Menggapai Keridhoan Allah Ta’ala

Menggapai Keridhoan Allah Ta’ala

Karya: Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al Badr hafidzahullah

Judul Asli:

تأملات في قوله تعالى:( وَرِ‌ضْوَانٌ مِّنَ اللَّـهِ أَكْبَرُ‌) 

Segala puji bagi Allah, dengan puji-pujian yang baik dan penuh keberkahan, sebagaimana yang Rabb kami cintai dan ridhoi.

Ya Allah, segala puji hanya milik-Mu, atas semua nikmat yang telah Engkau berikan kepada kami baik di waktu yang telah lalu ataupun di masa kini, baik yang tersembunyi maupun yang terlihat, baik yang khusus ataupun yang umum.

Ya Allah, segala puji hanya pada-Mu atas keislaman dan keimanan kami.  Segala puji hanya untuk-Mu atas kenikmatan Al-Quran. Segala puji atas-Mu Ya Allah atas nikmat kesehatan, istri, anak dan harta.

Ya Allah, puji-pujian tercurah untuk-Mu hingga Engkau ridho dan ketika Engkau telah ridho.

Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang patut disembah melainkan hanya Allah semata. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan rosul-Nya, semoga sholawat tercurah atas beliau, keluarga dan para sahabatnya. Amma Ba’du :

Ini adalah risalah yang agung, terkait dengan perenungan dan tadabbur  sepenggal firman Allah Ta’ala dalam surat At Taubah ayat 72:(وَرِ‌ضْوَانٌ مِّنَ اللَّـهِ أَكْبَرُ‌ ).

Marilah kita sejenak memperhatikan apa yang terkandung dalam ayat yang penuh makna dan faedah  ini. Yang menjelaskan kedudukan seorang mukmin yang tinggi dalam beramal sholeh untuk menggapai keridhoan Allah Ta’ala. Allah Ta’ala menyediakan bagi mereka pahala yang besar, sebagaimana dalam  firman Nya:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُ‌ونَ بِالْمَعْرُ‌وفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ‌ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّـهَ وَرَ‌سُولَهُ ۚ أُولَـٰئِكَ سَيَرْ‌حَمُهُمُ اللَّـهُ ۗ إِنَّ اللَّـهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ ﴿٧١ وَعَدَ اللَّـهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِ‌ي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ‌ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ۚ وَرِ‌ضْوَانٌ مِّنَ اللَّـهِ أَكْبَرُ‌ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ ﴿٧٢

Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, dan (mendapat) tempat yang baik di surga ‘Adn. Dan keridhoan Allah lebih besar (dari semua itu). Itulah kemenangan yang agung.” (QS. At Taubah: 71-72)

Pertama-tama Allah Ta’ala menyebut amal ibadah berupa ketaatan kepada Nya, Rasulnya, menegakkan kewajiban-kewajiban dalam Islam, menyuruh kepada yang baik, mencegah dari yang munkar kemudian baru menyebutkan pahala dan balasan berupa surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, kemudian menyebut tempat yang agung, ruangan-ruangan yang disediakan untuk penghuninya, dan terakhir disusul dengan sesuatu yang lebih besar lagi, yaitu keridhoan Allah ta’ala. Dalam firman Nya: “Dan keridhoan Allah lebih besar kemudian ditutup dengan ayat: Itulah kemenangan yang agung.” Ini adalah  satu bentuk pengungkapan yang sangat indah.

Setelah ayat “Dan keridhoan Allah lebih besartidak disebutkan lagi keutamaan berikutnya, ini menunjukkan akan keagungan keridhoan Allah Ta’ala, karena itu adalah kenikmatan yang paling besar dan pemberian yang mulia.

Ini juga menunjukkan bahwa keridhoan Allah Ta’alatermasuk dari sifat Nya serta surga beserta isinya adalah  makhluk Allah Ta’ala. Dan keridhoan Allah Ta’alalebih besar dari surga, bahkan lebih besar dari segala kenikmatan yang ada didalam surga karena ia adalah semulia-mulia pemberian.

Ayat ini dijelaskan lebih rinci lagi dalam hadits riwayat Bukhori dan Muslim dalam kitab shohihnya dari Abu Sa’id Al Khudri, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَقُولُ لِأَهْلِ الْجَنَّةِ : ” يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ ” ، فَيَقُولُونَ : لَبَّيْكَ رَبَّنَا وَسَعْدَيْكَ ، فَيَقُولُ : ” هَلْ رَضِيتُمْ، فَيَقُولُونَ : وَمَا لَنَا لَا نَرْضَى ، وَقَدْ أَعْطَيْتَنَا مَا لَمْ تُعْطِ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ ، فَيَقُولُ : ” أَنَا أُعْطِيكُمْ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ ” ، قَالُوا : يَا رَبِّ ، وَأَيُّ شَيْءٍ أَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ ، فَيَقُولُ : ” أُحِلُّ عَلَيْكُمْ رِضْوَانِي فَلَا أَسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أَبَدًا

Sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala  berfirman kepada penghuni surga:”Wahai penduduk surga.” Merekapun menjawab serentak: ya  Tuhan kami, kami menyambut pangilanMu dan seluruh kebaikan berada ditanganMu. Allah berfirman: “Apakah kalian rela.” Merekapun menjawab: Bagaimana kami tidak rela wahai Tuhan kami, Engkau telah memberikan sesuatu yang tidak pernah diberikan kepada seorangpun dari makhluk-Mu. Allah berfirman: ”Ingatlah Aku akan berikan kepada kalian yang lebih baik dari itu.”Mereka bertanya: Wahai Tuhan, apakah gerangan yang lebih baik dari itu ?. Allah menjawab:”Aku menghalalkan kepada kalian keridhoanKu dan Aku tidak membenci kalian untuk selama-lamanya. (HR. Bukhari No. 5649  dan Muslim No. 2819)

Disebutkan Al Hakim dalam Al Mustadrok, dari Jabir bin Abdillah rodhiyallahu ‘anhuma, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : ” هَلْ تَشْتَهُونَ شَيْئًا فَأَزِيدَكُمْ ؟ ” فَنَقُولُ : يَا رَبِّ مَا فَوْقَ مَا أَعْطَيْتَنَا ، فَيَقُولُ : ” رِضْوَانِي الأَكْبَرُ ” .

“Jika penghuni surga telah masuk kedalam surga, Allah berfirman: apakah kalian menginginkan sesuatu? nanti akan Aku tambahkan. mereka berkata: wahai Tuhan kami, apakah ada sesuatu diatas apa yang telah engkau berikan kepada kami?, Allah berfirman: keridhoan-Ku adalah yang paling besar.[1](HR. Al Hakim 1/156)

Al Hasan Al Basri berkata: “Sampai kepada hati-hati mereka keridhoan Allah. Ini adalah satu kelezatan dan kebahagiaan tiada tara, yaitu di surga kelak. (Tafsirul Quran Al Aziz 2/219).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “saya memperhatikan, sebaik-baik doa adalah jika seorang hamba meminta pertolongan kepada yang memiliki keridhoan, kemudian aku melihatnya pada surat Al Fatihah pada ayat (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ) (Madarijus Salikin  1/100).

Sebaik-baik peminta adalah orang yang meminta pertolongan kepada Allah ta’ala. Ibnul Qoyyim berkata: “Oleh sebab itu, keridhoan adalah pintu Allah yang paling agung, surga dunia, kehidupan orang-orang yang mencintai, kenikmatan para ahli ibadah dan penyejuk pandangan bagi orang-orang yang rindu.” (Madarijus Salikin 2/174)

Oleh sebab itu hendaknya setiap muslim menanamkan ayat ini dalam hatinya dan senantiasa bersemangat untuk selalu mengingatnya dalam segala keadaan karena jika ayat ini sudah tertanam dalam hati maka akan tercapai tujuan hidup sehingga seluruh langkah dalam kehidupannya menjadi baik.

Firman Allah Ta’ala😦وَرِ‌ضْوَانٌ مِّنَ اللَّـهِ أَكْبَرُ‌ ) terkandung kelembutan yang agung, menunjukkan akan keagungan dan betapa pentingnya keridhoan ini. Hal ini telah diterangkan oleh para ulama ahli tafsir didalam kitab-kitab mereka sebagai berikut:

  1. Athof  (bersambung) kata ridhwan dengan kalimat sebelumnya berupa athof jumlah, bukan athof mufrod, ini menunjukkan bahwa kata tersebut mengandung keutamaan yang terpisah dan berbeda secara keseluruhan dari kalimat sebelumnya, yaitu kenikmatan surga.
  2. Firman Allah وَرِ‌ضْوَانٌُ‌)) dengan bentuk nakiroh (umum), ini menunjukkan akan agung dan betapa pentingnya perkara tersebut.
  3. Firman Allahوَرِ‌ضْوَانٌ‌))dengan bertanwin, ini menunjukkan akan keagungan perkara tersebut.
  4. Firman Allahوَرِ‌ضْوَانٌ))berbentuk marfu’, menunjukkan akan pentingnya perkara tersbut.
  5. Firman Allah(وَرِ‌ضْوَانٌ مِّنَ اللَّـهِ أَكْبَرُ‌ ) tidak disebutkan (مِنْهُ). Penyebutan lafadz Allah disini menunjukkan betapa agungnya keridhoan ini, karena disandarkan kepada Allah ta’ala.
  6. Firman Allah(وَرِ‌ضْوَانٌ مِّنَ اللَّـهِ أَكْبَرُ‌ ) tidak disebutkan (رِضَا), ini menunjukkan kata(رِ‌ضْوَانٌ ) memiliki arti lebih dan juga penambahan huruf alif dan nun menunjukkan akan kuat dan agungnya  keridhoan ini. Demikian dikatakan oleh ahlul ilmi.
  7. Firman Allah(وَرِ‌ضْوَانٌ مِّنَ اللَّـهِ أَكْبَرُ‌ ), tidak disebutkan(وَرِ‌ضْوَانُ اللَّـهِ أَكْبَرُ‌ ), ini menunjukkan padanya ada kelembutan yang agung, yaitu bahwa keridhoan ini jika diraih dengan mudah oleh seorang hamba maka ia lebih utama daripada surga dan seisinya. Akan tetapi perkara itu tidak semudah seperti yang mereka sangka. Seorang penyair berkata:

 

Sedikit darimu mencukupkanku

                                                Tetapi sedikitmu tidak dikatakan sedikit

 

Ini semua menunjukkan akan keagungan dan kemuliaan hal ini. Maka setiap muslim yang berakal hendaknya bangkit sebelum kehilangan keagungan dan keutamaan yang bagus ini.

 

Maka wajib bagi siapa saja yang merindukan, mendambakan dan cinta kepada keridhoan ini, hendaknya ia menyiapkan dirinya untuk menyongsongnya, bukan menyibukkan diri dengan hal-hal yang melalaikan. Karena didalam ayat Al-Quran dijelaskan betapa banyak orang-orang lalai dari mengharap keridhoan ini, melupakan begitu saja akan hal ini. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ‌ الْمُقَنطَرَ‌ةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْ‌ثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّـهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ ﴿١٤ قُلْ أَؤُنَبِّئُكُم بِخَيْرٍ‌ مِّن ذَٰلِكُمْ ۚ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِندَ رَ‌بِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِ‌ي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ‌ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَ‌ةٌ وَرِ‌ضْوَانٌ مِّنَ اللَّـهِ ۗ وَاللَّـهُ بَصِيرٌ‌ بِالْعِبَادِ ﴿١٥الَّذِينَ يَقُولُونَ رَ‌بَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ‌ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ‌ ﴿١٦ الصَّابِرِ‌ينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِ‌ينَ بِالْأَسْحَارِ‌ ﴿١٧

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, berupa: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).(14) Katakanlah, ‘Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?’ Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) istri-istri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.(15) (Yaitu) orang-orang yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka,(16)” (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.(17)” (QS. Ali Imron: 14-17)

Orang-orang yang mengharapkan keridhoan dari Allah Ta’ala, mereka senantiasa berusaha selalu dalam ketaatan, tidak menyibukkan diri dari selainnya.

Salah satu contoh dari orang-orang yang menyibukkan diri dan berpaling dari keridhoan Allah Ta’ala, adalah sebagaimana tercantum dalam ayat berikut:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ‌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ‌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ‌ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَ‌اهُ مُصْفَرًّ‌ا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَ‌ةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَ‌ةٌ مِّنَ اللَّـهِ وَرِ‌ضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُ‌ورِ‌

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan,seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhoan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.” (QS. Al Hadid: 20)

 

Penyebutan ‘keridhoan’ dalam ayat ini sebagai peringatan kepada para hamba Nya, agar jangan sampai menyibukkan diri dengan hal-hal yang melalaikan sehingga bisa melenceng dan tidak mendapatkan keridhoan yang agung.

 

Untuk meraih keridhoan Allah Ta’ala, seorang hamba hendaknya berpegang kepada kitabullah dan sunnah nabi Nya, dengan meperhatikan dua poin berikut:

 

Pertama: Mencari Keridhoan

 

Terkait hal ini, Allah Ta’ala berfirman:

 

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِ‌ي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْ‌ضَاتِ اللَّـهِ ۗ وَاللَّـهُ رَ‌ءُوفٌ بِالْعِبَادِ

 

Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhoan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hambaNya(QS. Al Baqoroh: 207)

 

Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman:

 

وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْ‌ضَاتِ اللَّـهِ

 

Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhoan Allah.” (QS. Al Baqoroh: 265)

 

Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman:

 

لَّا خَيْرَ‌ فِي كَثِيرٍ‌ مِّن نَّجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ‌ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُ‌وفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْ‌ضَاتِ اللَّـهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرً‌ا عَظِيمًا

 

Tidak ada kebaikan pada kebanyakan pembicaraan rahasia mereka, kecuali pembicaraan rahasia dari orang yang menyuruh (manusia) bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Barang siapa berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar.(QS. An Nisa: 114)

 

Dalam ayat lain Allah ta’ala berfirman:

 

مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ

 

Kami tidak mewajibkannya kepada mereka (yang Kami wajibkan hanyalah) mencari keridhaan Allah.” (QS. Al Hadid: 27)

 

Ayat-ayat yang semakna dengan ini sangat banyak sekali jumlahnya.

 

Kedua: Mengikuti Keridhoan

 

Allah Ta’ala berfirman:

 

أَفَمَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَ اللَّهِ كَمَنْ بَاءَ بِسَخَطٍ مِنَ اللَّهِ وَمَأْوَاهُ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

 

Maka apakah orang yang mengikuti keridaan Allahsama dengan orang yang kembali membawa kemurkaan dari Allahdan tempatnya di neraka Jahannam? Itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. Ali Imron: 162)

Dalam ayat lain Allah Ta’ala berfirman:

 

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ (173 ( فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ

 

(yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rosul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya orang-orangtelah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, ternyata ucapan itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi penolong bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung”.Maka mereka pulang dengan membawa nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa dan mereka mengikuti keridhoan Allah. Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Ali Imron: 173-174)

Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa keridhoan Allah Ta’ala dapat diraih dengan 2 perkara, yaitu:

Pertama, mencari keridhoan Allah Ta’ala, yaitu ikhlas dalam beramal dan murni hanya ditujukan dan mengharap pahala dari Nya. Tidak mengharapkan sesuatu dalam amalnya selain keridhoan-Nya.

Adapun amalan yang terbangun padanya riya’, sum’ah, dan mengharap ketenaran maka  semua itu menjadi penyebab seorang hamba tidak mendapat keridhoan-Nya.

Dan jika seorang hamba mengharapkan keridhoan Allah ta’ala selain dari hal tersebut maka Allah tidak akan menerima amalannya meskipun amalan itu besar. Oleh sebab itu Allah ta’ala berfirman didalam hadits qudsi:

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ؛ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ مَعِي غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

Aku adalah Dzat Yang Maha Kaya, Yang Paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa beramal dan menyekutukan Aku dalam amalan itu, maka Aku meninggalkannya dan sekutunya.” (HR. Muslim No. 2985)

Kedua, Mengikuti Keridhoan Allah Ta’ala, yaitu bersemangat untuk melakukan amalan yang telah datang dari nabi shollallahu ‘alaihi wasallam. Karena sesungguhnya keridhoan Allah Ta’alatidak dapat diraih kecuali dengan mengikuti petunjuk nabi-Nya. Allah Ta’ala berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا

 

Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Kubagimu, dan telah Aku ridhoi Islam sebagai agamamu.” (QS. Al  Maidah: 3)

 

Agama yang dimaksud disini adalah agama yang diridhoi Allah ta’ala kepada para hamba-Nya, yang jika diikuti maka akan mendapatkan keridhoan dari Nya. Ayat-ayat yang telah disebutkan diatas maknanya adalah ini, yaitu hendaknya seorang muslim beramal sesuai dengan apa yang diridhoi-Nya dan sesuai dengan petunjuk nabi shollallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam sebuah kitabnya: “Barangsiapa menginginkan keridhoan Allah, maka tapakilah jalan yang membuat Allah ridho.”

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “ini adalah perkataan puncaknya kebaikan; yaitu barangsiapa yang menapaki jalan yang diridhoi, berupa menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, menjalankan yang wajib dan sunnah, maka Allah ridho kepadanya.” (Majmu Fatawa 10/681,686)

 

Barangsiapa menginginkan keridhoan Allah, maka hendaknya mengikuti dan menapaki jalan hidup nabi shollallahu ‘alaihi wasallam yang lurus.

 

Maka dua poin ini, yaitu mencari keridhoan dan mengikuti keridhoan, akan mengantarkan seorang hamba meraih keridhoan-Nya. Dan seluruh ayat yang semakna dengan ini semuanya kembali kepada dua poin ini.

 

Fudhail bin Iyadh berkata ketika menafsirkan surat Hud ayat 7, firman Allah ta’ala: لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا)) (yang artinya): “Untuk menguji diantara kamu siapa yang paling bagus amalnya.” Beliau berkata: “yaitu yang paling ikhlas dan paling benar amalnya.” ditanyakan kepadanya, wahai Abu Ali, apa yang dimaksud yang paling ikhlas dan paling benar amalnya?. Beliau menjawab: ”Sesungguhnya jika sebuah amal dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar maka tidak  diterima. Dan jika amalan benar tetapi tidak ikhlas maka tidak diterima juga, sampai menjadi  ikhlas dan benar.  Ikhlas yaitu murni ditujukan kepada Allah sedangkan benar yaitu sesuai sunnah nabi.” (Hilyah Aulia 8/95)

 

Dua poin yang telah disebutkan tadi telah dikumpulkan pada penutupan surat Al Kahfi:

 

فَمَن كَانَ يَرْ‌جُو لِقَاءَ رَ‌بِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِ‌كْ بِعِبَادَةِ رَ‌بِّهِ أَحَدًا

 

Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan amal yang sholeh dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al Kahfi: 110).

Ini adalah penjelasan tentang  mengikuti keridhoan Allah. Adapun ayat  (وَلَا يُشْرِ‌كْ بِعِبَادَةِ رَ‌بِّهِ أَحَدًا) adalah penjelasan tentang mencari keridhoan dengan cara mengikhlaskan amal hanya kepada Allah Ta’ala.

Setiap mukmin hendaknya bersegera menuju kebaikan dengan tidak mengulur waktu atau mengakhirkan. Dalam masalah ini yang pantas jadi teladan adalah para nabi dan rosul. Sebagaimana Allah menjelaskan tentang nabi Musa alaihissalam:

وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَ‌بِّ لِتَرْ‌ضَىٰ

“Aku bersegera kepada-Mu, ya Tuhanku, agar Engkau ridho.” (QS. Thoha: 84)

 

Para ulama berkata, diantaranya adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “Sesungguhnya hukum asal seorang hamba hendaknya dia bersegera menggapai keridhoan Allah dengan tidak mengulur-ulur atau menundanya. Betapa banyak manusia menunda beramal hingga akhirnya didahului oleh ajalnya sehingga ia tak bisa merealisasikan amalannya, sebelum ia mendapatkan kemenangan.”

 

Maka wajib bagi seorang hamba untuk melangkah menuju keridhoan Allah Ta’ala, berjalan ke arahnya dengan penuh semangat dan istiqomah.

 

Imam Ahmad meriwayatkan dari Tsauban rodhiyallahu ‘anhu bahwa nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba yang melangkah menuju keridhoan Allah dan ia senantiasa berada diatasnya, maka Allah berfirman kepada Jibril: Sesungguhnya fulan adalah hamba-Ku yang sedang mencari keridhoan-Ku, ketahuilah bahwa  rahmat-Ku ada padanya, maka Jibril berkata: semoga Rahmat Allah menimpa atas fulan, itu dikatakan pula oleh malaikat pembawa Arsy dan sekelilingnya, sampai penduduk langit ketujuh, kemudian turun, yaitu kepadanya dibumi.” (HR. Ahmad no. 22401)

 

Ketika berbicara tentang keridhoan Allah Ta’ala dan jalan menuju kepadanya, hendaknya kita meniru suri tauladan para hamba yang telah menghabiskan waktunya untuk melakukan amalan-amalan dalam rangka mengejar keridhoan-Nya. Oleh sebab itu benak kita langsung terbayang kepada para nabi. Setelah para nabi kemudian baru kepada para sahabat, karena para sahabat nabi telah dijelaskan bahwa Allah Ta’la telah ridho kepada mereka. Ini adalah satu bentuk kemuliaan bagi mereka.

 

Keridhoan Allah Ta’ala kepada para sahabat nabi ini telah disebutkan didalam Taurat, sebelum para sahabat nabi diciptakan. Hal ini dijelaskan didalam Al Quran:

 

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الإنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu meihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat, adapun sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Injil adalah seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.(SQ. Al Fath: 29)

Didalam Taurat, para sahabat nabi telah disebutkan kemuliaannya sebelum mereka diciptakan diatas muka bumi. Begitupun didalam Injil disebutkan pula, seperti pada ayat diatas: “sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Injil adalah seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin).”

Para sahabat nabi telah mempraktekkan hal itu (sebagaimana disebut dalam ayat tadi). Dalam sejarah, mereka adalah orang-orang yang berada pada tingkatan kedua, setelah para nabi. Allah Ta’ala berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ

 

Kamu adalah umat yang terbaik yang dikeluarkan untuk manusia.” (QS Ali Imron: 110)

 

Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah generasiku.” Ini adalah bentuk kebaikan seluruh umat para nabi. Khusus terkait sahabat nabi, Rosulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda: “Abu Bakar dan Umar adalah tetuanya penduduk surga dari awal hingga akhir, keduanya bukan dari golongan nabi dan rosul.” (HR. Ibnu Majah no. 95)

 

Keutamaan, kemuliaan dan ketinggian kedudukan mereka tidak hanya diberikan kepada mereka (yang telah disebut saja) tetapi kepada seluruh umat ini karena sejarah mereka semuanya untuk merealisasikan dan menggapai keridhoan Allah Ta’ala. Oleh sebab itu kekuatan bisa ditimbang dengan peraihan keridhoan tersebut.

 

Para sahabat nabi saling berlomba-lomba dalam meraih keridhoan Allah Ta’ala, sehingga turun ayat yang menjelaskan keridhoan Allah kepada mereka. Seperti dalam perang Uhud. Ketika usai perang, kaum muslimin kembali ketempat mereka (Madinah) dan kaum musyrikin ke Mekkah. Saat itu kaum muslimin banyak yang terluka parah, nabi mengumumkan agar bersegera untuk mengejar kaum musyrikin.

 

Wahai saudara, engkau bayangkan dengan keadaan mereka terluka, berdarah-darah, dan kepayahan saat itu, tetapi tidak ada yang pergi lari meninggalkan nabi saat itu. Mereka bersegera memenuhi panggilan, mendengar dan taat kepada nabi. Nabi member kabar gembira bagi mereka yang mati syahid pada perang Uhud. Mereka pergi ke hamro al asad[2] menuju selatan Madinah. Tentang hal ini Allah Ta’ala berfirman:

 

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ (173) فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ (١٧٤)

“(yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rosul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya orang-orang telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, ternyata ucapan itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi penolong bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung”. Maka mereka pulang dengan membawa nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa dan mereka mengikuti keridhaan Allah. Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Ali Imran: 173-174)

Ini adalah satu bentuk amalan mengikuti keridhoan Allah ta’ala dengan persaksian-Nya kepada mereka, tercantum dalam ayat: “Dan mereka mengikuti keridhaan Allah. Allah mempunyai karunia yang besar.” yaitu mereka yang telah mendapatkan kemuliaan ini.

Para ulama berkata: “Raihlah kemenangan pahala perang sempurna dengan tanpa bertemu musuh tetapi Allah Ta’ala timpakan kepada hati-hati orang kafir rasa takut, maka mereka lari  menuju Mekkah dalam keadaan kalah.”

Pada saat perjanjian Hudaibiyah nabi shollallahu ‘alaihi wasallam mendoakan para sahabatnya dan membaiat mereka dibawah pohon, mereka berjumlah lebih dari 1400 orang, setia kepada Islam untuk berperang sampai ajal menjemput, tak ada satupun diantara mereka yang ragu. Allah Ta’ala berfirman:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

 

Sungguh, Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon. Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka, lalu Dia memberikan ketenangan atas merekadan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat.” (QS. Al Fath: 18)

 

Maksud dari kemenangan tersebut adalah penaklukan Khoibar, sehingga mendapatkan ghonimah yang banyak.

 

Ini adalah perilaku sahabat nabi dalam menggapai keridhoan Allah Ta’ala.

 

Dan yang terbaik diantara mereka dalam masalah ini adalah Shiddiq-nya umat ini (Abu Bakar, pent) rodhiyallahu ‘anhu. Ketika Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan keadaan Bilal rodhiyallahu ‘anhu yang sedang disiksa, Abu Bakar bergegas pergi untuk membeli Bilal dari majikannya, dan kemudian memerdekakannya.

Abu Bakar juga memerdekakan enam orang lainnya yang juga mengalami siksaan hanya karena mereka berpegang dengan ajaran Allah. Dalam hal ini, turunlah firman Allah Ta’ala :

وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى ﴿١٧﴾ الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّىٰ ﴿١٨﴾ وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُ مِن نِّعْمَةٍ تُجْزَىٰ ﴿١٩﴾ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَ‌بِّهِ الْأَعْلَىٰ ﴿٢٠﴾ وَلَسَوْفَ يَرْ‌ضَىٰ ﴿٢١

Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu,yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya,padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya,tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi, Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.” (QS Al-Lail : 17-21)

Maksudnya : Abu Bakar telah membuat Allah ridho, karena ia telah bersegera dan bergegas menggapai keridhoan Allah. Dan adalah keridhoan Allah merupakan tujuan utamanya, serta akhir dari keinginan Abu Bakar rodhiyallahu ‘anhu wa ardhohu. (lihat : Jamiul Bayan, Imam Ath-Thobary 24/479)

Allahu Akbar!! Inilah puncak dari kedudukan yang mulia dan kehormatan yang agung, yang Alloh jadikan bagi mereka –yaitu keridhoan-Nya- untuk bisa menjadi pelajaran bagi kita. Yaitu bagaimana Allah membuka untuk umat dari dulu hingga zaman ini, yang Allah telah wariskan dunia ini kepada kita, tidaklah seorang sahabat nabi disebutkan melainkan pasti disandingkan dengan doa keridhoan untuknya.

Sehingga seorang yang ketika menyebutkan nama sahabat dan lupa mendoakan keridhoan baginya bisa diingatkan. Dikatakan kepadanya : Engkau belum mendoakan keridhoan dari Allah bagi sahabat Nabi. Semoga Allah meridhoi seluruh sahabat Nabi dan menganugerahkan kepada kita kecintaan kepada mereka dan mendapatkan keridhoan-Nya.

Allahu Akbar!! Mendoakan keridhoan Allah bagi para sahabat menjadi hal yang disandingkan setelah nama-nama mereka disebut, di sepanjang zaman. Bahkan nama-nama mereka disebutkan di setiap hari-harinya kaum muslimin, sejak zaman mereka hingga sekarang ini, hingga Allah wariskan dunia ini kepada kita.

Maka, berapa banyakkah doa keridhoan yang dipanjatkan untuk mereka dalam setiap hari? Seribu kalikah? Atau ribuan kali? Atau berjuta-juta? Tidak akan ada yang bisa menghitungnya melainkan hanya Allah semata.

Maka anugerah yang Allah berikan kepada umat ini, agar mereka selalu mendoakan keridhoan bagi para sahabat, serta memberikan taufik kepada umat agar mereka tetap memelihara doa untuk para sahabat. Inilah anugerah dari Allah yang menjaga kehormatan para sahabat dalam ridho-Nya.

Dan apabila Allah telah membukakan pintu doa bagi para hamba-Nya, Allah akan bukakan bagi mereka pintu-pintu rahmat dan mengabulkan permintaan-permintaan mereka. Allah berfirman :

وَقَالَ رَ‌بُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu (QS Ghofir : 60 ).

Doa seorang saudara kepada saudaranya yang lain tanpa sepengetahuannya merupakan doa yang mustajab. Maka lihatlah sepanjang sejarah dan zaman, betapa banyaknya doa yang dilantunkan oleh kaum mukminin untuk keridhoan bagi para sahabat yang mulia. Dan betapa banyaknya keridhoan yang Allah berikan kepada para sahabat yang mulia.

Dan ketika seorang muslim membicarakan para sahabat serta kedudukan mereka yang mulia, tidak selayaknya pembicaraan tersebut kosong dari keinginan untuk meneladani mereka. Karena sikap seperti ini menjadikan seseorang tidak bisa mengambil faedah dari sejarah para sahabat dan jalan hidup mereka.

Sesungguhnya seseorang akan mendapatkan faedah tatkala membaca jalan hidup dan kisah para sahabat, ia menjadikan mereka sebagai suri tauladan. Ia kemudian betul-betul meneladani mereka demi mendapatkan keridhoan Allah. Makna inilah yang telah ditetapkan dalam firman Allah Ta’ala :

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِ‌ينَ وَالْأَنصَارِ‌ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّ‌ضِيَ اللَّـهُ عَنْهُمْ وَرَ‌ضُوا عَنْهُ

“Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah.” (QS At-Taubah : 100).

Dalam ayat ini Allah juga memberikan keridhoan-Nya bagi “orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik”. Dan bagian keridhoan dari Allah ini berbanding lurus dengan peneladanan seorang mukmin kepada para sahabat dalam tempat-tempat dalam kitab-Nya.

Kemudian berikutnya adalah bahwa peringatan juga ditujukan kepada siapa saja yang dalam hatinya terdapat rasa iri, dendam, benci ataupun permusuhan terhadap para sahabat Nabi –wal ‘iyadzu billah-, baik secara umum maupun secara personal.

Keberadaan perasaan-perasaan jelek tersebut merupakan tanda dan ciri yang nyata bahwa orang itu telah merugi dengan tidak mendapatkan keridhoan dari Allah. Bagaimana mungkin seseorang bisa memiliki perasaan benci dan iri terhadap sebuah kaum yang memiliki kedudukan tinggi di hadapan Allah. Bahkan Allah telah mengikrarkan keridhoan-Nya kepada mereka dalam banyak ayat-Nya.

Lebih jauh lagi adalah orang- orang yang menyibukkan keseharian mereka dengan melaknati para sahabat. Menjadikan laknat-laknat tersebut sebagai bagian dari wirid harian yang terus menerus didengungkan demi kebencian mereka terhadap para sahabat, terutama para sahabat pilihan seperti Abu Bakar, Umar, Aisyah dan Hafshoh rodhiyallohu ‘anhum.

Sungguh buruk sekali orang yang seperti ini. Dan sungguh besar kerugian yang ia dapat.

Betapa jauhnya ia dari keridhoan Allah. Sesungguhnya para sahabat tidaklah membahayakan bagi mereka laknat orang-orang yang melaknat, ataupun celaan dari orang-orang yang mencela. Keadaan para sahabat adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Dikatakan kepada Aisyah : “Sesungguhnya ada manusia yang berbuat begini dan begitu (mencela, pent) terhadap para sahabat Rosul sampai-sampai diantara mereka ada yang berbuat begini dan begitu terhadap Abu Bakar dan Umar”.

Aisyah rodhiyallahu ‘anha menjawab : “Sesungguhnya perbuatan mereka telah memutus  mereka. Dan Allah ingin agar pahala mereka (sahabat) tidak terputus”. (Dikeluarkan oleh Khotib Al-Baghdadi dalam Tarikhnya, 11/275, dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 44/387).

Maka para pencela yang menyibukkan waktu mereka dengan mencela sahabat, tidaklah memudhorotkan sedikitpun bagi para sahabat. Bahkan itu merupakan tambahan pahala dan keberuntungan bagi para sahabat, sebagaimana yang ditujukan sabda Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam dalam sebuah hadits yang sohih. Beliau shollallohu ‘alaihi wasallam bertanya kepada para sahabatnya : “Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut?”

Para sahabat menjawab : “Menurut kami, orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta kekayaan.”

Maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَزَكَاةٍ وَصِيَامٍ ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ عِرْضَ هَذَا ، وَقَذَفَ هَذَا ، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا ، وَضَرَبَ هَذَا ؛ فَيَقْعُدُ فَيَقْتَصُّ هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ ، قَبْلَ أَنْ يَقْضِيَ مَا عَلَيْهِ مِنَ الْخَطَايَا ، أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ ، فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

Sesungguhnya umatku yang bangkrut adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan shalat, puasa, dan zakat, tetapi ia selalu mencaci-maki, menuduh, dan makan harta orang lain serta membunuh dan menyakiti orang lain. Setelah itu, pahalanya diambil untuk diberikan kepada setiap orang dari mereka hingga pahalanya habis, sementara tuntutan mereka banyak yang belum terpenuhi. Selanjutnya, sebagian dosa dari setiap orang dari mereka diambil untuk dibebankan kepada orang tersebut, hingga akhirnya ia dilemparkan ke neraka. (HR.Muslim no 2581)

Maka ini juga merupakan pintu lain bagi para sahabat Rosululloh untuk mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Allah, entah dari orang yang mendoakan keridhoan baginya ataupun dari orang yang memberikan celaan.

Adapun orang yang senantiasa mencela sahabat, maka mau tidak mau di akhirat nanti ia akan memberikan kebaikannya kepada orang yang ia cela sebagaimana yang dijelaskan sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam.

Kemudian, sesungguhnya keridhoan yang Allah berikan kepada para penghuni surga, yang Allah tidak akan murka selama-lamanya kepada mereka adalah buah ataupun hasil dari amalan perbuatan mereka. Tatkala mereka ridho terhadap Allah, maka Allah pun ridho terhadap mereka.

Adapun keridhoan yang merupakan amalan dari seorang hamba yang bertaqarrub kepada Allah terbagi menjadi dua jenis :

  1. Jenis pertama: Ridho kepada Allah (ar-ridho billah). Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan Abbas bin Abdul Mutthollib rodhiyallohu ‘anhu bahwa ia pernah mendengar Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda:

ذَاقَ طَعْمَ الإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُوْل

“Akan merasakan manisnya iman, orang yang ridha kepada Allah sebagai Robbnya dan Islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad sebagai rasulnya” (HR Muslim no. 34)

Dalam hadits ini terkandung empat perkara : ridho dengan Rububiyahnya Allah, ridho dengan uluhiyahnya Allah, ridho dengan rasul-Nya serta taat padanya, dan ridho dengan agama serta berserah diri dengannya.

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata : “Barang siapa yang terkumpul padanya empat perkara ini, maka ia adalah orang yang betul-betul mempercayai (shiddiq). Keempat hal ini amatlah mudah dilafalkan lisan, namun begitu berat dalam praktek dan penuh ujian. Apalagi ketika datang hal-hal yang disukai oleh hawa nafsu dan ia menuruti keinginannya, maka terlihat bahwa keridhoannya hanya sebatas ucapan lisan dan tidak sesuai dengan kenyataan”

– Ridho dengan Uluhiyah Allah berarti ridho dengan kecintaan terhadap Allah semata, seraya takut dan berharap serta kembali kepada-Nya. Beribadah kepada-Nya dengan penuh ketekunan dan mencondongkan keinginan dan amalan dengan penuh keridhoan. Dalam hal ini terkandung peribadatan dan keikhlasan kepada-Nya.

– Ridho dengan Rububiyah Allah meliputi ridho terhadap kekuasaan Allah dalam mengatur hamba-Nya. Termasuk juga di dalamnya adalah seorang hamba hanya bertawakkal dan meminta pertolongan hanya kepada Allah semata, serta bersandar hanya kepada-Nya. Dan juga hendaknya seorang hamba ridho dengan perlakuan Allah kepadanya.

Yang pertama merupakan keridhoan dengan apa yang Allah perintahkan kepadanya, sementara yang kedua adalah seorang hamba ridho dengan apa yang ditakdirkan atasnya.

-Ridho dengan Nabi Muhammad sebagai rosul-Nya meliputi ketundukan dan kepatuhan terhadap beliau. Kecintaan seorang hamba terhadap beliau harus diatas kecintaannya terhadap dirinya sendiri. Maka tidaklah ada petunjuk melainkan berasal dari kalimat-kalimat beliau dan tidaklah berhukum kecuali hukum yang dikembalikan kepadanya.

Seorang hamba juga tidak ridho dengan hukum yang berasal dari selain hukumnya, baik dalam menentukan asma dan sifat Allah maupun dalam hal-hal yang terkait dengan iman dan kedudukannya.

Tidak pula seorang hamba ridho dengan hukum yang berasal dari selain hukumnya baik dalam perkara yang dhahir maupun yang batin. Dan apabila seseorang tidak mampu berhukum dengan hukumnya (dalam artian ia berhukum dengan selain hukumnya) dalam kondisi terpaksa, maka keadaan terbaik baginya adalah bahwa hal ini diibaratkan seperti tanah. Tidaklah tanah itu digunakan untuk bersuci atau bertayammum kecuali manakala seseorang tidak mampu mempergunakan air untuk bersuci.

– Adapun keridhoan seorang hamba terhadap agamanya berarti apabila ada perkataan, atau sebuah hukum, atau perintah dan larangan, maka ia menerimanya dengan penuh keridhoan. Tidak ada pada hatinya suatu keberatan apapun dari apa yang telah ditentukan agama dan ia menerima dengan sepenuhnya meskipun hal itu bertentangan dengan keinginan dari hawa nafsunya. Atau meskipun hal itu bertentangan dengan ucapan guru-gurunya ataupun kelompoknya. (Madarijus Salikin 2/172-173)

Maka keridhoan terhadap Allah (ar-ridho billah) merupakan sebuah kewajiban yang telah Allah tetapkan bagi setiap muslim. Tidaklah ada keislaman ataupun keimanan melainkan dengan keridhoan terhadap-Nya.

Ridho bahwa Allah merupakan Rabb yang Maha Pencipta dan Pengatur alam semesta. Ridho bahwa Allah adalah sesembahan yang hak yang tidak ada sesembahan lain selain-Nya. Tidak pula menjadikan sekutu bagi Allah. Dan tidaklah sempurna keridhoan tergadap Allah melainkan juga harus diiringi dengan keridhoan terhadap agama dan nabi-Nya. Hal inilah yang terkumpul dalam hadits diatas, dimana keridhoan ini erat kaitannya dengan asma dan sifat Allah.

2. Jenis kedua : Keridhoan dari Allah (ar-ridho ‘anillah), yaitu keridhoan terhadap apa yang Allah lakukan untuk seorang hamba dan apa yang Allah berikan padanya. Keridhoan jenis yang kedua ini erat kaitannya dengan pahala dan balasan dari Allah, anugerah dan juga pertolongan-Nya.

Maka jenis keridhoan yang pertama adalah keridhoan yang pokok (asal), sementara jenis yag kedua merupakan cabangnya. Ridho yang pertama merupakan sebuah kewajiban berdasarkan kesepakatan para ulama, sementara keridhoan yang kedua – meskipun hal ini merupakan perkara yang mulia dan utama- tidaklah dituntut bagi hamba secara umum mengingat beban dan kesulitan yang ada padanya.

Ada pula kelompok yang mewajibkan jenis keridhoan yang kedua ini, akan tetapi yang terbaik dalam keadaan ini (ketika seseorang ditimpa kelemahan dan ketidakmampuan) adalah hendaknya ia bersabar, dan keridhoan amatlah dicintai. Siapa saja yang dianugerahi oleh Allah untuk bisa merealisasikan jenis keridhoan yang ini, maka ia telah mendapatkan kemenangan yang besar.

Kemudian ada baiknya bagi saya (penulis) untuk menutup risalah singkat ini dengan potongan syair yang begitu indah dari Mimiyah-nya Ibnul Qoyyim rohimahullah karena syair yang beliau tulis berkaitan dengan tema kita. Dan karena syair yang beliau tulis penuh dengan manfaat, pelajaran dan faedah yang mulia.

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata :

“Marilah bersegera menuju surga ‘Adn karena sesungguhnya,  Ia adalah rumah-rumahmu yang pertama dan di dalamnya terdapat kemah-kemah”

“Akan tetapi kita menahan musuh kita, apakah kita mengira bahwa kita akan kembali ke kampung halaman kita dan akan diterima”

“Mereka mengira bahwa seorang yang terasing adalah orang yang dijauhkan dan dimusuhi oleh kampung halaman kami dan ia menderita”

“Keterasingan mana yang melebihi keterasingan kami, yang musuh bisa berkuasa atas kami”

“Dan marilah bersegera menuju kebun-kebun surga dan kemah-kemahnya, marilah bersegera menuju kehidupan yang tidak akan pernah bosan di dalamnya”

“Marilah kita bersegera menuju pasar tempat orang-orang yang saling mencinta bertemu, itulah pasar yang oleh penduduknya telah diketahui”

“Apa yang engkau mau ambillah tanpa engkau membayarnya, karena para penjualnya telah membolehkan dan menyerahkannya”

“Marilah kita menuju hari tambahan, dimana kita bisa mengunjungi Rabb kita dan hari itu adalah musimnya”

“Marilah kita menuju sebuah lembah yang mewangi, dimana tanahnya lebih harum dari minyak yang paling harum”

“Mimbar-mimbarnya dari cahaya, dan peraknya begitu murni lagi tak pernah rusak”

“Di sekelilngnya terdapat tempat untuk duduk-duduk dan berkumpul yang harum, bagi siapa saja yang mendapat anugerah yang besar ini”

“Disana mereka bisa melihat Ar-Rohman yang Maha Mulia, layaknya melihat purnama penuh yang tak terhalangi”

“Dan layaknya melihat matahari terbit, yang tidak ada awan di ufuknya maupun mendung yang menutupi”

“Dan ketika mereka dalam kehidupan yang seperti itu, rizki senantiasa mengalir dan terbagi-bagi untuk mereka”

“Tiba-tiba nampak cahaya pada mereka dan mengatakan, kesejahteraan untuk kalian berbahagialah atas kenikmatan yang kalian dapat”

“Dia berkata : pintalah oleh kalian apapun yang kalian mau, sesungguhnya Aku Maha Pengasih terhadap apa yang kalian kehendaki”

“Kemudian mereka berkata : kami meminta keridhoan-Mu, karena Engkaulah yang Maha memberi keindahan dan Maha Pengasih”

“Maka Dia berikan pada mereka dan mempersaksikan pada mereka, Maha Tinggi Allah dan Allah Maha Mulia”

“Maka demi Allah, apa yang menghalangi seorang mukmin dari ini semua, ia tak berusaha untuk menggapainya”

“Sesungguhnya pertolongan itu datangnya dari Allah, dan sesungguhnya Dia mengkhususkannya bagi siapa saja yang Dia kehendaki”

 

 

Penutup :

Aku meminta kepada Allah, Rabb yang Maha Mulia, dengan nama-nama-Nya yang indah dan shifat-shifat-Nya yang agung, agar memberikan fadhilah-Nya kepada kita semua. Dan agar memberikan kenikmatan kepada kita untuk apa-apa yang Dia cintai dan ridhoi, dari ucapan-ucapan yang lurus dan amalan-amalan yang sholih. Semoga Allah menjadikan kita semua termasuk kedalam golongan orang-orang yang beruntung seperti firman-Nya :

يُبَشِّرُ‌هُمْ رَ‌بُّهُم بِرَ‌حْمَةٍ مِّنْهُ وَرِ‌ضْوَانٍ وَجَنَّاتٍ لَّهُمْ فِيهَا نَعِيمٌ مُّقِيمٌ ﴿٢١

Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari pada-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh didalamnya kesenangan yang kekal (QS At-Taubah :21)

Semoga Allah memberikan sholawat dan keberkahan atas nabi kita Muhammad dan keluarganya serta seluruh sahabatnya.[3]

 

 

                                          

 

 

[1]maksudnya adalah lebih besar dari surga dan seisinya

[2]Sebuah tempat berjarak 8 mil dari Madinah, kira-kira 20 km, ditempat itu berakhirnya kaum musyrikin dikejar pada saat perang Uhud (Lihat Mu’jamul Buldan 2/301)

[3]  Risalah ini bersumber dari ceramah yang disampaikan Syaikh Abdurrozzaq di Universitas Islam Madinah pada tanggal 13/5/1432 H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s