. Biasakan memakai pakaian syar’i yang menutup aurat sejak dini, jangan pakaian tipis dam tidak menutupi aurat. QS. 33:59.
  18. Perintahkan shalat di awal waktu. Ajak anak laki-laki selalu berjama’ah di masjid. QS: 20:132, 19:55. 31:17.
  19. Pisahkan tempat tidur anak laki-laki dan perempuan.
  20. Buat suasana agar anak-anak cinta dan senang dengan Al-Qur’an.
  21. Ajarkan cara beribadah yang benar seperti wudhu, shalat, puasa, dzikir san lain-lain.
  22. Didik, latih, arahkan, dan biasakan anak senantiasa berdzikir, selalu merasa diawasi Allah, selalu tumbuh rasa takut kepada Allah, sehingga menenangkan jiwa dan menghalau godaan iblis. QS: 57:4, 50:16-18.
  23. Ajarkan kewajiban menuntut ilmu. QS: 39:9, 58:11, 17:26, 16:43.
  24. Biasakan anak-anak membaca doa sehari-hari, adab dan sunnahnya, ajarkan berakhlaq mulia sejak dini.
  25. Ajarkan meminta izin bila ingin masuk ke kamar tidur orang tua pada waktu sebelum shubuh, di tengah hari dan setelah isya. QS: 24:58-59.
  26. Ajarkan agar tidak masuk ke rumah orang lain sebelum minta izin dan meberi salam. QS: 24:27-29.
  27. Sekolahkan di sekolah/lembaga pendidikan Islam yang sesuai sunnah dengan guru yang shalih.
  28. Berkomunikasi dengan sekolah dan bekerjasama dengan guru agar mereka menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan anak yang shalih dan menanyakan kepada anak-anak sejauh mana meeka memahami dan mengamalkannya.
  29. Usahakan pembantu rumah tangga yang shalihah dan sopir yang baik agama dan akhlaknya. QS. 16:71.
  30. Jangan menyerahkan pendidikan anak kepada pembantu atau pengasuh atau orang lain yang tidak islami dan jauh dari ajaran Islam.
  31. Banyak menangis dalam doa untuk anak, terutama pada 1/3 malam terakhir, agar dikaruniai keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah, dan anak-anak shalih. QS. 46:15, 14:40, 52:21, 13:23.
  32. Minta kepada orang-orang shalih yang masih hidup (bukan yang sudah mati), yang benar aqidah, ibadah dan manhajnya untuk mendoakan anak-anak. Undang mereka ke rumah dan mendekatkan keluarga kepadanya. QS. 9:119.
  33. Nasihati dengan kelembutan dan sekali-kali dengan ketegasan dalam rangka mendidik. QS. 3:159.
  34. Berbicara dengan bahasa perasaan yang menyentuh, dengan halus dan lembut, seperti: “Ayah sangat menyayangimu, mengkhawatirkanmu terkena adzab Neraka, kamu tidak akan menemukan orang yang menasihatimu seperti ayah, kamu adalah belahan jiwa ayah, kamu adalah darah daging ayah, ayah tidak akan membiarkanmu disiksa di Neraka, ayah menginginkanmu di Surga bersama ayah, insya Allah, dan ayah tidak akan membiarkanmu selamanya menjadi bahan bakar Neraka Jahannam”. Nasihati sebagaimana QS. 31:33
  35. Biarkan anak melihat air mata orang tua saat mengigatkan panasnya Neraka dan pedihnya siksa Allah dan mengajak selalu berbuat baik dan menetapi jalan menuju Surga. QS. 52:26-28.
  36. Nasihati dengan rahasia (berdua), tidak di depan orang lain serta pilih waktu yang tepat.
  37. Jika anak itu kafir, kuatkan kesabaran dalam memohon hidayah kepada Allah untuk anak. Tetapi tidak boleh memintakan ampunan dan rahmat untuk anak yang masih kafir. Qs. 9:113, 2:153, 28:56.
  38. Sering ajak ke majlis taklim yang sesuai sunnah.
  39. Sering berkomunikasi dan berdiskusi dengan anak tentang permasalahan mereka.
  40. Pantau perkembangan keimanan, pendidikan, kesehatan  anak, dan lain-lain.
  41. Sering-seringlah anak melihat amal shalih anak shalih yang lain, atau baca buku kisah anak atau orang yang berbakti kepada orang tua. QS. 19:14, 71:28, 11:120.
  42. Carikan teman yang shalih, jauhkan dari pergaulan yang buruk, sibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat. QS. 4:69, 18:28, 25:28-29, 43:67.
  43. Sering ingatkan kenikmatan Surga dan kengerian Neraka. QS. 32:17, 43:71.
  44. Ingatkan dahsyatnya kematian dan tumbuhkan rasa takut terhadap su’ul khatimah (kesudahan yang buruk), serta tumbuhkan harapan akan khusnul khatimah (kesudahan yang baik), dan tanamkan keyakinan adanya kehidupan setelah mati.
  45. Biasakan ziarah kubur atau menghadiri shalat jenazah dan penguburannya.
  46. Biasakan mendatangi tempat yang bisa membuat hati peka, mudah tersentuh, seperti mengunjungi orang sakit, yang tertimpa musibah, miskin, dan lain-lain.
  47. Biasakan mengunjungi toko buku yang sesuai syaria’at atau pameran buku Islam.
  48. Biasakan berekreasi ke tempat yang menambah iman, ilmu dan pengalaman, atau melatih ketrampilan, keberanian dan kecerdasan.
  49. Biasakan bersilaturahim ke sanak famili dan kerabat terdekat.
  50. Ingatkan hakikat dunia yang fana serta kekal abadinya akhirat. QS 40:39, 28:77.
  51. Tidak segera memberi hukuman tapi ditanya terlebih dahulu apa penyebabnya dan berikan solusinya. QS. 64:14.
  52. Beri hukuman mendidik jika anak membuat pelanggaran atau kesalahan.
  53. Jangan mengancam dengan hukuman yang sifatnya hanya menakut-nakuti tanpa dilaksanakan dan tidak mungkin dilaksanakan.
  54. Jangan menghukum secara kolektif kepada seluruh anak karena kesalahan 1 orang anak
  55. Jangan menghukum anak jika terjadi pertengkaran diantara kedua orang tua
  56. Ajarkan selalu meminta maaf jika ada perkataan atau perbuatan salah dan beri kesempatan memperbaikinya.
  57. Berikan tugas-tugas rumah dan lain-lain agar terlatih dan mandiri, bertanggung-jawab dan selalu mencari solusi yang tepat bagi masalah yang dihadapi.
  58. Jangan manjakan dan mengasihi secara berlebihan dan menuruti semua kemauannya.
  59. Sekali-kali beri hadiah jika anak ta’at atau iming-imingi dengan hadiah jika mau melaksanakan kebaikan syari’at.
  60. Raih “cinta dari anak”
  61. Sediakan perpustakaan untuk menambah iman dan ilmu di rumah.
  62. Jangan membedakan 1 anak dengan anak lainnya dalam pemberian hadiah, hibah, perhatian, dan lain-lain dan bersikaplah adil. QS. 42:49-50.
  63. Ajarkan saling menolong dalam kebaikan dan kebenaran dengan jiwa pengorbanan agar timbul kebersamaan dan senasib sepenanggungan. QS. 5:2.
  64. Beri keteladanan berkata dan beramal kebaikan dan menjauhi larangan. QS. 61:2.
  65. Selalu memberi nafkah seperti makanan, minuman dan kebutuhan lainnya dari yang halal dan baik. QS. 4:9)
  66. Tidak membicarakan aib atau kesalahan anak kepada orang lain.
  67. Tidak menyepelekan, meremehkan maksiat dan kesalahan kecil tanpa memberi nasihat dan pengarahan.
  68. Banyak baca buku pendidikan anak yang sesuai sunnah.
  69. Jangan membebani dengan target atau sesuatu yang tidak mampu mereka lakukan. QS. 2: 286.
  70. Ketahui dan fahami karakter, watak dan sifat setiap anak. Jangan menuntut agar anak bersikap seperti layaknya orang dewasa.
  71. Pindah ke rumah lain jika terdapat lingkungan atau pergaulan yang buruk.
  72. Tidak menyediakan sarana atau fasilitas yang bisa menjatuhkan dalam kemaksiatan. Jauhkan dari melihat dan mendatangi sesuatu yang dapat dendatangkan dosa dan keburukan.
  73. Jika mampu ajak berhaji atau umrah.
  74. Sering-sering mengingatkan, menceritakan pahala yang akan diraih jika ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya. QS. 33:70-71, 4:14, 32:20.
  75. Ajarkan dan memotivasi agar berbakti kepada orang tua selama masih hidup. QS. 31:14, 17:24.
  76. Ajarkan apa saja yang harus dijauhi agar tidak durhaka kepada orang tua selama masih hidup. QS. 17:23.
  77. Ajarkan apa saja yang bisa dilakukan agar berbakti sesudah orang tua meninggal.
  78. Sering mengingatkan dan menceritakan pahala yang akan diraih jika berbakti kepada orang tua.
  79. Sering mengingatkan dan menceritakan ancaman atau akibat yang akan diterima jika durhaka kepada orang tua.
  80. Sekali-kali berikan pujian jika anak memiliki keutamaan yang baik, akhlaknya, kesungguhannya, dan lain-lain.
  81. Bermusyawarah dengan ulama, da’i, atau pendidik yang berpengalaman dalam pendidikan, kondisi, permasalahan dan pola pikir anak.
  82. Melarang anak perempuan menyerupai anak laki-laki dan anak laki-laki menyerupai anak perempuan.
  83. Melarang menyerupai orang kafir, munafik dan durhaka. Tidak memasukkan orang yang tidak diridhai, buruk akhlak, ke dalam rumah.
  84. Usahakan anak laki-laki tidak bercampur-baur di tengah komunitas anak perempuan dan anak perempuan di tengah komunitas anak laki-laki, apalagi yang bukan mahram, terlebih ketika mulai usia baligh.
  85. Orang tua searah dan sejalan dalam mendidik dan membimbing.
  86. Tidak memperlihatkan adanya pertengkaran diantara orang tua dihadapan anak.
  87. Tidak bersumpah atau berkata dengan mendoakan keburukan.
  88. Ajarkan bahasa arab. QS. 12:2, 13:37
  89. Ajarkan halal haram dan syubhat.
  90. Ajarkan bersikap benar dan tegar mendapat musibah.
  91. Jelaskan untuk menarik perhatian anak, nikmat-nikmat Allah. QS. 16:53, 14:24. 49:17. 16:83, 55:51.
  92. Minta anak tertua berperan dan mendorong adik-adiknya berbuat baik.
  93. Menasihati dan mengajari saat berjalan bersama.
  94. Hidupkan majelis ilmu dalam keluarga.
  95. Memberikan informasi dan pemahaman yang shahih tentang perubahan jasmani dan kejiwaan saat beranjak baligh dengan penerangan yang islami dan mendidik.
  96. Nikahkan setelah dewasa.
  97. Sekali-kali kunjungi rumah anak setelah menikah untuk melihat keimanan, kesehatan dan kebutuhan lainnya. QS. 66:6.
  98. Jadilah orang tua yang shalih, selalu taat kepada Allah dan Rasul-Nya. QS. 18:82, 52:21, 13:23.
  99. Suami istri berbakti kepada orang tuanya.
  100. Membuat perencanaan dan evaluasi apa yang telah dilakukan kepada anak pada waktu yang lalu. QS. 59:18.
  101. Ikhlas dalam mendidik, istiqamah menerapkan peraturan dan terus mengamalkan kiat-kiat diatas. QS. 3:185, 39:15-16, 29:69.
Iklan

Pendidik yang Bijak

Seorang pendidik yang bijak haruslah menjadi:

  • seorang pembimbing, bukan pemerintah,
  • teladan, bukan pengkritik,
  • bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah;
  • tidak membimbing anaknya dengan celaan dan tuduhan, melainkan dengan cinta dan kelembutan;
  • memimpin mereka dengan komando hati, bukan fisik;
  • komando rasa senang, bukan rasa benci;
  • komando cinta, bukan teror

Human touch:

  • Hear him
  • Understand his feelings
  • Motivate his desire
  • Appreciate his efforts
  • News him
  • Train him
  • Open his eyes
  • Understand his uniqueness
  • Contact him
  • Honour him

Pilihlah Boneka untuk Anakmu

Oleh: Asy-Syaikh Muhammad bin Shâlih Al-`Uthaimîn at al.

Tanya:

Ada beragam boneka, di antaranya yang terbuat dari kapas yang memiliki kepala, dua tangan, dan dua kaki. Ada pula yang sempurna menyerupai manusia. Ada yang bisa bicara, menangis, atau berjalan. Lalu apa hukum membuat atau membeli boneka semacam itu untuk anak-anak perempuan dalam rangka pengajaran sekaligus hiburan?

Jawab:

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu menjawab: “Boneka yang tidak detail bentuknya menyerupai manusia/makhluk hidup (secara sempurna) namun hanya berbentuk anggota tubuh dan kepala yang tidak begitu jelas maka tidak diragukan kebolehannya dan ini termasuk jenis anak-anakan yang dimainkan Aisyah radhiallahu ‘anha.

Adapun bila boneka itu bentuknya detail, mirip sekali dengan manusia sehingga seakan-akan kita melihat sosok seorang manusia, apalagi bila dapat bergerak atau bersuara, maka ada keraguan di jiwa saya untuk membolehkannya. Karena boneka itu menyerupai makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala secara sempurna. Sedangkan yang dzahir, boneka yang dimainkan `Aisyah, tidaklah demikian modelnya (tidaklah rinci/detail bentuknya). Dengan demikian menghindarinya lebih utama. Namun saya juga tidak bisa memastikan keharamannya, karena memandang, anak-anak kecil itu diberikan rukhshah/keringanan yang tidak diberikan kepada orang dewasa seperti perkara ini. Disebabkan anak-anak memang tabiatnya suka bermain dan hiburan, mereka tidaklah dibebani dengan satu macam ibadah pun sehingga kita tidak dapat berkomentar bahwa waktu si anak sia-sia terbuang percuma dengan main-main. Jika seseorang ingin berhati-hati dalam hal ini, hendaknya ia melepas kepala boneka itu atau melelehkannya di atas api hingga lumer, kemudian menekannya hingga hilang bentuk wajah boneka tersebut (tidak lagi tampak/berbentuk hidung, mata, mulutnya, dsb, -pent.).” (Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, no. 329, 2/277-278)

Tanya: Banyak sekali dijumpai pendapat dan fatwa seputar permainan anak-anak. Lalu apa hukum boneka/anak-anakan dan boneka hewan? Bagaimana pula hukumnya menggunakan kartu bergambar guna mengajari huruf dan angka pada anak-anak?

Jawab:

Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan hafizhahullah menjawab: “Tidak boleh mengambil/menyimpan gambar makhluk yang memiliki nyawa (kecuali gambar yang darurat seperti foto di KTP, SIM). Adapun yang selain itu tidaklah diperbolehkan. Termasuk pula dalam hal ini boneka untuk mainan anak-anak atau gambar yang digunakan untuk mengajari mereka (seperti memperkenalkan bentuk-bentuk hewan dengan memperlihatkan gambarnya, –pent), karena keumuman larangan membuat gambar dan memanfaatkannya. Padahal banyak kita dapatkan mainan anak-anak tanpa gambar/berbentuk makhluk hidup. Dan masih banyak sarana yang bisa kita gunakan untuk mengajari mereka tanpa menggunakan gambar.

Adapun pendapat yang membolehkan mainan boneka untuk anak-anak, maka pendapatnya lemah karena bersandar dengan hadits tentang mainan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha ketika ia masih kecil. Namun ada yang mengatakan hadits ‘Aisyah tersebut mansukh (dihapus hukumnya) dengan hadits-hadits yang menunjukkan diharamkannya gambar. Ada pula yang mengatakan bentuk boneka/anak-anakan ‘Aisyah tidaklah seperti boneka yang ada sekarang, karena boneka ‘Aisyah terbuat dari kain dan tidak mirip dengan boneka berbentuk makhluk hidup yang ada sekarang. Inilah pendapat yang kuat, wallahu a’lam. Sementara boneka yang ada sekarang sangat mirip dengan makhluk hidup (detail/rinci bentuknya). Bahkan ada yang bisa bergerak seperti gerakan makhluk hidup.” (Kitabud Da’wah, 8/23-24, seperti dinukil dalam Fatawa ‘Ulama` Al-Baladil Haram hal. 1228-1229)

Tanya: Apakah ada perbedaan bila boneka/anak-anakan itu dibuat sendiri oleh anak-anak dengan kita yang membuatkannya atau membelikannya untuk mereka?

Jawab:

Aku memandang –kata Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin– membuat boneka dengan bentuk yang menyerupai ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala haram hukumnya. Karena perbuatan ini termasuk tashwir yang tidak diragukan keharamannya. Akan tetapi bila mainan itu dibuat oleh orang-orang Nasrani dan kalangan non muslim, maka hukum memanfaatkannya sebagaimana yang pernah aku katakan. Tapi kalau kita harus membelinya maka lebih baik kita membeli mainan yang tidak berbentuk makhluk hidup seperti sepeda, mobil-mobilan dan semisalnya. Adapun boneka dari kapas/katun yang tidak detail bentuknya walaupun punya anggota-anggota tubuh, kepala dan lutut, namun tidak memiliki mata dan hidung, maka tidak apa-apa (dimainkan oleh anak-anak kita) karena tidak menyerupai makhluk ciptaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, no. 330, 2/278)

Tanya: Apakah benar pendapat sebagian ulama yang mengecualikan mainan anak-anak/boneka dari gambar yang diharamkan?

Jawab:

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu berkata: “Pendapat yang mengecualikan mainan anak-anak/boneka dari gambar yang diharamkan adalah pendapat yang benar. Namun perlu diperjelas, boneka seperti apakah yang dikecualikan tersebut? Apakah boneka yang dulu pernah ada (seperti yang dimainkan oleh ‘Aisyah dengan sepengetahuan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam -pent), yang modelnya tidaklah detail, tidak ada matanya, bibir dan hidung sebagaimana boneka yang dimainkan oleh anak-anak sekarang? Ataukah keringanan/pengecualian dari pengharaman tersebut berlaku umum pada seluruh boneka anak-anak, walaupun bentuknya seperti yang kita saksikan di masa sekarang ini? Maka dalam hal ini perlu perenungan dan kehati-hatian. Sehingga seharusnya anak-anak dijauhkan dari memainkan boneka-boneka dengan bentuk detail seperti yang ada sekarang ini. Dan cukup bagi mereka dengan model boneka yang dulu (tidak detail).” (Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Fadhilatusy Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, no. 327, 2/275)

Sumber: http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=344

Kalau Bisa Mengobati Diri Sendiri, Kenapa Harus Ke Dokter?

Oleh: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri

Pendahuluan:

Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan sahabatnya.
Kehidupan dunia ini sarat dengan lika-liku yang sangat dinamis. Kadangkala Anda dalam keadaan berbahagia, dan tidak jarang Anda dirundung duka dan nestapa. Hari ini urusan Anda begitu mudah, semudah membalikkan telapak tangan Anda, akan tetapi kemarin urusan Anda begitu seret bak memasukkan gajah ke dalam lubang jarum. Begitulah seterusnya fenomena kehidupan yang anda dam juga saya jalani di dunia ini.

Di antara dinamika kehidupan yang pasti pernah mewarnai hidup Anda ialah sakit dan sehat. Bisa jadi, hari ini fisik anda sedang menderita gangguan kesehatan alias sakit. Walau demikian, tidak perlu berkecil hati, apalagi patah arang, karena kemaren Anda segar bugar. Dan besarkan hatimu, esok hari andapun –dengan izin Allah- akan kembali sehat wal afiat.

Tiada Penyakit Melainkan Ada Penawarnya

Allah Yang Maha Bijaksana, telah menciptakan makhluq-Nya dengan berpasang-pasang. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasang supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.” (QS. Az Dzariyat 49).

Ketentuan ini berlaku pada seluruh makhluk-Nya, tidak terkecuali pada berbagai penyakit yang menimpa manusia. Tidaklah ada suatu penyakit, melainkan Allah telah menurunkan penawarnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap penyakit ada obatnya, dan bila telah ditemukan dengan tepat obat suatu penyakit, niscaya akan sembuh dengan izin Allah Azza wa Jalla.” (HR. Muslim). Pada hadits lain, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan telah menurunkan untuknya obat, hal itu diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang tidak mengetahuinya.” (HR. Ahmad dan At Thobroni. Dinyatakan sebagai hadits shohih oleh Al Hakim).

Fakta ilahi ini tentunya patut disyukuri, sehingga tidak layak bila anda menjadi putus asa dan gelap pandangan, hanya karena menderita suatu penyakit.

Milik Siapa Pengobatan Yang Mujarab?

Saudaraku! Coba Anda berusaha mengingat ketika Anda menderita sakit, berapa banyak biaya pengobatan yang Anda keluarkan? Mungkin Anda menjawab, banyak sekali. Sampai-sampai kebutuhan saya yang lainnya menjadi terbengkalai karena dana Anda tersedot habis untuk biaya pengobatan.

Pengalaman pahit ini mungkin menjadikan Anda berkata: Alhamdulillah, saya memiliki dana, sehingga bisa mendapatkan pengobatan. Bagaimana jadinya bila saya tidak memiliki biaya pengobatan? Bagaimana pula halnya dengan saudaraku-saudaraku yang seret rizkinya, bila ditimpa penyakit semacam ini? Sampai kapankah mereka harus menahan rintih sakitnya?

Fakta telah membuktikan bahwa pengobatan yang bagus nan manjur hanyalah milik orang yang berkantong tebal. Adapun orang yang berkantong tipis, apalagi tidak memiliki kantong sama sekali, serasa mustahil mendapatkan pengobatan bagus, apalagi manjur. Saya yakin Anda pasti masih mengingat nasib penderita penyakit atresia biller (kelainan saluran empedu) yang bernama : Bilqis Anandya Passa. Betapa kedua orang tuanya dan karib-kerabatnya harus bersusah payah mencari uluran tangan orang lain untuk membiayai pengobatannya. Bukankah demikian saudaraku?

Saudaraku! Perkenankan saya bertanya: kapankah rakyat miskin dapat menikmati pengobatan bagus nan mujarab alias manjur?

Tiba Saatnya Anda Memiliki Pengobatan Mujarab

Sejatinya, tidak ada yang menghalangi Anda untuk mengenyam pengobatan bagus nan mujarab, walaupun kantong Anda tipis. Karena begitu bagus, dan mujarab, pengobatan ini tidak memiliki efek samping yang perlu dikhawatirkan. Tentunya bila dilakukan dengan cara yang benar. Tahukah anda, pengobatan apa itu?

Di antara pengobatan tersebut ialah:

1- Jampi-jampi dengan bacaan Al Qur’an.

Tidak heran bila Allah Ta’ala menyebutkan bahwa salah satu fungsi Al Qur’an diturunkan kepada umat manusia adalah agar menjadi penawar penyakit yang mereka derita. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Kami turunkan Al Qur’an, sesuatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dan Al Qur’an tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al Isra’ 82).

Ibnul Qayyim berkata,”Al Qur’an adalah penawar yang sempurna bagi segala penyakit hati dan fisik, penyakit dunia dan akhirat. Hanya saja tidak setiap orang memiliki keahlian, dan dimudahkan untuk mendapat kesembuhan dengannya. Bila orang yang menderita penyakit, pandai menjalani pengobatan dengan Al Qur’an; ia menggunakannya tepat pada penyakit yang ia derita, dengan penuh iman, menerima, dan yakin sepenuhnya; ia memenuhi seluruh syarat pengobatan dengannya, niscaya tidak ada penyakit yang dapat melawannya. Bagaimana mungkin ada penyakit yang dapat melawan kalamullah, Tuhan bumi dan langit. Kalamullah yang bila diturunkan kepada gunung niscaya akan hancur luluh, dan bila diturunkan kepada bumi niscaya akan terpotong-potong karenanya. Tidaklah ada suatu penyakit pun, baik penyakit batin ataupun fisik, melainkan dalam Al Qur’an telah terdapat petunjuk tentang obat, penyebab dan metode pencegahannya. Fakta ini hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang telah Allah karuniai pemahaman tentang kitab-Nya. …..Barang siapa yang tidak mendapatkan kesembuhan dengan Al Qur’an, maka semoga Allah tidak pernah menyembuhkan penyakitnya. Dan barang siapa tidak merasa cukup dengan Al Qur’an, maka semoga Allah tidak pernah memberinya kecukupan.”(1)

2. Doa Memohon Kesembuhan Kepada Allah.

Anda beriman dan percaya bahwa segala penyakit yang menimpa Anda adalah atas kehendak Allah?

Mungkin dengan enteng Anda berkata: Tentu saya sepenuhnya beriman dengan hal itu, tiada keraguan sedikit pun.

Akan tetapi, bila telah tiba saatnya Anda sakit, betapa mudahnya keimanan ini luntur bahkan terlupakan. Anda ingin tahu buktinya? Bila anda benar-benar percaya bahwa penyakit yang menimpa Anda adalah karena kehendak Allah, maka mengapa Anda tidak segera memohon kesembuhan kepada Allah?

Ketika ditimpa sakit, biasanya pertama kali yang Anda lakukan adalah merintih, berkeluh-kesah, lalu mengkonsumsi obat ringan hingga akhirnya minta pertolongan dokter. Bukankah demikian Saudaraku?

Kapankah biasanya anda mengangkat kedua tangan Anda, memohon kesembuhan kepada Allah? Jawabnya: di saat penanganan secara medis mulai dirasa kurang manjur. Benarkah demikian saudaraku? Demikiankah cerminan dari iman anda bahwa Allah-lah yang kuasa menimpakan penyakit dan Allah pulalah yang kuasa menyembuhkannya?

Sudah saatnya bagi kita semua untuk senantiasa mengaplikasikan petuah nabi Ibrahim ‘alaihissalam berikut ini (yang artinya), “Dan apabila aku sakit, maka Dialah Yang menyembuhkan aku“. (QS. As Syu’ara’ 80)

Karena itu, dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak mengajarkan bacaan doa-doa untuk meminta kesembuhan kepada Allah. Di antara doa-doa yang beliau ajarkan ialah doa berikut: “Adzhibil baasa Robban Naasi, isyfi wa antasy syaafi, laa syifaa-a illa syifaa-uka, syifaa-an laa yughodiru saqoman.”[Sirnakanlah keluhan wahai Tuhan seluruh manusia, sembuhkanlah dia, karena Engkaulah Dzat Penyembuh, tiada kesembuhan melainkan kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tiada menyisakan rasa sakit]. (Muttafaqun ‘alaih).

Sekarang, sudah saatnya saudaraku bila Anda merasakan gangguan kesehatan, apa pun bentuknya, dan seberapapun beratnya, untuk segera memohon kesembuhan dari Allah. Dan tentunya tidak lupa dengan tetap menempuh pengobatan secara medis sebagaimana mestinya. Tidak etis bagi orang yang beriman untuk senantiasa menjadikan doa sebagai usaha pengobatan terakhir.

Mengapa Anda Bisa Jatuh Sakit?

Saudaraku! Mungkin selama ini Anda selalu berusaha menjaga kesehatan. Anda menjauhi segala hal yang Anda yakini dapat menyebabkan Anda jatuh sakit, menempuh hidup sehat dan bahkan mengkonsumsi suplemen tambahan. Bukankah demikian saudaraku? Walau demikian, mengapa Anda kadang kala tetap saja jatuh sakit, bahkan penyakit Anda datang dengan tiba-tiba?

Ketahuilah saudaraku bahwa banyak faktor dan alasan Anda jatuh sakit. Karenanya, langkah pertama dari pengobatan yang manjur ialah mengenali penyebab terjadinya penyakit yang menimpa anda. Berikut beberapa hal yang biasanya menjadi penyebab anda ditimpa penyakit:

1) Ulah anda sendiri.

Telah terbukti secara meyakinkah, baik ditinjau dari kacamata syari’at atau dari fakta bahwa erat hubungannya antara penyakit yang menimpa Anda dengan ulah anda sendiri.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dalam kitab tafsirnya bahwa Abul Bilaad adalah seorang yang menderita buta, sejak ia terlahir dari kandungan ibunya. Ia bertanya-tanya, bagaimana penerapan ayat di bawah ini pada dirinya, yang telah menderita buta mata sejak ia dilahirkan. Untuk menjawab keheranannya, ia bertanya kepada Al ‘Ala’ bin Bader: “Bagaimana penafsiran firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Dan musibah apapun yang menimpamu, maka itu adalah akibat dari ulah tanganmu sendiri,” padahal aku ditimpa kebutaan sejak aku masih bayi?” Maka Al ‘Ala’ menjawab: “Itu adalah akibat dari dosa kedua orang tuamu.”( 2)

Pada ayat lain Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Barang siapa yang mengerjakan kejelekan, niscaya ia akan diberi balasan dengannya.” (QS. An Nisa 123).

Qotadah berkata, “Telah sampai kepada kami bahwa tidaklah ada seseorang yang tergores oleh ranting, atau terkilir kakinya atau terpelintir uratnya, melainkan akibat dari dosa yang ia perbuat.(3) ”

Karena dari itu, tidak perlu heran bila penyakit yang mengancam hidup umat manusia di zaman kita ini lebih banyak jenis dan ragamnya. Ini semua dampak langsung dari kemaksiatan umat manusia yang beraneka ragam pula, melebihi kemaksiatan umat-umat terdahulu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah perbuatan zina meraja lela di suatu kaum, hingga mereka berterang-terangan ketika melakukannya, melainkan akan ada pada mereka berbagai wabah (tha’un) dan penyakit yang belum pernah ada pada generasi sebelum mereka.” Dan pada sebagian jalur hadits ini dinyatakan: “Tidaklah perbuatan zina meraja lela di suatu kaum, melainkan akan banyak kematian di tengah-tengah mereka.” (HR. Al Hakim, At Thobrani dan Al Baihaqi. Syaikh Al Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih).

Demikianlah saudaraku, semakin banyak dosa dan ulah Anda yang menyelisihi syari’at Allah, maka semakin besar pula peluang datangnya penyakit kepada anda. Keputusan ada di tangan ada, akankah Anda terus memperlebar pintu datangnya penyakit atau sebaliknya, Anda mempersempit bahkan menutup pintu penyakit.

2) Jauh Dari Kerahmatan Allah.

Saya yakin, Anda percaya bahwa kesehatan adalah bagian dari nikmat dan karunia Allah. Dan sudah barang tentu, cara terbaik untuk mendapatkannya ialah dengan mendekatkan diri kepadanya. Bukankah demikian saudaraku? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setan senantiasa mengikatkan pada tengkuk salah seorang dari kalian bila ia tidur tiga ikatan, lalu ia memukul setiap ikatan (agar menjadi kuat) sambil berkata: “malam masih panjang, maka tidurlah” bila ia terjaga, kemudian ia menyebut nama Allah, maka terurailah satu ikatan, bila ia berwudlu, maka terurailah satu ikatan, dan bila ia menunaikan sholat, maka terurailah satu ikatan, sehingga iapun pada pagi itu dalam keadaan bersemangat dan berjiwa baik, bila tidak, maka ia akan berjiwa buruk dan malas.” (Muttafaqun ‘alaih).

Dengan jelas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa diantara akibat langsung dari perbuatan anda melalaikan salah satu dari ketiga hal di atas ialah jiwa anda menjadi buruk, dan semangat anda luntur, serta merasa malas.

Imam An Nawawi berkata, Dari tekstual hadits ini, dipahami bahwa orang yang ketika bangun pagi tidak melakukan ketiga hal berikut semuanya, yaitu:

Membaca dzikir (menyebut Allah)
Berwudhu.
Dan Sholat, maka ia termasuk orang yang berjiwa buruk dan pemalas.” (4)

Ibnu Hajar Al Asqolani juga menegaskan hal yang sama, hanya saja beliau menambahkan, “Hanya saja tingkat keburukan jiwa orang yang tidak melakukan tiga hal di atas berbeda-beda. Orang yang hanya berzikir ketika bangun dari tidur, tingkat keburukan dan rasa malasnya lebih ringan dibanding orang yang tidak melakukan ketiga hal itu sama sekali.” (5)

Sebaliknya, bila anda menjalankan sholat subuh dengan memperhatikan syarat, rukun, sunnah dan kekhusyuannya, berarti anda berada dalam perlindungan Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang menunaikan sholat subuh, maka ia berada dalam jaminan Allah.” (HR. Muslim)

Bila telah berada dalam jaminan Allah, akankah ada suatu kekuatan yang mampu mencelakakan Anda?! Mungkinkah ada suatu penyakit yang mampu mengganggu kesehatan anda?

Ibnu Katsir mengisahkan dalam kitabnya Al Bidayah wa An Nihayah: bahwa Imam Abu At Thoyyib At Thobari walau telah berumur lebih dari satu abad (100 tahun), masih dalam keadaan sehat badan, tidak berubah sedikit pun dari ingatan dan akal pikirannya, serta tidak ada tanda-tanda kepikunan. Bahkan pada suatu hari beliau naik perahu, tatkala telah tiba di pantai, beliau keluar dari perahu dengan meloncat. Suatu hal yang tidak dapat dilakukan, sekalipun oleh para pemuda. Maka murid-muridnya yang bersama beliau bertanya, “Mengapa engkau bisa melakukan seperti ini wahai Abut Thoyyib?” Beliau pun menjawab, “Ini adalah anggota badanku yang senantiasa aku jaga di kala aku masih muda, sehingga sekarang berguna bagiku disaat aku telah tua.”(6)

3) Ujian Iman.

Saudaraku! Apakah Anda mengira bahwa Anda bebas mengklaim diri sebagai orang yang beriman tanpa ada ujian? Tidak saudaraku. Tidak sekali-kali Anda mungkin dapat luput dari ujian Allah. Karenanya, persiapkan diri, mental dan iman Anda, agar Anda dapat menjalani ujian ini dengan baik. Dengan demikian Allah-pun semakin mencintai Anda. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al Ankabut 2-3)

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengisahkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Sesungguhnya bila Allah mencintai suatu kaum, niscaya Ia akan menguji mereka. Maka orang yang menerima ujian itu dengan ridho, maka Allah-pun ridho kepadanya. Sedangkan orang yang tidak suka (berkeluh kesah), maka Allah-pun tidak menyukainya.” (HR. At Tirmizi dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani menyatakan bahwa hadits ini shahih).

Ketahuilah saudaraku! Kebahagian hidup di dunia yang sejati dan kekal hanya dapat Anda capai bila Anda ridho dengan segala takdir Allah. Dengan sifat inilah Anda dapat merasakan indahnya kenikmatan dan terhindar dari rasa pedih musibah.

Sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya Allah Yang Maha Adil, meletakkan kedamaian dan kebahagiaan pada iman dan ridho. Sebagaimana Allah juga meletakkan rasa gundah dan duka pada keraguan dan kebencian (keluh kesah).” (7)

Penutup

Sebagai penutup, perkenankan saya bertanya: Masihkah Anda beranggapan bahwa pengobatan yang mujarab hanya milik orang kaya? Akan tetapi, yang benarkah Anda percaya dan beriman ? Marilah kita bersama-sama menemukan buktinya. Wallahu Ta’ala a’alam bisshawab.

Artikel http://www.PengusahaMuslim.com

Catatan:
1. Zadul Ma’ad oleh Ibnul Qayyim
2. Tafsir Ibnu Abi Hatim 10/3279 & Tafsir Al Baghowi 7/355.
3. Tafsir Ibnu Jarir 27/234, dan Tafsir Ibnu katsir 4/314.
4. Syarah Shahih Muslim oleh Imam An Nawawi 6/67.
5. Fathul Bari oleh Ibnu Hajar Al Asqalani 3/26.
6. Al Bidayah wa An Nihayah 12/85.
7. Riwayat Ibnu Abid Dunya dan Al Baihaqi.

Mendidik Anak Dengan Film Kartun

Oleh: Syaikh Sholeh bin Fauzan al-Fauzan hafidzohulloh

Pertanyaan:

Apa hukum mendidik anak-anak dengan film kartun yang di sana terdapat faidah serta mengajarkan akhlak yang terpuji?

Jawaban:

Alloh telah mengharamkan gambar-gambar (makhluk bernyawa, pent) dan diharamkan menyimpannya, lalu bagimana kita gunakan itu untuk mendidik anak-anak kita?! Bagaimana kita mendidik mereka dengan sesuatu yang haram?! Dengan gambar-gambar yang diharamkan dan gambar animasi yang berbicara menyerupai manusia, gambar-gambar ini parah, dan tidak boleh mendidik anak-anak dengannya.

Ini adalah yang diinginkan oleh orang-orang kafir, mereka menginginkan agar kita menyelisihi apa-apa yang dilarang oleh Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam, karena sesungguhnya Rosul shollallohu alaihi wa sallam melarang gambar-gambar serta menggunakannya dan menyimpannya.[1]

Mereka memprogandakannya di antara anak-anak muda dan kaum muslimin dengan alasan untuk mendidik. Ini adalah pendidikan yang rusak. Dan mendidik yang benar adalah dengan mengajarkan apa-apa yang bermanfaat bagi mereka dalam agama dan dunianya.

__________________

[1] Sebagaimana dalam Shohih al-Bukhori (no. 5949) dari hadits Abu Tholhah rodhiyallohu anhu, (no. 5950) hadits Abdulloh bin Mas’ud rodhiyallohu anhu, (no. 5952) hadits Aisyah rodhiyallohu anha, (no. 5961) hadits Aisyah rodhiyallohu anha, (no. 5962) hadits Abu Juhaifah rodhiyallohu anhu.

Dan lihat Shohih Muslim dalam kitab al-Libas bab Tahrim Tashwir Suwar Al-Hayawan Wat Tahrim Itikhodz Ma Fihi Suwar Ghoiru Mumtahanah Bil Firosy Wa Nahwiha, Wa Annal Malaikah Alaihissalam La Yadkhulu Baitan Fiihi Shuwar Aw Kalbun no. 2104 dan yang setelahnya.

***

Sumber: Taujihaat Muhimmah Li Syababil Ummah oleh al-Allamah asy-Syaikh Sholeh bin Fauzan al-Fauzan hal. 51-52.

Diterjemahkan dari: http://www.sahab.net/forums/showthread.php?p=663937

***

س9 : ما حكم تربية الأطفال بأفلام الكرتون الهادفة التي فيها فائدة ,وتربيتهم على الأخلاق الحميدة؟الجواب:
{الله حرم الصور, وحرم اقتنائها فكيف نربي عليها أولادنا ؟! كيف نربيهم على شيء حرام ؟!على صور محرمة وتماثيل متحركة ناطقة أشبه ما تكون بالإنسان , هذا تصوير شديد , ولا يجوز تربية الأطفال عليه .وهذا ما يريده الكفار, يريدون أن نُخالف ما نهى عنه الرسول صلى الله عليه وسلم فالرسول صلى الله عليه وسلم نهى عن الصور وعن استعمالها واقتنائها(1).
وهؤلاء يروجونها بين الشباب وبين المسلمين بحجة التربية, هذه تربية فاسدة, والتربية الصحيحة أن تعلمهم ما ينفعهم في دينهم ودنياهم}.———————————————————————-
(1) كما في البخاري برقم (5949) من حديث أبي طلحة رضي الله عنه ورقم (5950) من حديث عبد الله بن مسعود رضي الله عنه وبرقم (5952) من حديث عائشة رضي الله عنها ورقم (5961) من حديث عائشة رضي الله عنها, ورقم (5962) من حديث أبي جحيفة رضي الله عنه
وانظر صحيح مسلم في كتاب اللباس باب تحريم تصوير صور الحيوان وتحريم اتخاذ ما فيه صور غير ممتهنة بالفراش ونحوها , وأن الملائكة- عليهم السلام- لا يدخلون بيتًا فيه صورة أو كلب برقم (2104) وما بعده.المصدر:
توجيهات مهمة لشباب الأمة / للعلامة الشيخ صالح بن فوزان الفوزان ص (52,51)

***

Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَوَّرَ صُوْرَةً فِي الدُّنْيَا كُلِّفَ أَنْ يَنْفُخَ فِيْهَا الرُّوْحَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ, وَلَيْسَ بِنَافِخٍ

Siapa yang membuat sebuah gambar (makhluk hidup) di dunia, ia akan dibebani untuk meniupkan ruh kepada gambar tersebut pada hari kiamat, padahal ia tidak bisa meniupkannya.” [HR. Al-Bukhori no. 5963 dan Muslim no. 5507]

إِنَّ أَصْحَابَ هَذِهِ الصُّوَرِ يُعَذَّبُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ, يُقَالُ لَهُمْ: أَحْيُوْا مَا خَلَقْتُمْ, وَإِنَّ الْمَلائِكَةَ لاَ تَدْخُلُ بَيْتًا فِيْهِ الصُّوْرَة

Sesungguhnya pembuat gambar-gambar ini akan diazab pada hari kiamat, dikatakan kepada mereka: ‘Hidupkanlah apa yang kalian ciptakan, dan sungguh para malaikat tidak akan masuk ke rumah yang di dalamnya ada gambar’.” [HR. Al-Bukhori no. 5957 dan Muslim no. 5499]

http://ummushilah.0fees.net/wordpress/?p=1389

Agar Buah Hati Menjadi Penyejuk Hati

 

Kehadiran sang buah hati dalam sebuah rumah tangga bisa diibaratkan seperti keberadaan bintang di malam hari, yang merupakan hiasan bagi langit. Demikian pula arti keberadaan seorang anak bagi pasutri, sebagai perhiasan dalam kehidupan dunia. Ini berarti, kehidupan rumah tangga tanpa anak, akan terasa hampa dan suram.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَاباً وَخَيْرٌ أَمَلاً

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amalan-amalan yang kekal dan shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (Qs.al-Kahfi: 46)

Bersamaan dengan itu, nikmat keberadaan anak ini sekaligus juga merupakan ujian yang bisa menjerumuskan seorang hamba dalam kebinasaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan hal ini dalam firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوّاً لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka…” (Qs. At-Taghaabun:14)

Makna “menjadi musuh bagimu” adalah melalaikan kamu dari melakuakan amal shaleh dan bisa menjerumuskanmu ke dalam perbuatan maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketika menafsirkan ayat di atas, syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “…Karena jiwa manusia memiliki fitrah untuk cinta kepada istri dan anak-anak, maka (dalam ayat ini) Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan hamba-hamba-Nya agar (jangan sampai) kecintaan ini menjadikan mereka menuruti semua keinginan istri dan anak-anak mereka dalam hal-hal yang dilarang dalam syariat. Dan Dia memotivasi hamba-hamba-Nya untuk (selalu) melaksanakan perintah-perintah-Nya dan mendahulukan keridhaan-Nya…” .

Kewajiban Mendidik Anak

Agama Islam sangat menekankan kewajiban mendidik anak dengan pendidikan yang bersumber dari petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”  (Qs. at-Tahriim: 6)

Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu ketika menafsirkan ayat di atas berkata, “(Maknanya):  Ajarkanlah kebaikan untuk dirimu dan keluargamu.”

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “Memelihara diri (dari api neraka) adalah dengan mewajibkan bagi diri sendiri untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, serta bertobat dari semua perbuatan yang menyebabkan kemurkaan dan siksa-Nya. Adapun memelihara istri dan anak-anak (dari api neraka) adalah dengan mendidik dan mengajarkan kepada mereka (syariat Islam), serta memaksa mereka untuk (melaksanakan) perintah Allah. Maka seorang hamba tidak akan selamat (dari siksaan neraka) kecuali jika dia (benar-benar) melaksanakan perintah Allah (dalam ayat ini) pada dirinya sendiri dan pada orang-orang yang dibawa kekuasaan dan tanggung jawabnya” .

Dalam sebuah hadits yang shahih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melarang Hasan bin ‘Ali radhiallahu ‘anhu memakan kurma sedekah, padahal waktu itu Hasan radhiallahu ‘anhu masih kecil, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Hekh hekh” agar Hasan membuang kurma tersebut, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kamu tidak mengetahui bahwa kita (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keturunannya) tidak boleh memakan sedekah?

Imam Ibnu Hajar menyebutkan di antara kandungan hadits ini adalah bolehnya membawa anak kecil ke mesjid dan mendidik mereka dengan adab yang bermanfaat (bagi mereka), serta melarang mereka melakukan sesuatu yang membahayakan mereka sendiri, (yaitu dengan) melakukan hal-hal yang diharamkan (dalam agama), meskipun anak kecil belum dibebani kewajiban syariat, agar mereka terlatih melakukan kebaikan tersebut .

Metode Pendidikan Anak yang Benar

Agama Islam yang sempurna telah mengajarkan adab-adab yang mulia untuk tujuan penjagaan anak dari upaya setan yang ingin memalingkannya dari jalan yang lurus sejak dia dilahirkan ke dunia ini. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, Sesungguhnya Aku menciptakan hamba-hamba-Ku semuanya dalam keadaan hanif (suci dan cenderung kepada kebenaran), kemudian setan mendatangi mereka dan memalingkan mereka dari agama mereka (Islam).”

Dalam hadits shahih lainnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Tangisan seorang bayi ketika (baru) dilahirkan adalah tusukan (godaan untuk menyesatkan) dari setan.”

Perhatikanlah hadits yang agung ini, bagaimana setan berupaya keras untuk memalingkan manusia dari jalan Allah sejak mereka dilahirkan ke dunia, padahal bayi yang baru lahir tentu belum mengenal nafsu, indahnya dunia dan godaan-godaan duniawi lainnya, maka bagaimana keadaannya kalau dia telah mengenal semua godaan tersebut?

Maka di sini terlihat jelas fungsi utama syariat Islam dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menjaga anak yang baru lahir dari godaan setan, melalui adab-adab yang diajarkan dalam sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berhubungan dengan kelahiran seorang anak.

Sebagai contoh misalnya, anjuran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi seorang suami yang akan mengumpuli istrinya, untuk membaca doa,

بسم الله اَللّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَاz

“Dengan (menyebut) nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezki yang Engkau anugerahkan kepada kami.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang suami yang ingin mengumpuli istrinya membaca doa tersebut, kemudian Allah menakdirkan (lahirnya) anak dari hubungan tersebut, maka setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya.”

Berdasarkan keterangan di atas, jelaslah bahwa syariat Islam merupakan satu-satunya metode yang benar dalam pendidikan anak, yang ini berarti bahwa hanya dengan menerapkan syariat Islamlah pendidikan dan pembinaan anak akan membuahkan hasil yang baik.

Syaikh Muhammad bin Shaleh al-’Utsaimin berkata, “Yang menentukan (keberhasilan) pembinaan anak, susah atau mudahnya, adalah kemudahan (taufik) dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan jika seorang hamba bertakwa kepada Allah serta (berusaha) menempuh metode (pembinaan) yang sesuai dengan syariat Islam, maka Allah akan memudahkan urusannya (dalam mendidik anak), Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam (semua) urusannya.” (Qs. ath-Thalaaq: 4)

Pembinaan Rohani dan Jasmani

Cinta yang sejati kepada anak tidaklah diwujudkan hanya dengan mencukupi kebutuhan duniawi dan fasilitas hidup mereka. Akan tetapi yang lebih penting dari semua itu pemenuhan kebutuhan rohani mereka terhadap pengajaran dan bimbingan agama yang bersumber dari petunjuk al-Qur-an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah bukti cinta dan kasih sayang yang sebenarnya, karena diwujudkan dengan sesuatu yang bermanfaat dan kekal di dunia dan di akhirat nanti.

Allah Subhanahu wa Ta’ala memuji Nabi-Nya Ya’qub ‘alaihissalam yang sangat mengutamakan pembinaan iman bagi anak-anaknya, sehingga pada saat-saat terakhir dari hidup beliau, nasehat inilah yang beliau tekankan kepada mereka. Allah berfirman,

أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهاً وَاحِداً وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

“Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) kematian, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah Rabb-mu dan Rabb nenek moyangmu, Ibrahim, Isma’il, dan Ishaq, (yaitu) Rabb Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk kepada-Nya.’” (Qs. al-Baqarah: 133)

Renungkanlah teladan agung dari Nabi Allah yang mulia ini, bagaimana beliau menyampaikan nasehat terakhir kepada anak-anaknya untuk berpegang teguh dengan agama Allah , yang landasannya adalah ibadah kepada Allah  semata-semata (tauhid) dan menjauhi perbuatan syirik (menyekutukan-Nya dengan makhluk). Dimana kebanyakan orang pada saat-saat seperti ini justru yang mereka berikan perhatian utama adalah kebutuhan duniawi semata-mata; apa yang kamu makan sepeninggalku nanti? Bagaimana kamu mencukupi kebutuhan hidupmu? Dari mana kamu akan mendapat penghasilan yang cukup?

Dalam ayat lain Allah berfirman,

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لاِبْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi nasehat kepadanya, ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.’” (Qs. Luqmaan: 13)

Lihatlah bagaimana hamba Allah yang shaleh ini memberikan nasehat kepada buah hati yang paling dicintai dan disayanginya, orang yang paling pantas mendapatkan hadiah terbaik yang dimilikinya, yang oleh karena itulah, nasehat yang pertama kali disampaikannya untuk buah hatinya ini adalah perintah untuk menyembah (mentauhidkan) Allah semata-mata dan menjauhi perbuatan syirik .

Manfaat dan Pentingnya Pendidikan Anak

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah – semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatinya – berkata, “Salah seorang ulama berkata, ‘Sesugguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hari kiamat (nanti) akan meminta pertanggungjawaban dari orang tua tentang anaknya sebelum meminta pertanggungjawaban dari anak tentang orang tuanya. Karena sebagaimana orang tua mempunyai hak (yang harus dipenuhi) anaknya, (demikian pula) anak mempunyai hak (yang harus dipenuhi) orang tuanya. Maka sebagaimana Allah berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْأِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْناً

“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya.” (Qs. al-’Ankabuut: 8)

(Demikian juga) Allah berfirman,

قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. (Qs. at-Tahriim: 6)

Maka barangsiapa yang tidak mendidik anaknya (dengan pendidikan) yang bermanfaat baginya dan membiarkannya tanpa bimbingan, maka sungguh dia telah melakukan keburukan yang besar kepada anaknya tersebut. Mayoritas kerusakan (moral) pada anak-anak timbulnya (justru) karena (kesalahan) orang tua sendiri, (dengan) tidak memberikan (pengarahan terhadap) mereka, dan tidak mengajarkan kepada mereka kewajiban-kewajiban serta anjuran-anjuran (dalam) agama. Sehingga karena mereka tidak memperhatikan (pendidikan) anak-anak mereka sewaktu kecil, maka anak-anak tersebut tidak bisa melakukan kebaikan untuk diri mereka sendiri, dan (akhirnya) merekapun tidak bisa melakukan kebaikan untuk orang tua mereka ketika mereka telah lanjut usia. Sebagaimana (yang terjadi) ketika salah seorang ayah mencela anaknya yang durhaka (kepadanya), maka anak itu menjawab: “Wahai ayahku, sesungguhnya engkau telah berbuat durhaka kepadaku (tidak mendidikku) sewaktu aku kecil, maka akupun mendurhakaimu setelah engkau tua, karena engkau menyia-nyiakanku di waktu kecil maka akupun menyia-nyiakanmu di waktu engkau tua.”

Cukuplah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut menunjukkan besarnya manfaat dan keutamaan mendidik anak,

إن الرجل لترفع درجته في الجنة فيقول: أنى هذا ؟ فيقال: باستغفار ولدك لك

“Sungguh seorang manusia akan ditinggikan derajatnya di surga (kelak), maka dia bertanya, ‘Bagaimana aku bisa mencapai semua ini? Maka dikatakan padanya: (Ini semua) disebabkan istigfar (permohonan ampun kepada Allah yang selalu diucapkan oleh) anakmu untukmu.’”

Sebagian dari para ulama ada yang menerangkan makna hadits ini yaitu: bahwa seorang anak jika dia menempati kedudukan yang lebih tinggi dari pada ayahnya di surga (nanti), maka dia akan meminta (berdoa) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar kedudukan ayahnya ditinggikan (seperti kedudukannya), sehingga Allah pun meninggikan (kedudukan) ayahnya.

Dalam hadits shahih lainnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamJika seorang manusia mati maka terputuslah (pahala) amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah yang terus mengalir (pahalanya karena diwakafkan), ilmu yang terus diambil manfaatnya (diamalkan sepeninggalnya), dan anak shaleh yang selalu mendoakannya.”

Hadits ini menunjukkan bahwa semua amal kebaikan yang dilakukan oleh anak yang shaleh pahalanya akan sampai kepada orang tuanya, secara otomatis dan tanpa perlu diniatkan, karena anak termasuk bagian dari usaha orang tuanya . Adapun penyebutan “doa” dalam hadits tidaklah menunjukkan pembatasan bahwa hanya doa yang akan sampai kepada orangtuanya , tapi tujuannya adalah untuk memotivasi anak yang shaleh agar orang tuanya.

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani – semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala merahmatinya – berkata, “(Semua pahala) amal kebaikan yang dilakukan oleh anak yang shaleh, juga akan diperuntukkan kepada kedua orang tuanya, tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala anak tersebut, karena anak adalah bagian dari usaha dan upaya kedua orang tuanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَى

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (Qs. an-Najm: 39)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Sungguh sebaik-baik (rezki) yang dimakan oleh seorang manusia adalah dari usahanya sendiri, dan sungguh anaknya termasuk (bagian) dari usahanya.”

Kandungan ayat dan hadits di atas juga disebutkan dalam hadits-hadist (lain) yang secara khusus menunjukkan sampainya manfaat (pahala) amal kebaikan (yang dilakukan) oleh anak yang shaleh kepada orang tuanya, seperti sedekah, puasa, memerdekakan budak dan yang semisalnya.”

Tulisan ringkas ini semoga menjadi motivasi bagi kita untuk lebih memperhatikan pendidikan anak kita, utamanya pendidikan agama mereka, karena pada gilirannya semua itu manfaatnya untuk kebaikan diri kita sendiri di dunia dan akhirat nanti.

Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri dan keturunan kami sebagai penyejuk (pandangan) mata (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

Kota Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 20 Jumadal akhir 1430 H

Abdullah bin Taslim al-Buthoni

***

Artikel muslimah.or.id

 

HAK-HAK PENDIDIKAN ANAK DALAM ISLAM

Oleh
Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al-Mahdi

Hak-hak yang harus dipenuhi supaya seorang anak muslim berada pada keadaan yang cocok untuk pendidikan Islam yang benar banyak sekali, kami akan meyebutkan di antaranya.

1. Memilih calon ibu yang baik, hal ini mengamalkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Lihatlah agama calon istri supaya engkau tidak celaka” [Muttafaqun alaihi]

2. Hendaknya kedua orang tua berdo’a dan merendahkan diri kepada Allah agar berkenan memberi rezki anak yang shalih kepada keduanya.

“Artinya : Dan orang-orang yang berkata : “Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang bertakwa” [Al-Furqon : 74]

“Artinya : Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar do’a” [Ali-Imran : 38]

Maka usaha apapun tanpa pertolongan Allah dan taufiq-Nya pasti akan berakhir dengan kegagalan.

Berapa banyak seorang ayah sengat menginginkan agar anaknya menjadi baik, ia sediakan hal-hal yang menunjang untuk kebahagiaan dan pendidikan anaknya, akan tetapi usahanya berakhir dengan kegagalan.

Dan berapa banyak seorang ayah memiliki anak-anak yang shalih, sedangkan ia sendiri bukan orang yang shalih.

3. Memberi Nama Baik
Salah satu hak anak yang wajib ditunaikan seorang ayah adalah memberi nama yang baik serta sesuai dengan syariat agama. Dan syariat agama Islam menganjurkan seorang muslim untuk memberi nama anak-anaknya dengan nama-nama tertentu, dan nama yang paling dicintai oleh Allah adalah : Abdullah, Abdurrahman. Dan nama yang paling benar adalah : Hammam dan Harits.

4. Salah satu hak anak yang wajib ditunaikan orang tua adalah hendaknya anak melihat dari orang tuanya dan dari masyarakatnya akhlak yang bersih, jauh dari hal yang merubah fitrah dan menghiasi kebatilan, baik akhlak yang dibenci itu berupa kekafiran atau bid’ah atau perbuatan dosa besar. Karena sesungguhnya perbuatan yang menyelisihi fitrah itu memberi pengaruh terhadap kejiwaan seorang anak dan merubah fitrah yang telah dianugrahkan kepadanya.

Karena fitrah seorang anak adalah iman kepada Allah Sang Penciptanya dan beriman terhadap seluruh keutamaan, membenci kekafiran, kedustaan dan penipuan. Dalam hatinya terdapat cahaya fitrah yang senantiasa menyuruh kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran, hanya saja wahyu Allah menambahi fitrahnya dengan cahaya diatas cahaya. Dasar landasan hal ini adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Artinya : Setiap anak dilahirkan diatas fitrahnya, ibu bapaknyalah yang menjadikan ia yahudi, nashrani atau majusi” [Muttafaqun Alaih]

5. Diantara hak-hak seorang anak yang wajib ditunaikan orang tuanya hendaknya seorang anak tumbuh bersih, suci, ikhlas dan menepati janji. Dan hendaknya dia dijauhkan dari orang-orang yang melakukan perbuatan syirik dan kesesatan, dan perbuatan bid’ah serta maksiat-maksiat, serta perbuatan-perbuatan yang memperturutkan hawa nafsu. Karena orang yang demikian itu terhadap seorang anak yang bersih dan suci hatinya serta baik jiwanya adalah ibarat teman duduk yang membawa racun yang mematikan dan penyakit kronis, dan itu semua merupakan penghancur keimanan dan perangainya yang baik.

Berapa banyak manusia rusak disebabkan bergaul dengan orang-orang yang pandir. Dan berapa banyak manusia dalam kebingungan disebabkan jauh dari orang-orang yang bijaksana dan ulama. Di dalam Al-Qur’an dan hadits telah disebutkan larangan bergaul dengan orang-orang jahat. Dan juga dari perkataan-perkataan Salafush Shalih banyak kita jumpai tentang hal itu. Kalaulah sekiranya dalam masalah ini tidak ada hadits yang menjelaskannya kecuali hadits An-Nu’man.

“Artinya : Permisalan teman duduk yang baik dan yang buruk adalah seperti pembawa minyak kasturi dan peniup api…” [Muttafaqun Alaih]

Tentulah hadits ini sudah mencukupi.

Ringkasanya adalah bahwa bahaya perangai jelek ini sangat besar, tidaklah orang-orang menjadi rusak melainkan disebabkan berteman dengan orang-orang yang jahat. Dan tidaklah orang-orang menjadi baik melainkan disebabkan oleh nasehat orang-orang yang baik. Dan dalam suatu perumpamaan dikatakan seorang teman itu akan menarik temannya (menarik kepada kebaikan atau kejahatan).

Engkau akan melihat seorang sahabat akan mengajak sahabatnya untuk nonton film, pergi ketempat-tempat minuman keras, melakukan perbuatan hina dan mengajaknya untuk menyukai gambar-gambar wanita yang terbuka auratnya serta mengajaknya untuk menyukai melihat majalah-majalah porno yang merusakkan kemuliaan akhlak dan menyebabkan penyimpangan dan kemunafikan, lalu seorang sahabat mengajak sahabatnya untuk mengikuti golongan-golongan dan pemahaman-pemahaman yang menentang dan menyimpang dari agama.

Akan tetapi seorang teman duduk yang baik memberi petunjuk kepada teman duduknya untuk menghadiri majelis-majelis ulama dan mengunjungi orang-orang yang shalih, bijaksana dan beradab. Dan dia akan mengajak temannya ke masjid serta mencintai orang-orang yang melakukan ruku’ dan sujud kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga hatinya itu menjadi cinta dan selalu terpaut dengan masjid hingga dia menjadi orang yang shalih.

Masjid adalah tempat hatinya, mushaf Al-Qur’an adalah teman yang selalu menyertainya dalam kesendiriannya, dan kitab yang berfaedah adalah teman duduknya, matanya mengucurkan air mata tatkala membaca Al-Qur’an dan dia merindukan untuk melihat Allah yang Maha Mulia dan yang Maha Memberi karunia, ia merindukan melihat Allah yang maha pemurah lagi maha penyayang, ia hidup bersama manusia dengan tubuhnya sedangkan hatinya hidup bersama bidadari di kamar-kamar surga, tidaklah dia memetik buah ini dan tidaklah ia hidup dengan hatinya ini di surga yang paling tinggi melainkan disebabkan duduk dengan orang-orang yang baik.

Dan ringkasnya adalah jika kita menjauhkan anak-anak dari teman duduk yang buruk (jahat), berarti kita telah memberikan kepada anak-anak itu salah satu dari hak-haknya yang paling besar.

6. Diantara hak-hak yang wajib ditunaikan oleh orang tua hendaknya mereka memerintahkannya untuk shalat di saat berumur 7 tahun, dan memukulnya lantarannya tidak mengerjakan shalat di saat berumur 10 tahun, serta memisahkan tempat tidur anak-anak mereka.

7. Diantara hak-hak yang wajib ditunaikan oleh orang tua adalah hendaknya mereka mengajari anak-anaknya untuk berenang, memanah dan menunggang kuda.

8. Diantara hak-hak yang wajib ditunaikan oleh orang tua hendaknya mereka membiasakannya berlaku jujur, menepati janji dan berakhlak mulia.

9. Diantara hak-hak yang wajib ditunaikan oleh orang tua hendaknya mereka mengajarinya petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam makan dengan tangan kanan disertai dengan membaca basmalah dan makan makanan yang paling dekat.

“Artinya : Wahai anak muda, ucapkanlah bismillah dan makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang terdekat darimu” [Muttafaqun Alaih]

10. Diantara hak-hak yang wajib ditunaikan oleh orang tua hendaknya mereka mecegahnya dari menonton televisi khususnya acara-acara yang haram misalnya tarian dan campur baur antara laki-laki dan perempuan. Dan melarangnya untuk melihat drama-drama berseri, yang berisikan pembunuhan dan kejahatan yang mengajarkan pembunuhan, pencurian dan pengkhianatan.

11. Diantara hak-hak yang wajib ditunaikan oleh orang tua hendaknya mereka bersikap adil dalam mendidik anak untuk melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar, janganlah orang tua melampaui batas dan jangan pula terlalu lemah, janganlah berlebih-lebihan dalam memukul anak dan jangan pula membiarkannya tanpa teguran.

12. Diantara hak-hak yang wajib ditunaikan oleh orang tua hendaknya mereka mengajarkan kepada anak untuk membenci orang-orang yang melakukan perbuatan bodoh, seperti seorang yang sudah mashur di masyarakat bahwa ia adalah orang yang suka berkhianat dan melakukan perbuatan nifak dan pemain-pemain sandiwara yang dinamakan oleh orang-orang dengan bintang seni disertai dengan usaha mengisi hati anak untuk cinta kepada para sahabat nabi, tabi’in, ulama dan mujahidin.

13. Diantara hak-hak yang wajib ditunaikan oleh orang tua hendaknya mereka mendidik anak untuk memakan makanan yang halal dan makan dari hasil jerih payah sendiri secara bertahap.

14. Diantara hak-hak yang wajib ditunaikan oleh orang tua hendaknya mereka menolong anak untuk taat kepada Allah dan RasulNya, contohnya kalau seorang anak memilih perkara-perkara yang tidak menyelisihi syariat agama maka janganlah kedua orang tua melarannya.

15. Diantara hak-hak yang wajib ditunaikan oleh orang tua hendaknya mereka memilihkan dengan baik calon isteri yang shalihah yang membantunya untuk taat kepada Allah dan RasulNya.

16. Diantara hak-hak yang wajib ditunaikan oleh orang tua hendaknya mereka mengarahkan anak sebelum ia menikah untuk memperoleh ilmu agama dari para ulama yang mengamalkan imunya, dan menanamkan rasa cinta untuk menghafal Al-Qur’an dan juga seluruh ilmu-ilmu syariat agama ini seperti fikih, hadits, ilmu bahasa, contohnya nahwu, shorf dan balaghah. Serta ilmu ushul fikiih, dan menanamkan rasa cinta kepada aqidah Salafush Shalih.

17. Diantara hak-hak yang wajib ditunaikan oleh orang tua hendaknya mereka memberi semangat anak untuk belajar secara khusus ilmu dunia yang ia minati untuk melayani masyarakat sesudah memperoleh ilmu agama yang wajib ia pelajari.

Dan terakhir : Sesungguhnya hak-hak pendidikan terhadap anak dalam agama Islam tidak ada perbedaan diantara satu negeri dengan negeri yang lainnya atau masa yang satu dengan masa yang lainnya. Perbedaan yang ada hanyalah perbedaan masalah nama dan washilahnya (prasarananya) saja. Dan pokok-pokok yang disebutkan tadi cocok untuk manusia pada setiap zaman, tempat dan sesuai untuk seluruh manusia dipenjuru negeri

Dan segala puji bagi Allah,Rabb smesta alam, shalawat serta salam atas Nabi, keluarga dan para sahabat beliau.

[Majalah Al-Ashalah Edisi 10 hal. 44]

[Disalin dari majalah Adz-Dzakhiirah Al-Islamiyyah Edisi 10/Th. II/1425H/2004M, Penerbit Ma’had Ali Al-Irsyad Surabaya, Alamat Perpustakaan Bahasa Arab Ma’had Ali-Al-Irsyad, Jl Sultan Iskandar Muda Surabaya]