Pengertian dan macam-macam Thaharah

A. Pengertian Thaharah

Menurut bahasa (etimologi), thaharah berarti pembersihan dari segala kotoran yang tampak maupun yang tidak tampak.

Menurut pengertian syari’at (terminologi), thaharah berarti tindakan menghilangkan hadats dengan air atau debu yang bisa menyucikan. Juga berarti upaya meglenyapkan najis dan kotoran. Berarti, thaharah menghilangkan sesuatu yang ada di tubuh yang menjadi penghalang bagi pelaksanaan shalat dan ibadah semisalnya. [Lihat kitab al-Mughni (II/12) karya Ibnu Qudamah. Juga kitab Taudhiihul Ahkam min Buluughil Maraam karya Abdullah al-Basam (I/87).]

B. Dua Macam Thaharah: Batin dan Lahir

1. Thaharah barin spiritual, yaitu dari kemusyrikan dan kemaksiatan. Dilakukan dengan cara bertauhid dan beramal shalih. Ini lebih penting daripada thaharah fisik, bahkan thaharah badan tidak mungkin bisa terwujud jika masih terdapat najis kemusyrikan.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ

Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis 
(QS At-Taubah : 28)
Ada dua pendapat ulama tentang ayat ini:
Pendapat pertama : Tubuh dan jasad kaum musyrikin (demikian juga diqiaskan kepada seluruh orang kafir yang lain dari agama apapun) adalah najis. Mereka berargumentasi dengan dhohirnya ayat di atas.
Pendapat kedua : Yang dimaksud dengan ayat di atas bahwasanya kaum musyrikin najis keyakinannya. Jadi najis di sini adalah najis maknawi (abstrak) bukan secara hisii (konkrit). Oleh karenanya Allah menyatakan dalam firmanNya :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالأنْصَابُ وَالأزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah rijs (najis),  termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.
(QS Al-Maaidah : 90)

Allah menyatakan bahwa perjudian, berhala, dan mengundi nasib adalah najis, maksudnya adalah najis maknawi bukan dzatnya yang najis. Maka demikian pula dengan najisnya kaum musyrikin yaitu najis maknawi, najis aqidahnya dan bukan najis dzatnya.

Dalil-dalil yang mendukung pendapat ini adalah :

Pertama : Allah menghalalkan sembelihan ahlul kitab, dan juga menghalalkan untuk menikahi wanita ahlul kitab.

الْيَوْمَ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُحْصَنَاتُ مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِذَا آتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحْصِنِينَ غَيْرَ مُسَافِحِينَ وَلا مُتَّخِذِي أَخْدَانٍ

Pada hari ini Dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (dan Dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. (Al-Maidah : 5)

Tentunya jika tubuh mereka najis maka tidak mungkin diperbolehkan hasil sembelihan mereka yang tentu saja tersentuh dengan tangan-tangan mereka, apalagi dihalalkan untuk bersetubuh dengan mereka?

Kedua : Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasukan sebagian orang musyrik di Masjid, kalau seandainya tubuh orang musyrik najis tentunya Nabi tidak akan membiarkan mereka menajisi mesjid (lihat Al-Mabshuuth 1/47, Badaai’ As-Shnaai’ 1/64). Dalil-dalil yang menunjukan akan hal ini diantaranya :

Imam Al-Bukhari memberi judul sebuah bab dalam kitab shahihnya dengan judul بَاب دُخُولِ الْمُشْرِكِ الْمَسْجِدَ “Bab Masuknya seorang musyrik dalam masjid“, lalu beliau membawakan sebuah hadits dari Abu Hurairoh radhiallahu ‘anhu, beliau berkata :

بَعَثَ رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم خَيْلًا قِبَلَ نَجْدٍ فَجَاءَتْ بِرَجُلٍ من بَنِي حَنِيفَةَ يُقَالُ له ثُمَامَةُ بن أُثَالٍ فَرَبَطُوهُ بِسَارِيَةٍ من سَوَارِي الْمَسْجِدِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus pasukan berkuda ke arah Najd, maka pasukan tersebut membawa seseorang dari bani Hanifah, orang tersebut bernama Tsumamah bin Utsaal, maka mereka pun mengikatnya di salah satu tiang masjid” (Shahih Al-Bukhari no 457).

Dalam riwayat yang lain Tsumamah diikat di tiang mesjid selama tiga hari, dan pada hari ketiga maka iapun masuk Islam (Lihat Shahih Al-Bukhari no 4114)

Imam An-Nawawi berkata, “Hadits ini menunjukan bolehnya mengikat tawanan dan menahannya, serta bolehnya memasukkan orang kafir dalam masjid. Dan Madzhab Imam As-Syafi’i adalah bolehnya memasukan orang kafir dalam mesjid dengan idzin seorang muslim, sama saja apakah orang kafir tersebut dari kalangan Ahlul Kitab atau selain mereka” (Al-Minhaaj syarh Shahih Muslim 12/87, lihat perkataan Imam As-Syafi’i dalam Al-Umm 1/54)

Demikian juga Imam Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya memberi judul sebuah bab dengan judul :

بَابُ الرُّخْصَةِ فِي إِنْزَالِ الْمُشْرِكِيْنَ الْمَسْجِدَ غَيْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِذَا كَانَ ذَلِكَ أَرْجَا لإسْلاَمِهِمْ وَأَرَقَّ لِقُلُوْبِهِمْ إِذَا سَمِعُوا الْقُرْآنَ وَالذِّكْرَ

Bab rukhsohnya memasukan kaum musyrikin ke dalam masjid selain al-masjid al-haroom jika dengan hal itu diharapkan mereka lebih mudah masuk islam dan lebih melembutkan hati mereka tatkala mereka mendengar Al-Qur’an dan dzikir (mau’idzoh)

Lalu beliau membawakan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Utsmaan bin Abil ‘Aash

اَنَّ وَفْدَ ثَقِيفٍ قَدِمُوا على رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَأَنْزَلَهُمُ الْمَسْجِدَ لِيَكُونَ أَرَقَّ لِقُلُوبِهِمْ

“Bahwasanya utusan suku Tsaqiif datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Nabipun memasukan mereka ke dalam mesjid agar hati mereka lebih lembut” (Shahih Ibnu Khuzaimah 2/285 no 1328, dan diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya 4/218, Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubro no 4131 dan At-Thobroni dalam Al-Mu’jam Al-Kabiir no 8372)

Ketiga : 
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan bejana orang musyrik. Dalam sebuah hadits yang panjang disebutkan …

فَاشْتَكَى إليه الناس من الْعَطَشِ فَنَزَلَ فَدَعَا فُلَانًا …عَلِيًّا فقال اذْهَبَا فَابْتَغِيَا الْمَاءَ فَانْطَلَقَا فَتَلَقَّيَا امْرَأَةً بين مَزَادَتَيْنِ أو سَطِيحَتَيْنِ من مَاءٍ على بَعِيرٍ لها فَقَالَا لها أَيْنَ الْمَاءُ قالت عَهْدِي بِالْمَاءِ أَمْسِ هذه السَّاعَةَ وَنَفَرُنَا خلوف قالا لها انْطَلِقِي إِذًا قالت إلى أَيْنَ قالا إلى رسول اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قالت الذي يُقَالُ له الصَّابِئُ قالا هو الذي تَعْنِينَ فَانْطَلِقِي فَجَاءَا بها إلى النبي صلى الله عليه وسلم وَحَدَّثَاهُ الحديث قال فَاسْتَنْزَلُوهَا عن بَعِيرِهَا وَدَعَا النبي صلى الله عليه وسلم بِإِنَاءٍ فَفَرَّغَ فيه من أَفْوَاهِ الْمَزَادَتَيْنِ أو سَطِيحَتَيْنِ وَأَوْكَأَ أَفْوَاهَهُمَا وَأَطْلَقَ الْعَزَالِيَ وَنُودِيَ في الناس اسْقُوا وَاسْتَقُوا فَسَقَى من شَاءَ وَاسْتَقَى من شَاءَ وكان آخِرُ ذَاكَ أَنْ أَعْطَى الذي أَصَابَتْهُ الْجَنَابَةُ إِنَاءً من مَاءٍ قال اذْهَبْ فَأَفْرِغْهُ عَلَيْكَ وَهِيَ قَائِمَةٌ تَنْظُرُ إلى ما يُفْعَلُ بِمَائِهَا وأيم اللَّهِ لقد أُقْلِعَ عنها وَإِنَّهُ لَيُخَيَّلُ إِلَيْنَا أنها أَشَدُّ مِلْأَةً منها حين ابْتَدَأَ فيها فقال النبي صلى الله عليه وسلم اجْمَعُوا لها فَجَمَعُوا لها من بَيْنِ عَجْوَةٍ وَدَقِيقَةٍ وَسَوِيقَةٍ حتى جَمَعُوا لها طَعَامًا فَجَعَلُوهَا في ثَوْبٍ وَحَمَلُوهَا على بَعِيرِهَا وَوَضَعُوا الثَّوْبَ بين يَدَيْهَا قال لها تَعْلَمِينَ ما رَزِئْنَا من مَائِكِ شيئا وَلَكِنَّ اللَّهَ هو الذي أَسْقَانَا فَأَتَتْ أَهْلَهَا وقد احْتَبَسَتْ عَنْهُمْ قالوا ما حَبَسَكِ يا فُلَانَةُ قالت الْعَجَبُ لَقِيَنِي رَجُلَانِ فَذَهَبَا بِي إلى هذا الذي يُقَالُ له الصَّابِئُ فَفَعَلَ كَذَا وَكَذَا فَوَاللَّهِ إنه لَأَسْحَرُ الناس من بَيْنِ هذه وَهَذِهِ وَقَالَتْ بِإِصْبَعَيْهَا الْوُسْطَى وَالسَّبَّابَةِ فَرَفَعَتْهُمَا إلى السَّمَاءِ تَعْنِي السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ أو إنه لَرَسُولُ اللَّهِ حَقًّا

“Orang-orang mengeluhkan kepada Nabi tentang rasa haus yang mereka rasakan, maka Nabi pun memanggil Ali bin Abi Tholib dan seorang sahabat yang lain lalu Nabi memerintahkan mereka berdua untuk mencari air. Maka berjalanlah mereka berdua, lalu mereka bertemu dengan seorang wanita yang berada di antara dua tempat air -yang terbuat dari kulit- di atas onta wanita tersebut. Maka mereka berdua pun berkata kepadanya : “Dari mana airnya?”, maka wanita tersebut berkata, “Terakhir saya melihat air yaitu kemarin pada saat seperti sekarang ini, dan para lelaki telah pergi meninggalkan kami” (dalam riwayat lain : Mereka berdua berkata, “Mana airnya?”, wanita itu berkata, “Tidak ada air untuk kalian”. Maka mereka berdua berkata, “Berapa jauh jarak antara tempat keluarga kalian dari tempat air?”, wanita itu berkata, “Jarak perjalanan sehari semalam”). Mereka berdua berkata, “Berjalanlah!”, sang wanita berkata, “Kemana?”, mereka berdua berkata, “Ke Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam”. Wanita itu berkata, “Apakah dia adalah orang yang disebut sebagai soobi’ (orang yang keluar dari adat nenek moyangnya)?”. Mereka berdua berkat, “Dialah yang engkau maksudkan”.

Merekapun membawa wanita itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mereka mengabarkan kepada Nabi apa yang terjadi. Lalu mereka meminta sang wanita untuk turun dari ontanya, lalu Nabi sallallahu a’laihi wa sallam meminta sebuah bejana kecil, lalu beliau menumpahkan air dari bejana tersebut ke mulut dua tempat air milik sang wanita tersebut (Dalam riwayat lain : Nabi mengambil air dari dua tempat air tersebut lalu beliau berkumur-kumur, lalu menumpahkan kembali kumuran beliau ke kedua tempat air tersebut). Lalu beliau menutup dengan kencang mulut dua tempat air tersebut dan membuka sumbat yang terdapat di bawah dua tempat air yang terbuat dari kulit tersebut sehingga mengalirlah air dari dua tempat air tersebut. Lalu diserukan kepada para sahabat “Minumlah…!! Dan ambillah air..!!” Maka datanglah orang-orang minum dan mengambil air dari dua tempat air tersebut. Orang yang terakhir diberi air adalah seorang yang junub. Nabi memberikan satu bejana air dari dua tempat air tersebut dan berkata kepadanya “Guyurkanlah air ini pada dirimu”. Semua kejadian ini disaksikan oleh sang wanita yang sedang berdiri memperhatikan apa yang terjadi dari air miliknya. Demi Allah air tersebut telah tertahan dari sang wanita (sehingga terus mengalir-pen), akan tetapi menyangka bahwasanya air yang tersisa di kedua tempat air tersebut lebih banyak dan lebih penuh daripada sebelumnya. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Kumpulkan (makanan) untuk wanita ini!”. Maka para sahabat pun mengumpulkan makanan untuknya seperti korma ‘ajwah, tepung, dan sawiq (makanan dari gandum). Hingga akhirnya mereka mengumpulkan makanan dan diletakkan di atas kain lalu dinaikan ke onta wanita tersebut di hadapan wanita tersebut. Nabipun berkata kepadanya, “Tahukah engkau bahwasanya kami tidak mengurangi airmu sedikitpun?, akan tetapi Allah-lah yang telah memberi air bagi kami”. Lalu wanita tersebut pulang ke keluarganya dalam keadaan terlambat, maka mereka pun berkata kepadanya, “Apa yang membuatmu datang terlambat?”, Wanita itu berkata, “Suatu keajaiban, aku bertemu dengan dua orang lelaki, lalu mereka membawaku kepada orang yang disebut sebagai soobi’ lalu orang itupun melakukan begini dan begitu…, demi Allah orang itu adalah orang yang paling pandai menyihir di antara ini dan itu”. Sang wanita memberi isyarat dengan dua jarinya yaitu jari telunjuk dan jari tengah, lalu ia mengangkat kedua jarinya tersebut ke arah langit dan berkata, “Dia adalah sungguh-sungguh utusan Allah” (HR Al-Bukhari no  337)

Pada hadits di atas jelas bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan bejana (tempat) air milik wanita musyrik, yang kemudian wanita inipun akhirnya mengakui kerasulan Nabi.

Kesimpulan :

-         Dari tiga dalil di atas sangat jelas bahwasanya orang kafir tidaklah najis tubuh mereka, yang najis adalah aqidah mereka.

-         Adapun kisah Ummu Habibah radiallahu ‘anhaa maka dibawakan kepada makna bahwasanya ia tidak ingin ayahnya (Abu Sufyan yang tatkala itu masih musyrik) yang najis aqidahnya untuk duduk di dipan (tikar) milik seorang Nabi, karena dipan tersebut khusus ditempati oleh nabi. Dan bukanlah maksud Ummu Habibah ayahnya najis badannya, karena kalau seandainya ayahnya najis badannya tentunya ia akan melarang ayahnya masuk ke dalam rumahnya. Namun ternyata Ummu Habibah tetap membiarkan ayahnya masuk dalam rumahnya, hanya saja ia tidak mengizinkan ayahnya untuk duduk di tikar atau dipan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

-         Dari penjelasan ini maka sangatlah jelas kesalahan yang dilakukan oleh sebuah kelompok Jama’ah Islam yang dikenal oleh masyarakat bahwasanya jika ada orang dari luar golongan mereka yang bertamu di rumah mereka maka setelah orang tersebut keluar dari rumah mereka serta-merta merekapun mengepel bekas duduk orang tersebut karena dikhawatirkan membawa najis karena toharohnya tidak mangkul…???. Subhaanallah.. adapun mereka entah mangkul dari mana??, sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah mengepel mesjid yang dimasuki oleh orang musyrik penyembah berhala?, apalagi orang muslim??!! Hanya karena tidak mangkul??. Nabipun tidak pernah memerintahkan sebagian sahabat yang menikah dengan wanita ahlul kitab untuk senantiasa mengepel bekas wanita tersebut??, apalagi mengepel tempat tidurnya –yang tentunya selalu ditiduri oleh suaminya muslim-?, apalagi mengepel dan merinso jasad sang wanita ahlul kitab tersebut karena najis???. Ataukah menurut Islam Jam’ah wanita Ahlul kitab dan orang musyrik thaharohnya mangkul sehingga tidak perlu acara mengepel-ngepel??

Sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُ لاَ يَنْجُسُ

Sesungguhnya orang Mukmin itu tidak najis” (Muttafaqun ‘alaihi: diriwayatkan Bukhari dalam kitab “al-Ghusl”, bab “Araqul Juubi wa annal Muslim laa Yanjus,” no. 283. Dan Muslim dalam kitab “al-Haidh,” bab “ad-Dalil ‘alaa annal Muslim laa Yanjus,” no. 371).

Oleh karena itu, setiap mukallaf berkewajiban untuk menyucikan hatinya dari najis kemusyrikan dan keraguan. Hal itu dapat diwujudkan dengan keikhlasan, tauhid, dan keyakinan. Selain hal itu, mereka juga harus membersihkan diri dan hatinya dari kotoran kemaksiatan, pengaruh dengki dan iri, kecurangan, suap-menyuap, sombong, ujub, riya’, dan sum’ah. Hal itu dapat dilakukan dengan taubat yang sebenarnya dari segala macam dosa dan kemaksiatan. Thaharah ini merupakan sebagian dari iman. Sedangkan sebagian lainnya adalah thaharah fisik atau lahir.

2. Thaharah fisik, yaitu bersuci dari berbagai hadats dan najis. Dan yang merupakan bagian kedua dari iman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Bersuci itu setengah dari iman” (HR Muslim dalam kitab “ath-Thaharah”, bab “Fadhlul Wudhu'”, no. 223.

Thaharah yang kedua ini dilakukan dengan cara yang telah disyari’atkan oleh Allah Ta’ala berupa wudhu’, mandi, dan tayammum pada saat tidak ada air, menghilangkan najis dari pakaian, badan, dan tempat shalat. (lihat kitab asy-Syarhul Mumtii ‘alaa Zaadil Mustaqni’, karya Ibnu ‘Utsaimin (I/19). Minhajul Muslim, Abu Bakar al-Jaza’iri, hal. 170. Juga Syarah ‘Umdatil Ahkam lil Maqdisi, karya al-‘Allamah Ibnu Baaz, hal 2, manuskrip di perpustakaan khusus Dr. Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthani)

C. Thaharah Dilakukan dengan Dua Cara

1. Thaharah dengan menggunakan air. Dan inilah yang pokok. Dengan demikian, setiap air yang turun dari langit atau keluar dari perut bumi adalah dalam posisi dasar penciptaannya, yaitu dapat menyucikan: menyucikan dari hadats dan kotoran, meski telah mengalami perubahan rasa atau warna atau baunya oleh sesuatu yang bersih. Hal itu berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

“Sesungguhnya air itu dapat menyucikan, yang tidak bisa dibuat najis oleh sesuatu” (HR Abu Dawud dalam kitab “at-Thaharah”, bab “Maa Jaa’a Annal Maa-a Laa Yunajjisuhu Syai’un”, no. 67. At-Tirmidzi dalam kitab “al-Miyaah”, bab “Dzikru Fa ii Bi’ri Bidha’ah” no. 325. Dan dinilai shahih oleh Ahmad. Juga dinilai shahih oleh al-Albani dalam kitab Shahih Sunan Abi Dawud (I/16).

Diantara air tersebut adalah air hujan, air dari sumber mata air, air sumur, air sungai, air lembah, air salju yag mencair, dan air laut. Berkenaan dengan air laut, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Laut itu airnya bisa menyucikan dan bangkainya pun halal” (HR Abu Dawud dalam kitab “ath-Thaharah”, bab “al-Wudhu’ bi Maa-il Bahr” no. 83. At-Tirmidzi dalam kitab “ath-Thaharah” bab “Maa Jaa’a Fii Maa-il Bahr Annahu Thahurun” no. 69. An-Nasa-i dalam kitab “al-Miyaah” bab “al-Wudhu’ bi Maa-il Bahr” no.321. Ibnu Majak dalam kitab “ath-Thaharah wa Sunnatuha” bab “al-Wudhu’ bi Maa-il Bahr” no. 386. Menurut at-Tirmidzi, hadits ini hasan shahih. Dan dinilai shahih oleh al-Albani dalam kitab Shahih Sunan Abi Dawud (I/19), dan juga kitab Silsilatul Ahaadiits ash-Shahihah no. 480.

Adapun air Zam-zam telah ditetapkan dalam hadits ‘Ali: “Bahwa Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mita dibawakan satu timba air Zam-zam, lalu air tersebut beliau gunakan/pakai untuk minum dan berwudhu’” (HR Imam Ahmad dalam kitab Zawa-idul Musnad (I/76), dan dinilai shahih oleh al-Albani dalam kitab Irwaa-ul Ghaliil (I/45) no. 13, dan juga kitab Tamaamul Minnah, hal. 46.

Akan tetapi, jika air itu berubah warna, rasa, atau baunya yang disebabkan oleh suatu najis, menurut ijma’ ulama, air itu pu menjadi najis yang harus dihindari (Lihat kitab Fataawa Ibni Taimiyyah (XXI/30). Dan juga dalam kitab Subuhus Salaam Syarhu Buluughil Maraam karya ash-Shan’ani (I/22).

2. Thaharah dengan menggunakan debu yang suci. Thaharah ini merupakan ganti dari thaharah dengan air jika tidak memungkinkan bersuci dengan menggunakan air pada bagian-bagian yang harus disucikan, atau karena ketiadaan air, atau karena tahut bahaya yang diakibatkan oleh penggunaan air, sehingga dapat digantikan oleh debu yag suci (lihat: Minhajus Saalikin Taudhiihul Fiqh fid Diin karya al-‘Allamah ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’adi, hal.13.

3 thoughts on “Pengertian dan macam-macam Thaharah

      • Pertanyaan:

        Apakah mandi junub memakai air hangat itu sah?

        Dari: Yazid

        Jawaban:

        Bismmillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah

        Bagi orang junub yang tidak memungkinkan untuk mandi dengan air dingin, dibolehkan menggunakan air hangat.

        Di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah

        Dari Aslam Al-Qurasyiy Al-’Adawy, mantan budak Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu beliau bercerita:

        أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ كَانَ يَغْتَسِلُ بِالْمَاءِ الْحَمِيمِ

        “Sesungguhnya Umar dahulu mandi dari air yang hangat.” (HR. Abdurrazzaq dalam Mushannaf-nya 675, dan Ibnu Hajar mengatakan sanadnya shahih Fathul Bari, 1:299)

        Ibnu Hajar menjelaskan:

        وأما مسألة التطهر بالماء المسخن فاتفقوا على جوازه الا ما نقل عن مجاهد

        “Masalah bersuci dengan air hangat, para ulama sepakat bolehanya kecuali riwayat yang dinukil dari Mujahid.” (Fathul Bari, 1:299)

        Kemudian diriwayatkan dari Atha’ bahwa beliau mendengar Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma mengatakan:

        «لَا بَأْسَ أَنْ يُغْتَسَلَ بِالْحَمِيمِ وَيُتَوَضَّأُ مِنْهُ»

        “Boleh seseorang mandi atau wudhu dengan air hangat.” (HR. Abdurrazzaq dalam Mushannaf-nya, 677).

        Adapun hadis dari Aisyah radhiallahu ‘anha, yang mengatakan,

        دَخَلَ عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ سَخَّنْتُ مَاءً فِي الشَّمْسِ ، فَقَالَ : لَا تَفْعَلِي يَا حُمَيْرَاءُ فَإِنَّهُ يُورِثُ الْبَرَصَ

        Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam- masuk menemuiku sementara saya telah menghangatkan air dengan sinar matahari. Maka beliau bersabda, “Jangan kamu lakukan itu wahai Humaira (Aisyah) karena itu bisa menyebabkan penyakit sopak.”

        Hadis ini disebutkan oleh Ad-Daraquthni (1:38), Ibnu Adi dalam Al-Kamil 3:912, dan Al-Baihaqi 1:6 dari jalan Khalid bin Ismail dari Hisyam bin Urwah dari ayahnya dari Aisyah.

        Tentang Khalid bin Ismail, Ibnu Adi berkomentar:

        كَانَ يَضَعُ الْحَدِيثَ

        “Dia telah memalsukan hadis”

        Dalam sanad yang lain, hadis ini juga diriwayatkan dari jalur Wahb bin Wahb Abul Bukhtari dari Hisyam bin Urwah. Ibnu Adi mengatakan: “Wahb lebih buruk dari pada Khalid.”

        Kesimpulannya, hadis ini tidak bisa jadi dalil karena statusnya hadis yang lemah.

        Demikian keterangan Ibnu Hajar di At-Talkhish Al-Habir, 1:21.

        Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah)

        Baca selengkapnya: http://www.konsultasisyariah.com/mandi-junub-dengan-air-hangat/#ixzz2GjY0GYFp

        Read more about FIKIH by http://www.konsultasisyariah.com

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s