Mengenal Sebagian Nama Kitab-Kitab Hadits

Mengenal Sebagian Nama Kitab-Kitab Hadits

‘Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy, Muslim, At-Tirmidziy, dan An-Nasaa’iy’. Saya yakin banyak di antara rekan-rekan pernah membaca tulisan seperti ini. Apa artinya ?. Artinya adalah, hadits yang dimaksudkan telah diriwayatkan dan dibawakan oleh imam-imam tersebut dalam kitabnya, yaitu Shahih Al-Bukhaariy, Shahiih Muslim, Sunan At-Tirmidziy, dan Sunan An-Nasaa’iy. Sebenarnya, nama kitab-kitab tersebut tidak ‘betul-betul amat’ seperti itu, walau kalau ditulis demikian, juga bukan merupakan kekeliruan. Berikut keterangan singkat yang memberikan informasi tentang nama sebagian kitab hadits.

  1. Shahih Al-Bukhaariy.

Tentang nama kitab ini, An-Nawawiy rahimahullah berkata :

فسماه مؤلفه البخارى، رحمه الله: الجامع المسند الصحيح المختصر من أمور رسول الله – صلى الله عليه وسلم – وسننه وأيامه

“Lalu penulisnya, yaitu Al-Bukhaariy rahimahullah, menamakannya : Al-Jaami’ Al-Musnad Ash-Shahiih Al-Mukhtashar min Umuuri Rasuulillah shallallaahu ‘alaihi wa sallam wa Sunanihi wa Ayyaamihi” [Tahdziibul-Asmaa’ wal-Lughah, 1/73; Daarul-Kutub Al-‘Ilmiyyah].

Hal yang sama disebutkan oleh Ibnu Hajar rahimahullahdalam Hadyus-Saariy, 1/11, Pasal kedua [Daaruth-Thayyibah, Cet. 1/1426].

  1. Shahih Muslim.

Tentang nama kitab ini, Ibnu Shalaah rahimahullah berkata :

روينا عن مسلم رضي الله عنه قال : صنفت هذا المسند الصحيح من ثلاثمائة ألف حديث مسموعة، وبلغنا عن مكي بن عبدان، وهو أحد حفاظ نيسابور قال : سمعت مسلم بن الحجاج يقول : لو أن أهل الحديث يكتبون مائتي سنة الحديث فمدارهم على هذا المسند، يعني – مسنده الصحيح – .

“Kami telah meriwayatkan dari Muslim radliyallaahu ‘anhu, bahwasannya ia berkata : ‘Aku telah menulis Al-Musnad Ash-Shahiih ini dari 300.000 hadits yang aku dengar’. Dan telah sampai kepada kami dari Makkiy bin ‘Abdaan, salah seorang huffaadh negeri Naisaabuur, ia berkata : Aku mendengar Muslim bin Al-Hajjaaj berkata : ‘Seandainya para ahli hadits menulis hadits selama 200 tahun, maka poros mereka ada padaMusnad ini, yaitu Musnad-nya Ash-Shahiih” [Shiyaanatu Shahiih Muslim, hal. 67-68; Daarul-Gharb Al-Islaamiy, Cet. Thn. 1404 H].

Namun, ada ulama lain yang menyebutkan nama lain selain yang dikatakan Ibnu Shalaah rahimahullah.

Ibnu Baththah rahimahullah menamakan : Al-Musnad Ash-Shahiih bi-Naqlil-‘Adl ‘anil-‘Adl ‘an Rasuulillah shallallaahu ‘alaihi wa sallam (المسند الصحيح بنقل العدل عن العدل عن رسول الله صلى الله عليه وسلم) [Fihrisah Ibni Baththah, hal 67 – melaluimuqaddimah muhaqqiq kitab Shahiih Muslim, hal. 20; Daaruth-Thayyibah, Cet. 1/1427].

Al-Qaadliy ‘Iyaadl rahimahullah menamai dengan Al-Musnad Ash-Shahiih Al-Mukhtashar minas-Sunan (المسند الصحيح المختصر من السنن) [Al-Ghun-yah, hal 35 –idem].

Dalam kitab Masyaariqul-Anwaar disebutkan dengan nama Al-Musnad Ash-Shahiih Al-Mukhtashar bi-Naqlil-‘Adl ‘anil-‘Adl ilaa Rasuulillah shallallaahu ‘alaihi wa sallam(المسند الصحيح المختصر بنقل العدل عن العدل إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم) [Al-Masyaariq, 1/22 – idem].

  1. Sunan Abi Daawud.

Tentang nama kitab ini, Abu Daawud rahimahullah sendiri berkata :

فإنكم سألتم أن أذكر لكم الأحاديث التي في كتاب ((السنن)) أهي أصح ما عرفت في الباب…..

“Sesungguhnya kalian telah meminta agar aku menyebutkan kepada kalian hadits-hadits yang terdapat dalam kitab As-Sunan, apakah ia paling shahih sepanjang yang aku ketahui dalam bab…..” [Ar-Risaalah ilaa Ahli Makkah – melalui perantaraan Tadwiin As-Sunnah An-Nabawiyyah oleh Dr. Muhammad Az-Zahraaniy, hal. 117. Bisa juga dibaca di : sini].

Para ulama tidak berselisih pendapat atas penamaan kitab ini.[1]

  1. Sunan At-Tirmidziy.

Nama yang masyhur di kalangan ulama adalah Jaami’ At-Tirmidziy. Ibnu Hajar rahimahullah berkata :

ثُمَّ وَجَدْته فِي التَّفْسِير مِنْ جَامِع التِّرْمِذِيّ مِنْ هَذَا الْوَجْه فَقَالَ ” عَنْ أَبِيهِ سَمِعْت عُمَر ” ثُمَّ قَالَ ” حَدِيث حَسَن غَرِيب ”

“Kemudian aku dapati riwayat tersebut dalam Jaami’ At-Tirmidziy dari sisi ini, lalu ia (perawi) berkata : ‘Dari ayahnya : Aku mendengar ‘Umar’, kemudian At-Tirmidziy berkata : ‘Hadits hasan ghariib” [Fathul-Baariy, 9/58].

Dinamakan juga Jaami’ Ash-Shahiih, sebagaimana dikatakan Al-Mubaarakfuriy rahimahullah berkata :

قال في ((كشف الظنون)) جامع الصحيح للإمام الحافظ أبي عيسى محمد بن عيسى الترمذي، وهو ثالث الكتب الستة في الحديث

“Telah berkata penulis kitab Kasyfudh-Dhunuun : Jaami’ Ash-Shahiih milik Al-Imaam Al-Haafidh Abu ‘Iisaa Muhammad bin ‘Iisaa At-Tirmidziy. Ia merupakan yang ketiga dari kitab yang enam dalam hadits” [Muqaddimah Tuhfatul-Ahwadziy, 1/364].

Disebut juga dengan Al-Jaami’ Al-Kabiir sebagaimana dikatakan oleh Ibnul-Atsiir dalam Al-Kaamil 7/460 dan Ahmad bin Al-‘Alaaiy dalam Ahaadiitsul-Mustaghrabah Al-Waaridatu fil-Jaami’ Al-Kabiir [lihat : Muqaddimah Muhaqqiq Kitaab Al-Jaami’ Al-Kabiir (Dr. Basyaar ‘Awwaad), 1/7; Daarul-Gharb Al-Islaamiy, Cet. 1/1996 M].

  1. Sunan An-Nasaa’iy.

Telah berkata Muhammad bin Mu’aawiyyah Al-Ahmarrahimahullah (perawi dari An-Nasaa’iy) :

قال النسائي : كتاب السنن كله صحيح وبعضه معلول إلا أنه لم يبين علته والمنتخب منه المسمى بالمجتبى صحيح كله

“An-Nasaa’iy berkata : Kitab As-Sunan semua haditsnya shahih, dan sebagiannya ma’luul. Hanya saja ‘illat-nya itu tidak nampak. Adapun hadits-hadits yang dipilih dari kitab tersebut, yang dinamakan Al-Mujtabaa, semuanya shahih” [Syarh Sunan An-Nasaa’iy oleh Muhammad bin ‘Aliy Aadam, 1/27; Daarul-Mi’raaj Ad-Dauliyyah].

Penulis kitab Syarh Sunan An-Nasaa’iy menuliskan :

وذكر بعضهم أن النسائي لما صنف السنن الكبرى أهداه إلى أمير الرملة، فقال له الأمير : أكُلُّ ما في هذا صحيح ؟. قال : لا، قال : فجرد الصحيح منه فصنف المجتبى، وهو بالباب الموحدة، قال الزركشي في تخريج الرافعي : ويقال : بالنون أيضا، وقال القاضي تاج الدين السبكي : سنن النسائي التي هي إحدى الكتب الستة هي الصغرى، لا الكبرى، …..

“Dan sebagian ulama menyebutkan bahwasannya An-Nasaa’iy ketika telah selesai menulis As-Sunan Al-Kubraa, ia menghadiahkannya kepada amir kota Ramalah. Lalu sang amir berkata kepadanya (An-Nasaa’iy) : ‘Apakah semua hadits dalam kitab ini shahih ?’. Ia menjawab : Tidak’. Amir berkata : “Maka, pisahkanlah yang shahih darinya’. Lalu An-Nasaa’iy menulis Al-Mujtabaa. Az-Zarkasyiy berkata dalamTakhriij Ar-Raafi’iy : ‘Disebut juga dengan Al-Mujtanaa’. Al-Qaadliy Taajuddiin As-Subkiy berkata : ‘Sunan An-Nasaa’iy yang merupakan salah satu di antara kitab yang enam adalah Ash-Shughraa, bukan Al-Kubraa” [idem].

Jadi, Sunan An-Nasaa’iy itu ada dua. Pertama, adalah Sunan Al-Kubraa; dan yang kedua adalah As-Sunan Ash-Shughraa atau disebut Al-Mujtabaa atau Al-Mujtanaayang merupakan pemilihan hadits-hadits shahih oleh An-Nasaa’iy dari Al-Kubraa.[2]

  1. Sunan Ibnu Maajah.

Nama kitab ini adalah As-Sunan, yang kemudian dinisbatkan kepada penulisnya menjadi : Sunan Ibni Maajah.

  1. Musnad Ahmad.

Telah dituliskan artikel yang membahas kitab ini :Mengenal Musnad Al-Imaam Ahmad.

Itu saja yang dapat dituliskan. Sedikit memang, tapi semoga ada manfaatnya. Paling tidak, akan menggugah rasa penasaran kita membaca kitab-kitab hadits, sehingga kita akan semakin cinta kepadanya.

Wallaahu a’lam.

[abul-jauzaa’ – sardonoharjo, ngaglik, sleman, yk – banyak mengambil faedah dari kitab Tadwiin As-Sunnah An-Nabawiyyah karya Dr. Muhammad Az-Zahraaniy].

[1]     Sebagaimana dikatakan Syu’aib Al-Arna’uth dan Muhammad Al-Kaamil dalam muqaddimah tahqiiq kitab Sunan Abi Daawud, 1/44 [Daarur-Risaalah, Cet. 1/1430 H.

[2]     Lihat juga : Syuruuth Al-Aimmatis-Sittah oleh Al-haafidh Muhammad bin Thaa hir Al-Maqdisiy, hal. 12 (muqaddimah); Daarul-Kutub Al-‘Ilmiyyah, Cet. 1/1405 H.

Iklan

Mengecek Status Hadits Melalui Situs Dorar.Net

Situs dorar.net atau situs Ad Durarus Saniyyah, adalah situs islami yang diasuh oleh Asy Syaikh Alwi bin Abdul Qadir Assegaf Hafizhahullah. Situs dorar.net memuat banyak info dan artikel bermanfaat yang sejalan dengan manhaj ahlussunnah wal jama’ah, insya Allah. Salah satu fitur bermanfaat yang disajikan oleh web ini adalah aplikasi web untuk mengecek keshahihan hadits menurut pendapat para ulama hadits di kitab-kitab mereka. Fitur ini sangat membantu sekali untuk mengecek status hadits dengan cepat. Namun, untuk memanfaatkan fitur ini, anda disyaratkan memiliki 2 hal:

  • Sedikit kemampuan bahasa arab
  • Potongan teks hadits yang akan dicari dalam bahasa arab, bukan terjemahan.

Berikut ini kami bahas bagaimana cara memanfaatkan fitur tersebut. Sebagai contoh, kita akan mengecek status hadits yang mengatakan bahwa tidurnya orang puasa adalah ibadah, namun kita asumsikan bahwa kita tidak ingat teks lengkap haditsnya, kita hanya ingat hadits tersebut mengandung kata الصائم (orang yang berpuasa) dan عبادة (ibadah).

Langkah 1

Akses alamat http://dorar.net

Langkah 2

Plih tab الموسوعة الحديثية

Langkah 3

Anda akan melihat input box bertuliskan: بحث سريع في الموسوعة الحديثية

Sebenarnya di kotak ini anda dapat memasukkan potongan hadits yang akan dicari, namun kami sarankan untuk meng-klik tulisan بحث متقدم dibawahnya untuk mendapatkan fitur pencarian yang lebih lengkap.

Langkah 4

Anda berada di halaman khusus pencarian hadits. Anda juga bisa mengakses langsung halaman ini dengan alamat http://dorar.net/enc/hadith

Ketik kedua kata tersebut, yaitu الصائم عبادة pada kotak pencarian. Jika komputer anda belum diset fasilitas font arabic-nya, anda cukup meng-klik tombol bergambar keyboard untuk membuka virtual arabic keyboard.

Lalu klik tombol بحث

Langkah 5

Aplikasi akan mencari hadits yang memuat kedua kata tersebut, baik yang keduanya bersandingan maupun terpisah oleh kata-kata lain. Berikut ini contoh hasil pencarian:

Keterangan gambar:

Merah → Hasil pencarian

Hijau → Jumlah hadits yang ditemukan dan kecepatan pencarian

Biru → Pengelompokkan hadits yang ditemukan berdasarkan kitab yang memuatnya atau nama ulama yang berpendapat

Langkah 6

Hasil pencarian:

Teks yang tercetak tebal adalah teks haditsnya:

نوم الصائم عبادة ، وصمته تسبيح ، ودعاؤه مستجاب ، وعمله مضاعف

Tidurnya orang yang puasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, doanya dikabulkan, amal ibadahnya dilipat-gandakan pahalanya

Keterangan hasil pencarian:

الراوي → Nama sahabat, tabi’in atau tabi’ut tabi’in yang meriwayatkan hadits. Dalam contoh di atas disebutkan: عبدالله بن أبي أوفى (Abdurrahman bin Abi Aufa)

المحدث → Nama ulama pakar hadits yang mengomentari. Dalam contoh di atas disebutkan: البيهقي (Al Baihaqi). Jika anda mengklik pada nama tersebut, akan keluar biografi ringkasnya.

المصدر → Nama kitab yang memuat perkataan / komentar ulama tersebut. Dalam contoh di atas disebutkan: شعب الإيمان (Syu’abul Iman). Jika anda mengklik namanya, akan keluar informasi ringkas mengenai kitab tersebut.

الصفحة أو الرقم → Nomor halaman atau nomor tempat dicantumkannya hadits yang dicari dalam kitab yang dimaksud. Dalam contoh di atas disebutkan: 3/1437.

خلاصة حكم المحدث → Ringkasan komentar dari ulama tersebut terhadap hadits. Dalam contoh di atas disebutkan: فيه معروف بن حسان ضعيف وسليمان بن عمرو النخعي أضعف منه. (Di dalam sanadnya terdapat Ma’ruf bin Hassan, ia dhaif. Dan juga terdapat Salman bin ‘Amr An Nakha’i, ia lebih dha’if dari pada Ma’ruf)

Dari satu hasil pencarian ini bisa kita simpulkan, Imam Al Baihaqi mendhaifkan hadits tersebut karena ada perawi yang lemah, sebagaimana perkataan beliau di kitabnya yaitu Syu’abul Iman (3/1437)

Bacalah hasil pencarian selanjutnya agar pencarian anda lebih komprehensif. Klik nomor halaman di bagian paling bawah untuk melihat halaman selanjutnya dari daftar hasil pencarian.

Langkah 7, selesai.

Hasil pencarian secara default ditampilkan berdasarkan relevansi dengan kata kunci yang digunakan. Namun, anda dapat mengurutkan hasil pencarian berdasarkan tahun wafat dari ulama yang berpendapat. Caranya dengan mengklik tulisan إعادة ترتيب النتائج حسب تاريخ وفاة المحدث. di atas hasil pencarian.

Dari kasus pencarian di atas, jika kita melihat komentar para ulama hadits, kita dapatkan bahwa hadits yang menyatakan bahwa tidurnya orang yang puasa adalah ibadah tidak ada yang shahih.

Fitur tambahan

Untuk menampilkan fitur pencarian yang lebih lengkap, klik tulisan بحث متقدم , akan muncul berbagai opsi seperti pada gambar berikut:

  • Centang pada tulisan بحث مطابق untuk melakukan pencarian yang mengandung kata kunci yang saling bersandingan, atau dengan kata lain persis sebagaimana kata kunci yang ditulis. Contoh, pencarian dengan kata kunci الصائم عبادة akan menghasilkan:
  • Bila anda menginginkan hasil pencarian menampilkan hadits yang tidak mengandung suatu kata, pada kotak النتائج لا تحتوي هذه الكلمات anda bisa memasukkan kata tersebut
  • Anda bisa mencari secara spesifik pada sebuah kitab atau berdasarkan nama seorang atau beberapa ulama dengan menyeleksinya di kotak المحدث dan الكتاب
  • Anda bisa menentukan jenis hasil pencarian, ada 5 pilihan:
    1. أحاديث صحيحة ومافي حكمها → Hanya menampilkan hasil pencarian dari kitab yang memuat hadits-hadits shahih saja
    2. أحاديث أسانيدها صحيحة وما في حكمها → Hanya menampilkan hasil pencarian dari kitab yang memuat hadits-hadits beserta sanadnya yang shahih.
    3. أحاديث ضعيفة وما في حكمها → Hanya menampilkan hasil pencarian dari kitab yang memuat hadits-hadits dhaif saja
    4. أحاديث أسانيدها ضعيفة وما في حكمها → Hanya menampilkan hasil pencarian dari kitab yang memuat hadits-hadits beserta sanadnya yang dha’if.
    5. الجميع → Semua jenis.
  • Centang pada تثبيت خيارات البحث jika anda ingin menggunakan opsi-opsi di atas untuk pencarian baru. Jika tidak dicentang, opsi-opsi yang anda pilih akan di-reset.

Beberapa catatan

  • Aplikasi ini hanyalah alat bantu. Untuk menyajikan data yang ilmiah, untuk keperluan karya tulis ilmiah misalnya, kami sarankan anda mengecek hasil pencarian anda pada kitab aslinya. Hal tersebut dapat anda lakukan lebih mudah karena sudah ada acuan nomor halaman atau nomor hadits.
  • Umumnya, hasil pencarian melalui web ini hanya menghasilkan kesimpulan hukum, shahih, hasan, dhaif, maudhu’ atau semisalnya. Bila ingin mengecek alasan atau hujjah ulama yang menyimpulkan hukum tersebut, silakan merujuk pada kitab aslinya.
  • Aplikasi ini tentu tidak memuat seluruh hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, sehingga hadits yang tidak ada dalam aplikasi ini belum tentu hadits palsu. Namun juga sebaliknya, kita tidak bermudah-mudah menganggap sebuah perkataan sebagai hadits Nabi sampai kita mengetahui sanadnya tercantum di salah satu kitab hadits dari para ulama.
  • Jika dalam melakukan pencarian anda menemukan istilah atau hal-hal yang membingungkan, seperti istilah-istilah jarh wa ta’dil (mis: shaduq, tsiqah, saaqith, mudallas, laa ba’sa bih, dll), atau adanya beberapa lafadz berbeda, dll, silakan bertanya kepada ustadz anda, dan jangan bermudah-mudah menyimpulkan hukum.
  • Tulisan ini dibuat pada tanggal 11 Juli 2011, tidak menutup kemungkinan situs dorar.net memperbaharui aplikasi ini di masa datang, sehingga langkah-langkah penggunaannya pun berbeda.

Penulis: Yulian Purnama, S.Kom.
Artikel Muslim.Or.Id

Menyorot Shalat Arba’in di Masjid Nabawi

Menyorot Shalat Arba’in di Masjid Nabawi

Pada umumnya, para jamaah haji dijadwalkan untuk mengunjungi kota Madinah sebelum atau sesudah penyelenggaraan ibadah haji. Mereka sangat bersemangat berkunjung ke Madinah meski ziarah ini tidak ada hubungannya dengan ibadah haji. Hal ini tidak aneh karena Madinah memiliki kedudukan yang tinggi dalam sejarah penyebaran Islam. Ke tempat inilah Nabi Muhammad berhijrah untuk kemudian menghabiskan umur beliau dalam menyemai dakwah Islam di sana. Maka meski ibadah haji tetap sah tanpa ziarah ke Madinah, para jamaah haji selalu merasa ada yang kurang jika tidak berkunjung ke sana. Di antara ibadah yang biasa dilakukakan para jamaah haji selama di kota ini adalah shalat arba’in di Masjid Nabawi. Tulisan ini mencoba menelisik beberapa segi dari ibadah ini agar para pembaca bisa mengetahui kedudukannya dalam Islam.

Keutamaan Shalat di Masjid Nabawi

Shalat di Masjid Nabawi tidaklah seperti shalat di masjid lain. Allah telah menyematkan padanya keutamaan yang besar, sebagaimana Allah telah melebihkan sebagian amalan di atas sebagian yang lain. Hadits berikut dengan tegas menjelaskan hal ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «صَلاَةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ، إِلاَّ المَسْجِدَ الحَرَامَ»

Dari Abu Hurairah bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda  : “Satu kali shalat di masjidku ini lebih baik dari seribu shalat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram. ” (HR. al-Bukhari no.1190 dan Muslim no. 505)

Sungguh keutamaan yang besar! Ini berarti satu kali shalat fardhu di sana lebih baik dari shalat fardhu yang kita lakukan dalam dua ratus hari. Maka sungguh merugi orang yang sudah sampai di Madinah tapi tidak sungguh-sungguh memanfaatkan kesempatan besar ini. Hadits yang muttafaq ‘alaih sehingga tidak diragukan lagi keshahihannya ini sudah cukup sebagai penggelora semangat kita dan kita tidak butuh lagi hadits-hadits yang lemah.

Apa itu Shalat Arba’in?

Arba’in atau arba’un dalam bahasa Arab berarti empat puluh. Yang dimaksud dengan shalat arba’in adalah melakukan shalat empat puluh waktu di Masjid Nabawi secara berturut-turut dan tidak ketinggalan takbiratul ihram bersama imam. Para jamaah haji meyakini bahwa amalan ini akan membuat mereka terbebas dari neraka dan kemunafikan. Karenanya jamaah haji Indonesia dan banyak negara lain diprogramkan untuk menginap di Madinah selama minimal 8 hari agar bisa menjalankan shalat arba’in.

Dasar keyakinan ini adalah sebuah hadits dari Anas bin Malik bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

«مَنْ صَلَّى فِي مَسْجِدِي أَرْبَعِينَ صَلاةً، لاَ يَفُوتُهُ صَلاةٌ، كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَنَجَاةٌ مِنَ الْعَذَابِ، وَبَرِئَ مِنَ النِّفَاقِ»

“Barang siapa shalat di masjidku empatpuluh shalat tanpa ketinggalan sekalipun, dicatatkan baginya kebebasan dari neraka, keselamatan dari siksaan dan ia bebas dari kemunafikan.” (HR. Ahmad no. 12.583 dan ath-Thabrani dalam al-Ausath no. 5.444)

Hadits ini dihukumi shahih oleh beberapa ulama seperti al-Mundziri , al-Haitsami dan Hammad al-Anshari[1] berdasarkan dimasukkannya Nubaith bin Umar dalam kitab ats-Tsiqat oleh Ibnu Hibban. Padahal Nubaith ini tidak dikenal (majhul),dan para ulama hadits menjelaskan bahwa Ibnu Hibban memakai standar longgar dalam kitab ini, yaitu memasukkan orang-orang yang majhul dalam kelompok rawi yang terpercaya (tsiqah).

Perlu direnungkan, bagaimana amalan dengan pahala sebesar ini tidak populer di kalangan sahabat dan hanya diriwayatkan oleh satu sahabat lalu oleh satu tabi’i yang tidak dikenali dan tidak memiliki riwayat sama sekali –tidak dalam hadits shahih maupun dha’if- kecuali hadits ini?[2]

Maka sesungguhnya penshahihan ini tidak bisa diterima, dan pendapat yang melemahkan hadits ini adalah pendapat yang –wallahu a’lam-lebih kuat, dan ini adalah pendapat Syaikh al-Albani, Bin Baz, Abdul Muhsin al-‘Abbad, dan Lajnah Daimah (Komisi Tetap Fatwa di Arab Saudi).[3] Pembahasan lebih dalam mengenai takhrij hadits dan perbedaan para ulama seputar keshahihan hadits ini bisa ditelaah di tulisan lain dalam mabhats ini.

Beberapa Catatan Tentang Praktek Shalat Arba’in

Terlepas dari perbedaan pendapat di atas, ada beberapa catatan yang perlu diperhatikan seputar amalan ini, di antaranya:

1- Kadang-kadang terjadi pelanggaran sunnah yang sudah jelas untuk mengejar pahala amalan yang masih diperselisihkan ini. Saat musim haji, di Masjid Nabawi kita bisa dengan mudah melihat banyak orang yang berlarian saat mendengar iqamat dikumandangkan. Hal ini mereka lakukan untuk mengejar takbiratul ihram bersama imam. Padahal Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- memerintahkan kita untuk mendatangi masjid dengan tenang dan melarang kita untuk tergesa-gesa saat hendak shalat. Beliau bersabda:

«إِذَا سَمِعْتُمُ الإِقَامَةَ، فَامْشُوا إِلَى الصَّلاَةِ وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالوَقَارِ، وَلاَ تُسْرِعُوا، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا، وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا»

“Jika kalian mendeng ar iqamat, berjalanlah untuk shalat dengan tenang dan wibawa, jangan terburu-buru, shalatlah bersama imam sedapatnya, dan sempurnakan sendiri bagian yang tertinggal.” (HR. al-Bukhari no.636 dan Muslim no. 154, dan ini adalah lafazh al-Bukhari)

2- Sebagian orang tidak lagi bersemangat untuk shalat di Masjid Nabawi setelah menyelesaikan arba’in. Hal ini bisa mudah dilihat di penginapan para jamaah haji menjelang kepulangan dari Madinah. Panggilan adzan yang terdengar keras dari hotel-hotel yang umumnya dekat dari Masjid Nabawi tidak lagi dijawab sebagaimana hari-hari sebelumnya saat program arba’in belum selesai. Jika kita melihat kondisi para jamaah haji setelah sampai di negeri masing-masing, kita bisa melihat kondisi yang lebih memprihatinkan lagi. Adakah ini karena keyakinan mereka bahwa mereka telah bebas dari neraka dan kemunafikan setelah menyelesaikan program arba’in? Jika demikian, maka amalan yang masih diperselisihkan ini telah memberikan dampak buruk atau dipahami secara salah.  Syaikh ‘Athiyyah Muhammad Salim –salah satu ulama yang ikut menshahihkan amalan ini- berkata, “Perlu diketahui bahwa tujuan dari arba’in adalah membiasakan dan memompa semangat shalat jamaah. Adapun jika setelah pulang orang meninggalkan shalat jamaah dan meremehkan shalat, maka ia sungguh telah kembali buruk setelah sempat baik.” [4]

3- Sebagian orang memaksakan diri untuk menginap di Madinah untuk waktu lama, sedangkan mereka tidak memiliki bekal yang memadai. Padahal mereka perlu menyewa penginapan dan menyediakan kebutuhan hidup yang lain. Sebagian orang yang kehabisan bekal akhirnya mengemis di Madinah demi mengejar keutamaan arba’in.[5]

Adapun jamaah haji Indonesia, insyaallah tidak mengalami hal ini karena biaya hidup di Madinah sudah masuk dalam paket biaya pelaksanaan ibadah haji yang harus dibayarkan sebelum berangkat.

Di samping itu, jika ada bekal dan waktu berlebih, lebih baik jika digunakan untuk memperbanyak ibadah di Makkah dan Masjidil Haram yang jelas memiliki keutamaan lebih besar.

4- Barangkali ada jamaah haji yang memaksakan diri untuk tetap shalat di Masjid Nabawi saat sedang saat keras demi mengejar keutamaanarba’in. Semangat ibadah tentu sangat dianjurkan, namun jika sampai membahayakan kesehatan, maka hal ini menjadi tidak boleh. Dalam beberapa kasus, saya melihat bahwa memforsir tenaga secara berlebihan selama perjalanan haji adalah salah satu faktor penyebab banyaknya kematian para jamaah haji. Sayangnya hal ini kadang terjadi dalam ibadah yang tidak kuat dalilnya, seperti mengulang-ulang umrah saat di Makkah. Sementara sebagian jamaah lain justru sakit saat  ibadah utama (haji) tiba waktunya, karena sebelumnya sudah terforsir untuk ibadah-ibadah seperti ini.

5- Bagi para jamaah haji wanita, shalat di rumah atau penginapan lebih baik bagi mereka daripada shalat di Masjid Nabawi. Mari kita perhatikan hadits berikut ini:

عَنْ أُمِّ حُمَيْدٍ امْرَأَةِ أَبِي حُمَيْدٍ السَّاعِدِيِّ، أَنَّهَا جَاءَتِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أُحِبُّ الصَّلَاةَ مَعَكَ، قَالَ: «قَدْ عَلِمْتُ أَنَّكِ تُحِبِّينَ الصَّلَاةَ مَعِي، وَصَلاتُكِ فِي بَيْتِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي حُجْرَتِكِ، وَصَلاتُكِ فِي حُجْرَتِكِ خَيْرٌ مِنْ صَلاتِكِ فِي دَارِكِ، وَصَلاتُكِ فِي دَارِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ، وَصَلاتُكِ فِي مَسْجِدِ قَوْمِكِ خَيْرٌ لَكِ مِنْ صَلاتِكِ فِي مَسْجِدِي» ، قَالَ: فَأَمَرَتْ فَبُنِيَ لَهَا مَسْجِدٌ فِي أَقْصَى شَيْءٍ مِنْ بَيْتِهَا وَأَظْلَمِهِ، فَكَانَتْ تُصَلِّي فِيهِ حَتَّى لَقِيَتِ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ

Dari Ummu Humaid –istri Abu Humaid as-Sa’idi-bahwa ia telah datang kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- dan berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh saya senang shalat bersamamu.” Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam- berkata, “Aku sudah tahu itu, dan shalatmu di bagian dalam rumahmu  lebih baik bagimu dari shalat di kamar depan. Shalatmu di kamar depan lebih baik bagimu dari shalat di kediaman keluarga besarmu. Shalatmu di kediaman keluarga besarmu lebih baik bagimu dari shalat di masjid kaummu, dan shalatmu di masjid kaummu lebih baik dari shalat di masjidku.” Maka Ummu Humaid memerintahkan agar dibangunkan masjid di bagian rumahnya yang paling dalam dan paling gelap, dan ia shalat di situ sampai bertemu Allah. (HR. Ahmad no. 27.090, dihukumi hasan oleh Ibnu Hajar)

Kita sudah mengetahui besarnya keutamaan shalat di Masjid Nabawi. Namun bagi para wanita, shalat di rumah mereka tetap lebih baik bagi mereka dibanding shalat di Masjid Nabawi, bahkan di Masjidil Haram. Semakin tersembunyi tempat shalat, itu semakin baik bagi mereka. Para jamaah haji wanita perlu meneladani Ummu Humaid yang begitu menaati sunnah Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam-  dengan selalu shalat di rumah. Tidak seperti sebagian jamaah haji wanita yang kadang sampai shalat di jalan-jalan kota Makkah karena masjid-masjid penuh. Mereka bersemangat tinggi tapi tidak didasari ilmu agama yang memadai.

Ada Arba’in Lain

Selain arba’in di atas ada arba’in dengan bentuk lain dengan dalil yang lebih shahih, yaitu hadits berikut:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الأُولَى كُتِبَ لَهُ بَرَاءَتَانِ: بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ.

Dari Anas bin Malik, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Barang siapa yang shalat karena Allah empat puluh hari secara berjamaah tanpa ketinggalan takbir yang pertama, dicatatkan baginya dua kebebasan; kebebasan dari neraka dan kebebasan dari kemunafikan. (HR ar-Tirmidzi no. 241, dihukumi hasan oleh al-Albani, dan al-‘Iraqi mengatakan: para rawinya tsiqah)[6]

Dibanding arba’in yang di atas, arba’in ini memiliki beberapa perbedaan, yaitu:

  1. Jumlah bilangan shalatnya dua ratus shalat dalam empat puluh hari. Bandingkan dengan empat puluh shalat dalam delapan hari! Karenanya, sebagian orang yang pernah mencoba mengamalkannya mengalami kesulitan yang cukup besar, kira-kira sebanding dengan besarnya pahala yang dijanjikan.
  2. Arba’in ini pelaksanaannya tidak terbatas pada Masjid Nabawi, tapi bisa dilakukan di masjid manapun di atas muka bumi ini.

 Jangan Lewatkan Pahala Jihad di Masjid Nabawi

Di akhir pembahasan ini, saya ingin mengajak para peziarah kota Madinah untuk tidak melewatkan sebuah peluang pahala besar selama di Madinah, yakni sebuah amalan yang tidak hanya akan bermanfaat selama musim haji saja, tapi diharapkan bisa menerangi sisa kehidupan mereka yang akan datang. Hal ini termaktub dalam hadits berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ جَاءَ مَسْجِدِي هَذَا، لَمْ يَأْتِهِ إِلاَّ لِخَيْرٍ يَتَعَلَّمُهُ أَوْ يُعَلِّمُهُ، فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَمَنْ جَاءَ لِغَيْرِ ذَلِكَ، فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ الرَّجُلِ يَنْظُرُ إِلَى مَتَاعِ غَيْرِهِ»

Dari Abu Hurairah beliau berkata, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Barang siapa mendatangi masjidku ini, tidak datang kecuali untuk kebaikan yang ingin dia pelajari atau dia ajarkan, maka kedudukannya seperti mujahid di jalan Allah. Dan barang siapa datang untuk selain itu, maka ia laksana orang yang hanya memandang barang orang lain.” (HR. Ibnu Majah no. 227, dihukumi shahih oleh al-Albani)

Memandang barang orang lain maksudnya adalah ia seperti orang yang masuk ke pasar, tapi tidak menjual atau membeli, dan hanya memandang barang orang lain sehingga tidak mendapatkan apa-apa. Hadits ini juga menunjukkan bahwa Masjid Nabawi adalah suqul ‘ilmi(pasar ilmu), dan selayaknya bagi orang yang masuk ke dalamnya untuk berdagang ilmu, baik dengan menuntut ilmu atau mengajarkannya.[7]

Jika anda paham bahasa Arab, anda bisa belajar langsung kepada para ulama di Masjid Nabawi. Jika tidak, anda bisa membawa kitab untuk dibaca, berdiskusi atau membaca al-Quran dan terjemahnya. Atau menghadiri pengajian berbahasa Indonesia yang mulai tahun ini insyaallah akan dibuka di kursi-kursi resmi dalam Masjid Nabawi dan diampu para mahasiswa senior di Universitas Islam Madinah. Yang penting setiap langkah anda dari penginapan menuju Masjid Nabawi tidak lepas dari niat mempelajari kebaikan atau mengajarkannya, agar pahala jihad tidak luput dari anda.

Musim haji selain menjadi musim ibadah juga merupakan titik temu para ulama dan penuntut ilmu. Para jamaah haji yang ingin melipatgandakan keuntungan mereka menimba ilmu dari para ulamaharamain atau para ulama yang datang dari berbagai penjuru dunia, kemudian mendakwahkannya di negeri masing-masing. Mereka menjadi duta dakwah sebagaimana dahulu para sahabat meninggalkan tanah suci yang mereka cintai untuk menebar hidayah. Atau jika tidak mendakwahkannya secara luas, paling tidak mereka mengenal Islam yang murni langsung dari sumbernya dan bermanfaat untuk mereka dan keluarga mereka, dan ini sungguh keuntungan yang tidak sedikit.

Khatimah

Dari paparan di atas, jelaslah bagi kita keutamaan shalat di Masjid Nabawi. Keutamaan ini sangat cukup memotivasi kita untuk melakukan shalat jamaah sebanyak mungkin di Masjid Nabawi. Lemahnya hadisarba’in, ditambah adanya praktek-praktek yang salah sebagaimana telah dijelaskan di atas membuat kita tidak memerlukannya. Semoga Allah membimbing kita dan kaum muslimin untuk berilmu sebelum beramal, dan membimbing kita semua kepada apa yang Dia cinta dan ridhai. Amin.

 

Referensi:

  • Adhwa’ul Bayan fi Idhah al-Qu`ran bil Qur`an, Syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithi, Darul Fikr.
  • Al-Bahtsul Amin fi Hadits al-Arba’in, diterbitkan dalam Majalah al-Jami’ah al-Islamiyyah edisi 41.
  • At-Targhib wat Tarhib, al-Mundziri.
  • Fadhlul Madinah, Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad.
  • Fatawa al-Lajnah ad-Daimah,
  • Majma’ az-Zawa`id  wa Manba’ al-Fawa`id, al-Haitsami, Maktabah al-Qudsi.
  • Majmu’ Fatawa Syaikh Bin Baz, Muhammad asy-Syuwai’ir.
  • Mir’atul Mafatih Syarh Misykatil Mashabih, Abul Hasan al-Mubarakfuri, al-Jami’ah as-Salafiyyah.
  • Shahih at-Targhib wat Tarhib, al-Albani, Maktabah al-Ma’arif.
  • Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah, al-Albani, Maktabah al-Ma’arif.
  • Takhrij Ahadits Ihya Ulumiddin, al-Hafizh al-‘Iraqi, Darul ‘Ashimah.

—-

Penulis: Ustadz Anas Burhanuddin, MA (Mahasiswa Doktoral Universitas Islam Madinah)
Artikel Muslim.Or.Id

 


[1] Majma’ az-Zawaid 4/8, at-Targhib wat Tarhib 2/139.

[2]  Al-Bahtsul Amin fi Hadits al-Arba’in, diterbitkan dalam Majalah al-Jami’ah al-Islamiyyah edisi 41.

[3]  Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah 1/540 no. 364, Majmu’ Fatawa Syaikh Bin Baz 26/285, Fadhlul Madinah hal. 19, Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 4/440.

[4]  Adhwa’ul Bayan 8/336.

[5] Al-Bahtsul Amin fi Hadits al-Arba’in, diterbitkan dalam Majalah al-Jami’ah al-Islamiyyah edisi 41.

[6] Shahih at-Targhib wat Tarhib 1/98 no. 409, Takhrij Ahadits Ihya Ulumiddin1/334.

[7] Mir’atul Mafatih Syarh Misykatil Mashabih 2/456.

Hadits Terpelihara Sebagaimana Al-Qur’an

Majalah AsySyariah Edisi 061

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin)

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Al-Hijr: 9)

Penjelasan Mufradat Ayat
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an.”
Al-Imam Al-Qurthubi (10/5), Ibnu Katsir (2/528), dan Ibnu Jarir Ath-Thabari (14/8) mengatakan bahwa makna ﮚ adalah Al-Qur’an.
As-Sa’di mengatakan, “Maksudnya Al-Qur’an, yang mengandung peringatan terhadap segala sesuatu, berupa berbagai masalah dan dalil-dalil yang cukup jelas, serta mengingatkan orang yang menghendaki peringatan.”

“Dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”
Ulama ahli tafsir berbeda pendapat dalam memaknai kata ganti لَهُ. Ada yang berpendapat bahwa kata ganti tersebut kembali kepada ﮚ yaitu Al-Qur’an. Ulama yang lain berpendapat bahwa kata ganti tersebut kembali kepada Nabi Muhammad salallahu alaihi wasallam, sebagaimana dalam firman Allah:
Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.” (Al-Maidah: 67).
Akan tetapi, yang benar adalah pendapat pertama, yaitu kata ganti tersebut kembali kepada Al-Qur’an. Lihat tafsir Asy-Syinqithi (2/225) dan Ibnu Katsir (2/258).

Al-Qur’an Selalu Terpelihara Lafadz dan Maknanya
Asy-Syinqithi (2/225) berkata, “Dalam ayat yang mulia ini Allah menjelaskan bahwa Dia-lah yang menurunkan Al-Qur’an dan memeliharanya dari penambahan, pengurangan, maupun pengubahan. Ayat lain yang semakna di antaranya firman Allah:
Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan [1], baik dari depan maupun dari belakangnya.” (Fushshilat: 42)
Juga firman Allah:
“Janganlah kamu gerakkan lidahmu (membaca) Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacanya maka itulah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.” (Al-Qiyamah: 16—19)
Al-Qurthubi (10/5) mengatakan, Allah memelihara Al-Qur’an dari penambahan dan pengurangan. Lalu beliau menyebutkan ucapan Qatadah dan Tsabit al-Bunani, “Allah memelihara Al-Qur’an dari upaya setan yang ingin menambahkan kebatilan ke dalamnya dan mengurangi kebenarannya, sehingga Al-Qur’an tetap terpelihara.”
Al-Imam Al-Baidhawi (3/362) mengatakan, “Pada ayat ini terdapat bantahan terhadap sikap orang-orang kafir yang senantiasa mengingkari dan memperolok-olok Al-Qur’an. Oleh karena itu, Allah menguatkannya (Al-Qur’an) dengan firman-Nya:
“Dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”
Maksudnya, memeliharanya dari penyimpangan, baik huruf maupun makna, dan penambahan maupun pengurangan. Allah menjadikan Al-Qur’an sebagai suatu keajaiban (mukjizat), guna membedakan apa yang tertera padanya dengan ucapan manusia.”
“Dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”
Maknanya, kata asy-Syaikh as-Sa’di, “Al-Qur’an terpelihara saat diturunkan maupun setelahnya. Saat diturunkan, Allah memeliharanya dari upaya setan yang ingin mencuri-curi beritanya. Adapun setelah diturunkan, Allah menyimpannya di hati Rasulullah salallahu alaihi wasallam, kemudian di hati umatnya. Allah menjaga lafadz-lafadznya dari perubahan, baik penambahan maupun pengurangan. Allah juga menjaga makna-maknanya dari perubahan dan penggantian. Tidak seorang pun yang berusaha memalingkan salah satu makna pada Al-Qur’an, melainkan Allah pasti mendatangkan orang yang akan menjelaskan kebenaran yang nyata. Ini merupakan salah satu tanda keagungan ayat-ayat Allah dan kenikmatan-Nya terhadap hamba-hamba-Nya yang mukmin. Di antara bentuk pemeliharaan Allah terhadap Al-Qur’an juga adalah Dia memelihara ahlul Qur’an dari musuh-musuh mereka. Allah menyelamatkan mereka dari gangguan musuh.”
Ath-Thabari (14/8) berkata, “Allah memelihara Al-Qur’an dari penambahan kebatilan yang bukan bagian darinya, atau pengurangan hukum, batasan, dan kewajiban yang seharusnya ada padanya.”

Hadits Terpelihara Sebagaimana Al-Qur’an
Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah berkata, “Sunnah (hadits) Rasulullah salallahu alaihi wasallam dan Al-Qur’anul Karim berasal dari sumber yang sama. Hilang (tersia-siakan)nya sebagian hadits—yang merupakan penjelas bagi Al-Qur’an—bertentangan dengan janji Allah untuk memeliharanya.”
Dengan demikian, sunnah Rasulullah salallahu alaihi wasallam yang suci termasuk bagian dalam janji Allah yang benar, yaitu benar-benar terpelihara dan terjamin. (Lihat An-Nukat ‘ala Kitab Ibni Shalah 1/9)
Asas agama kita yang hanif adalah Al-Qur’anul Karim dan sunnah (hadits) Nabi Al-Amin. Al-Qur’an adalah kitab yang terpelihara dari sisi Allah yang Mahatinggi dan Agung. Al-Qur’an dihafal dalam dada dan tertulis dalam tulisan. Allah berfirman:
Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Al-Hijr: 9)
Adapun sunnah (hadits Rasulullah salallahu alaihi wasallam), keberadaannya, sebagaimana yang dikatakan oleh al-Imam al-Baihaqi, berkedudukan sebagai penjelas yang berasal dari Allah. Sebagaimana firman Allah:
Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (An-Nahl: 44)
Oleh karena itu, sunnah secara keseluruhan terpelihara dengan pemeliharaan-Nya, karena ia termasuk peringatan (zikir) dari peringatan (Al-Qur’an). (Tahqiq Al-Ba’its al-Hatsits, 1/7)

Upaya Umat Memelihara Al-Qur’an dan Hadits
Asy-Syaikh Ahmad Syakir mengatakan, “Kaum muslimin sejak generasi pertama sangat memerhatikan pemeliharaan sanad-sanad syariat mereka dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hal ini tidak dilakukan oleh umat sebelumnya.
Mereka menghafal dan meriwayatkan Al-Qur’an dari Rasulullah n secara mutawatir. Ayat demi ayat, kalimat demi kalimat, huruf demi huruf, terpelihara dalam dada dan dikukuhkan dengan tulisan pada mushaf (Al-Qur’an). Sampai-sampai mereka meriwayatkan berbagai sisi pengucapannya berdasarkan dialek qabilah. Mereka juga meriwayatkan jalan penulisan (bentuk huruf) dalam mushaf. Mereka menulis kitab yang panjang lagi sempurna dalam hal ini.
Mereka juga menghafal dari Nabi mereka, Muhammad salallahu alaihi wasallam, semua ucapan, perbuatan, dan keadaan beliau. Beliau salallahu alaihi wasallam adalah penyampai (syariat) dari Rabbnya, penjelas syariat-Nya. Beliau n diperintahkan untuk melaksanakan agama-Nya. Setiap ucapan dan keadaan beliau adalah penjelas bagi Al-Qur’an. Beliau adalah seorang rasul yang ma’shum dan menjadi suri teladan yang baik bagi umatnya. Allah menerangkan sifat beliau salallahu alaihi wasallam:
Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm: 3—4).
Juga firman Allah:
“Dan Kami turunkan kepadamu Al-Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan.” (An-Nahl: 44)
Juga firman Allah:
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.” (Al-Ahzab: 21)
Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash menulis segala sesuatu yang dia dengarkan dari Rasulullah salallahu alaihi wasallam. Orang-orang Quraisy pun melarangnya. Akhirnya, Abdullah bin Amr mengadukan hal itu kepada Rasulullah salallahu alaihi wasallam. Beliau salallahu alaihi wasallam pun bersabda, “Tulislah! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah terucap dariku kecuali semata-mata kebenaran.” [2]
Pada haji wada’, Rasulullah salallahu alaihi wasallam memerintahkan kaum muslimin secara umum untuk menyampaikan dari beliau salallahu alaihi wasallam, sebagaimana sabda beliau:
لِيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ فَإِن الشَّاهِدَ عَسَى أَنْ يُبَلِّغَ مَنْ هُوَ أَوْعَى لَهُ مِنْهُ
Hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir, karena orang yang hadir bisa jadi dia menyampaikan kepada orang lain, namun orang lain tersebut lebih memahami hadits itu daripada dirinya.” [3]
Demikian pula sabda beliau salallahu alaihi wasallam:
فَلْيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ مِنْكُمُ الْغَائِبَ، رُبَّ حَامِلِ فِقْهٍِ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ
Hendaknya orang yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir, karena bisa jadi orang yang disampaikan (hadits kepadanya) lebih memahami daripada orang yang mendengar (hadits itu secara langsung).” [4]
Dari penjelasan ini, kaum muslimin memahami bahwa mereka wajib memelihara segala sesuatu yang datang dari Rasul mereka n. Mereka pun melakukannya serta menunaikan amanah sesuai yang diminta. Mereka meriwayatkan hadits-hadits dari Rasulullah salallahu alaihi wasallam, baik secara mutawatir dari sisi lafadz dan makna, atau dari sisi makna saja, atau secara masyhur dengan sanad-sanad yang sahih (yang kukuh), yang diistilahkan oleh ulama ahli hadits dengan hadits sahih atau hasan….” (Lihat Al-Ba’its Al-Hatsits, 1/70—71)

Sanad, Kekhususan Umat Ini
Sanad merupakan kekhususan yang mulia yang dimiliki umat ini. Kekhususan ini tidak diberikan kepada umat-umat sebelumnya. Sanad termasuk bagian agama yang agung kedudukannya.
Dalam kitab Tarikh Baghdad, al-Hafizh al-Khathib al-Baghdadi meriwayatkan dengan sanadnya, pada biografi Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad al-Amin al-Bukhari, sampai kepada Abdan, salah seorang murid Abdullah bin al-Mubarak. Beliau berkata, “Aku mendengar Abdullah bin al-Mubarak berkata:
الْإِسْنَادُ عِنْدِي مِنَ الدِّينِ وَلَوْلَا الْإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ
‘Sanad itu menurutku termasuk bagian agama. Kalau bukan karena sanad, semua orang bisa berkata apa pun yang dia kehendaki’.”
Ucapan Al-Imam Ibnul Mubarak ini termasuk kalimat yang terbaik dan terbagus untuk menunjukkan kedudukan sanad dalam agama.
Al-Hakim Abu Abdillah an-Naisaburi tmengatakan dalam kitabnya, Ma’rifat Ulumul Hadits, setelah menyebutkan ucapan Abdullah bin al-Mubarak di atas, “Kalau bukan karena sanad, upaya para ulama hadits mencarinya, dan ketekunan mereka menghafalnya, akan hilanglah panji-panji Islam. Para pelaku kesyirikan dan kebid’ahan akan semakin kokoh memalsukan hadits-hadits dan memutarbalikkan sanad, karena apabila hadits-hadits Rasulullah salallahu alaihi wasallam kosong dari sanad, jadilah ia sebagai hadits yang terputus.”
Ketika menafsirkan ayat:
Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar dan bagi kaummu.” (Az-Zukhruf: 44)
Al-Imam Malik berkata, “Maknanya adalah ucapan seorang rawi, ‘Ayahku telah menyampaikan kepadaku dari kakekku’.”
Abdullah bin Mubarak juga berkata, “Permisalan seseorang yang mencari urusan agamanya tanpa sanad seperti orang yang memanjat atap tanpa tangga.”
Beliau berkata juga, “Pembeda antara kita dengan kaum itu adalah qawain.”
‘Qawain’ adalah sanad sedangkan ‘kaum itu’ ialah ahlul bid’ah dan yang menyerupai mereka.
Sufyan ats-Tsauri mengatakan, “Sanad itu senjata orang mukmin. Apabila seorang mukmin tidak memiliki senjata, dengan apa dia melawan musuh?”
Beliau juga berkata, “Sanad itu perhiasan bagi hadits. Barang siapa yang memerhatikannya, ia telah beruntung. (lihat Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, tahqiq Khalil Makmun Syiha 1/28—30)
Wallahu a’lam bish-shawab.

[1] Qatadah berkata, “Kebatilan di sini adalah Iblis. Allah yang menurunkan Al-Qur’an dan kemudian memeliharanya, sehingga Iblis tidak mampu menambahkan kebatilan dan mengurangi kebenaran darinya. (Lihat Tafsir Ad-Durrul Mantsur 5/66)
[2] HR. Al-Imam Ahmad dalam Al-Musnad (2/162) dengan sanad yang sahih. Abu Dawud, Al-Hakim, dan yang lainnya juga meriwayatkan yang semakna dengan hadits ini.
[3] HR. Al-Imam Al-Bukhari dan lainnya.
[4] HR. Al-Imam Al-Bukhari dan lainnya.

Keutamaan puasa rajab

Hadits-Hadits Lemah Seputar Puasa Rajab

Di awal kitabnya yang berjudul Izhharul ‘Ajab fii Bida’i Syahri Rojab hal. 7-28, ‘Uqail bin Zaid Al-Muqthiry -hafizhohullah- menyebutkan 29 hadits mengenai keutamaan bulan Rajab, 20 hadits di antaranya berkenaan dengan keutamaan berpuasa di bulan Rajab. Akan tetapi semua hadits-hadits tersebut beliau hukumi sebagai hadits yang lemahtidak ada satupun yang shohih-, bahkan tidak sedikit di antaranya yang merupakan hadits palsu. Berikut kami akan nukilkan sebagian di antaranya:
1. Dari Abu Sa’id Al-Khudry -radhiallahu Ta’ala ‘anhu- secara marfu’, “…Barangsiapa yang berpuasa di bulan Rajab karena keimanan dan mengharap pahala, maka wajib (baginya mendapatkan) keridhoan Allah yang terbesar”.
Ibnul Jauzy –rahimahullah- berkata dalam Al-Maudhu’at (2/206), “Ini adalah hadits palsu atas Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-”.
Dan hadits ini juga dinyatakan palsu oleh As-Suyuthy dalam Al-La`alil Mashnu’ah2 (2/114), Ibnu Hajar dalam Tabyinul ‘Ajab, dan Ibnu Qoyyim dalam Al-Manar hal. 95.

2. Dari Anas -radhiallahu Ta’ala ‘anhu- secara marfu’, “Barangsiapa yang berpuasa 3 hari di bulan Rajab, Allah akan menuliskan baginya (pahala) puasa sebulan. Barangsiapa yang berpuasa 7 hari di bulan Rajab, Allah akan menutup baginya 7 pintu neraka. Barangsiapa yang berpuasa 8 hari di bulan Rajab, Allah akan membukakan baginya 8 pintu surga. Barangsiapa yang berpuasa setengah bulan dari bulan Rajab, Allah akan menetapkan baginya keridhoan-Nya, dan barangsiapa yang Allah tetapkan untuknya keridhoan-Nya maka Dia tidak akan menyiksanya. Dan barangsiapa yang berpuasa Rajab sebulan penuh, maka Allah akan menghisabnya dengan hisab yang mudah”.
Ibnul Jauzy –rahimahullah- berkata, “Ini adalah hadits yang tidak shohih”, dan beliau menyebutkan bahwa di dalam sanadnya ada rowi yang bernama Aban –dan dia adalah rowi yang ditinggalkan haditsnya (arab: Matruk)- dan ‘Amr ibnul Azhar –sedang dia adalah seorang pembuat hadits palsu-.
Semisal dengannya dinyatakan oleh As-Suyuthy dalam Al-La`alil (2/115).

3. Dari ‘Ali –radhiallahu Ta’ala ‘anhu- secara marfu’, “Barangsiapa yang berpuasa satu hari darinya –yakni dari bulan Rajab- maka Allah akan menuliskan baginya (pahala) berpuasa 1000 tahun”.
Ibnul Jauzy –rahimahullah- berkata, “Ini adalah hadits yang tidak shohih”. Di dalam sanadnya ada rowi yang bernama Ishaq bin Ibrahim Al-Khotly, seseorang yang diangap pemalsu hadits. Oleh karena itulah hadits ini dinyatakan palsu oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dan Imam As-Suyuthy.

4. Dari Abu Dzar –radhiallahu Ta’ala ‘anhu- secara marfu’, “Barangsiapa yang berpuasa sehari di bulan Rajab, maka (nilai puasanya) setara dengan puasa sebulan …”.
Di dalam sanadnya terdapat Al-Furot ibnus Sa‘ib, Ibnu Ma’in berkata tentangnya, “Tidak ada apa-apanya (arab: Laisa bisyay‘in)”, Al-Bukhary dan Ad-Daruquthny berkata, “Ditinggalkan haditsnya (arab: Matruk)”. Dan hadits ini dihukumi palsu oleh As-Suyuthy –rahimahullah- dalam Al-La`alil (2/115).

5. Dari Al-Husain bin ‘Ali radhiallahu Ta’ala ‘anhu secara marfu’, “Barangsiapa yang menghidupkan satu malam dari Rajab (dengan ibadah) dan berpuasa satu hari (darinya), maka Allah akan memberi dia makan dari buah-buahan surga dan Allah akan memakaikan dia sutra dari surga …”.
Ibnul Jauzy –rahimahullah- berkata, “Ini adalah hadits palsu, yang tertuduh memalsukannya adalah Hushoin”. Imam Ad-Daruquthny berkomentar tentang orang ini, “Dia sering membuat hadits (palsu)”.

6. Dari Anas –radhiallahu Ta’ala ‘anhu- secara marfu’, “Barangsiapa yang berpuasa pada hari Kamis, Jum’at, Sabtu di setiap bulan haram, maka akan dituliskan baginya ibadah 700 tahun”.
Al-Hafizh Ibnu Hajar –rahimahullah- berkata, “Kami meriwayatkannya dalam Fawa`id Tammam Ar-Rozy dan di dalam sanadnya terdapat rowi-rowi yang lemah dan yang tidak dikenal”.

7. Dari Anas –radhiallahu Ta’ala ‘anhu-, secara marfu’, “Sesungguhnya di dalam surga ada sebuah sungai yang bernama Rajab, airnya lebih putih daripada susu dan lebih manis daripada madu. Barangsiapa yang berpuasa sehari di bulan Rajab maka Allah akan memberi minum kepadanya dari sungai tersebut”.
Hadits ini dari jalan Manshur bin Zaid dari Muhammad ibnul Mughirah, Adz-Dzahaby berkata tentang Manshur, “Tidak dikenal dan haditsnya batil”. Dan Ibnul Jauzy berkata –setelah membawakan hadits ini dalam Al-‘Ilalul Mutanahiyah (2/555)-, “Hadits ini tidak shohih, di dalamnya ada rowi-rowi yang majhul, kami tidak mengetahui siapa mereka”.

8. Dari Abu Hurairah –radhiallahu Ta’ala ‘anhu- beliau berkata, “Sesungguhnya Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam tidak pernah berpuasa setelah Ramadhan kecuali pada bulan Rajab dan Sya’ban”.
Berkata Al-Hafizh, “Ini adalah hadits yang mungkar dikarenakan Yusuf bin ‘Athiyyah, dia adalah (rowi) yang sangat lemah”.

9. Dari Anas –radhiallahu Ta’ala ‘anhu- secara marfu’, “Aku diutus sebagai nabi pada tanggal 27 Rajab, barangsiapa yang berpuasa pada hari itu maka hal itu merupakan kaffarah (penghapus dosa) selama 60 bulan”.
Al-Hafizh –rahimahullah- berkata, “Kami meriwayatkannya dalam Juz min Fawa`id Hannad An-Nasafy dengan sanad yang mungkar”.
Dan dalam hadits ‘Ali secara marfu’, “ … Barangsiapa yang berpuasa pada hari itu dan berdo’a ketika dia berbuka maka hal itu merupakan kaffarah selamah 10 tahun”.
Al-Hafizh berkomentar tentangnya, “Kami meriwayatkannya dalam Fawa`id Abil Hasan bin Shokhr dengan sanad yang batil”.